oleh

13 Orang Marinir Filipina tewas dalam pertempuran di Kota Marawi

PENANEGERI, Desk Internasional- Sedikitnya 13 marinir Filipina tewas pada hari Jumat karena pertempuran melawan milisi di Marawi.

Jumlah Korban tewas diberikan oleh tentara Filipina pada hari Sabtu (10/6), yang juga mengatakan bahwa setidaknya 40 orang tentara Filipina lainnya terluka dalam sebuah pertempuran 16 jam terhadap anggota kelompok Maute.

“Ada pertarungan sengit dari rumah ke rumah antara marinir dan kelompok teroris lokal,” kata Jo-Ar Herrera, juru bicara militer, dalam sebuah konferensi pers.

Militer pada hari Sabtu mengatakan 13 tentara pemerintah tewas pada hari Jumat malam dalam serangan terhadap milisi yang terkait dengan teroris ISIS  di Kota Marawi.

Juru bicara Divisi Infanteri 1 Angkatan Darat Filipina Letnan Kolonel Jo-Ar Herrera mengatakan bahwa korban tewas adalah Marinir yang menyelamatkan warga sipil yang terjebak di kota Marawi yang dilanda konflik.

“Kami sedih dengan hasil bahwa kami memiliki korban jiwa di pihak pemerintah,  13 orang yang telah beraksi dan kami masih menunggu laporan mengenai tindakan bagi yang terluka,” kata Herrera dalam sebuah konferensi pers.

Baca Juga  Darurat Militer di Mindanao Diperpanjang Hingga 2018

Herrera mengatakan bahwa pasukan memiliki kesulitan dalam menyelamatkan warga sipil yang terjebak karena para milisi berada pada posisi  di masjid dan menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia.

Gelombang baru korban di pihak tentara pemerintah Filipina  ini terjadi beberapa jam setelah pejabat militer mengumumkan rencana mereka untuk membebaskan Kota Marawi dari teroris pada 12 Juni, bertepatan Hari Kemerdekaan Filipina.

Serangan tersebut terjadi pada saat penangkapan ibu  keluarga Maute, Ominta Romato “Farhana” Maute, pada hari Jumat (9/6) siang.

Ibu Maute Brothers, Farhana Maute dan dua anggota kelompok Maute lainnya yang terluka ditangkap setelah kendaraan mereka dicegat di wilayah Masiu, demikian papar Direktur Kepolisian Daerah ARMM Reuben Theodore Sindac kepada wartawan.

Penangkapan ibunda maute Brothers ini bisa membuat demoralisasi anggota kelompok Maute atau mungkin mendorong kelompok tersebut untuk menjadi lebih agresif, kata sumber.

Anggota keluarga Maute lainnya yakni Patriark Maute, Cayamora Maute, juga ditangkap Selasa pagi di sebuah pos pemeriksaan di Sirawan, Toril, Davao City.

Baca Juga  Pemerintah Filipina Tolak Negosiasi dengan Kelompok Militan Maute di Marawi

Bentrokan antara pasukan pemerintah dan kelompok milisi Maute dan Abu Sayyaf terjadi pada 23 Mei, saat pasukan negara berusaha untuk menangkap pemimpin milisi Marawi, Isnilon Hapilon.

Pejabat Filipina mengatakan sekitar 500 sampai 1.000 warga sipil masih terjebak di area yang diduduki oleh para milisi, yang juga menjadi arera pengeboman udara berat pada hari Jumat (9/6).

Sedikitnya 200 orang, termasuk tentara, orang bersenjata dan warga sipil telah terbunuh dan lebih dari 200.000 orang mengungsi.

Dukungan AS untuk Filipina

Saat pertempuran meningkat, Amerika Serikat mengatakan pada hari Sabtu bahwa pasukan khususnya memberikan dukungan teknis kepada militer Filipina di Kota Marawi.

“Pasukan operasi khusus AS membantu angkatan bersenjata Filipina di Marawi atas permintaan pemerintah Filipina”, kata seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya kepada kantor berita Reuters.

Pejabat tersebut tidak memberikan rincian keterlibatan AS, namun sebuah rencana pengawasan AS terlihat terbang di atas Marawi pada hari Jumat (9/6). Namun tidak ada bukti bahwa Washington telah menempatkan pasukan di lapangan di Marawi.

Baca Juga  Dua Pentolan Milisi Pemberontak Ditewaskan Militer Filipina di Marawi

AS mengkonfirmasikan bahwa pihaknya ‘membantu’ tentara Filipina di Marawi yang terkepung di mana pertempuran pecah lebih dari dua minggu yang lalu.

Washington mengerahkan tentara pasukan khusus ke Mindanao pada tahun 2002 untuk melatih dan memberi saran kepada unit-unit Filipina untuk memerangi kelompok Abu Sayyaf dalam sebuah operasi yang pernah melibatkan 1.200 orang Amerika. Operasi gabungan Itu dihentikan pada tahun 2015 namun kehadiran sejumlah kecil militer AS tetap siaga untuk bantuan logistik dan dukungan teknis. Karena AS dan Filipina merupakan sekutu dekat selama ini. (*)

Komentar

Berita Terbaru