oleh

11 Februari, Peringatan ‘International Day of Women and Girls in Science’

PENANEGERI, Internasional -Saatnya untuk terus mendukung terhadap para wanita dan anak perempuan yang ingin melanjutkan karir dalam penelitian ilmiah (Science).

Hal ini dinyatakan oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres mengatakan dalam sebuah pesan untuk menandai Hari Perempuan dan Anak Internasional dalam Sains (International Day of Women and Girls in Science) yang diperingati setiap tanggal 11 Februari, setiap tahunnya.

Sekjen PBB António Guterres mengatakan bahwa walaupun anak perempuan dan anak laki-laki memiliki potensi untuk mengejar ambisi mereka dalam sains dan matematika, baik di sekolah dan di tempat kerja, diskriminasi sistematis masih ada bahwa perempuan menempati kurang dari 30 persen pekerjaan penelitian dan pengembangan di seluruh dunia.

“Kita perlu mendorong dan mendukung anak perempuan dan perempuan mencapai potensi penuh mereka sebagai peneliti ilmiah dan inovator. Wanita dan anak perempuan membutuhkan ini, dan dunia membutuhkan ini, jika kita ingin mencapai ambisi kita untuk pembangunan berkelanjutan di planet yang sehat,” katanya, seperti dirilis oleh situs resmi PBB.

Sekjena PBB juga menyerukan “upaya terpadu dan konkret” untuk mengatasi stereotip dan bias, seperti representasi media dari ilmuwan dan inovator yang terutama kebanyakan adalah laki-laki.

Dalam sebuah pernyataan bersama pada hari itu, Direktur Jenderal UNESCO (UN Educational, Scientific and Cultural Organization) atau Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO), Audrey Azoulay, dan Direktur Eksekutif Perempuan PBB (UN Women), Phumzile Mlambo-Ngcuka, menekankan bahwa citra semacam itu menyulitkan anak perempuan, untuk percaya bahwa anak perempuan juga bisa menjadi ilmuwan, penjelajah atau penemu, misalnya.

Mereka mengatakan bahwa masa depan akan ditandai dengan kemajuan ilmiah dan teknologi yang “akan menjadi yang terhebat saat memanfaatkan bakat, kreativitas, dan gagasan penuh perempuan dan anak perempuan dalam sains.”

Mereka menambahkan bahwa sektor sains dan teknologi yang berkembang pesat “penting” bagi ekonomi nasional.

Namun, data UNESCO hanya menunjukkan sekitar 30 persen dari semua siswa perempuan di pendidikan tinggi memilih untuk menekuni apa yang disebut mata pelajaran STEM (science, technology, engineering or mathematics) atau sains, teknologi, teknik atau matematika.

Salah satu alat utama untuk mengatasi ketidaksetaraan gender dalam sains adalah membongkar hambatan bagi anak perempuan dan perempuan, di rumah, di kelas dan di tempat kerja. Hal ini membutuhkan perubahan sikap dan tantangan stereotip, kata mereka.

“Kita perlu mengatasi persepsi yang bias antara guru, pengusaha, rekan kerja dan orang tua tentang kesesuaian anak perempuan dan remaja putri untuk belajar sains – atau belajar sama sekali – untuk mengejar karir ilmiah atau memimpin dan mengelola bidang akademik,” para pejabat PBB menekankan .

Mereka kemudian menekankan bahwa: “Menangani beberapa tantangan terbesar dari Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan – dari peningkatan kesehatan untuk memerangi perubahan iklim – akan bergantung pada pemanfaatan semua talenta.”

“Itu berarti kita perlu mencapai peningkatan yang signifikan dalam jumlah wanita yang masuk dan berkarir dalam STEM.”

Pada bulan Desember 2015, Majelis Umum PBB (UN General Assembly) mengadopsi sebuah resolusi yang menetapkan adanya Hari Internasional tahunan yakni ‘International Day of Women and Girls in Science’, yang diperingati setiap 11 February, guna mengenali peran penting para perempuan dan para anak perempuan di komunitas kelimuan sains dan teknologi (science and technology). (*)

Komentar

Berita Terbaru