oleh

175 Orang Tewas dan 3.700 Orang Masih Terjebak di Marawi City

PENANEGERI, Desk Internasional – Jumlah korban tewas dalam pertempuran serta pengepungan Marawi City telah mencapai angka 175 orang, setelah 11 tentara lagi tewas pada hari Rabu, kata Angkatan Bersenjata Filipina (AFP), Jumat (2/6).

Juru BicaraArmed Forces of the Philippines AFP Brigadir Jenderal Restituto Padilla mengatakan bahwa jumlah korban tewas sipil dan milisi masih berada di posisi 19 dan 120 orang, sementara jumlah korban tewas dari pihak tentara pemerintah meningkat menjadi 36 orang, jadi total korban jiwa keseluruhan dari kedua belah pihak dan juga warga sipil adalah 175 jiwa.

Di antara korban tewas terakhir, 10 tentara Filipina tewas setelah sebuah pesawat tempur secara keliru menembak tentara di darat dengan sebuah bom konvensional, kata Padilla kepada pers di Filipina.

Sebuah pertempuran senjata kemudian membunuh tentara Filipina lainnya.

Padilla mengklarifikasi bahwa laporan sebelumnya dari 11 kematian akibat “tembakan teman” itu salah, karena salah satu dari orang-orang ini tampaknya tewas dalam baku tembak yang meletus setelah serangan udara yang salah sasaran itu. Jadi 10 yang tewas akibat tembakan serangan udara salah sasaran tersebut.

Baca Juga  Dua Pentolan Milisi Pemberontak Ditewaskan Militer Filipina di Marawi

Dia mengatakan Dewan Penyelidik angkatab bersenjata Filipina telah bertugas untuk menginvestigasi insiden tersebut.

Padilla mengatakan bahwa pasukan terus melakukan operasi pembersihan di Kota Marawi, karena para teroris termasuk anggota kelompok Maute dan Abu Sayyaf tetap bersembunyi di bangunan beton guna bersemebunyi dari serangan bom militer.

“Situasi di lapangan adalah penggunaan kekuatan-kekuatan ini, unsur-unsur bersenjata, anak-anak dan warga sipil ini sebagai tameng manusia,” kata Padilla.

3700 orang terjebak di Marawi City

Diperkirakan 3.700 orang masih terjebak di Marawi pada hari Kamis (1/6) saat pasukan pemerintah terus melakukan pertempuran senjata sporadis terhadap anggota kelompok Abu Sayyaf dan Maute di kota Islam tersebut, menurut Komite Internasional Palang Merah (ICRC), yang bekerja untuk memastikan evakuasi aman bagi mereka yang terjebak.

Pertarungan sejak 23 Mei telah menyulitkan daerah-daerah di mana warga sipil mencari perlindungan, namun ICRC mengatakan bahwa pihaknya dapat menyelamatkan 500 warga sipil setelah melakukan dialog dengan mereka yang terlibat dalam pertempuran tersebut, yang menyebabkan kerusakan besar di kota tersebut dalam reruntuhan.

Baca Juga  Lima Militan Bersenjata di Marawi Tewas

The Humanitarian and Emergency Action Response Team / Tim Respon Aksi Kemanusiaan dan The Autonomous Region in Muslim Mindanao (ARMM) / Daerah Otonom di Mindanao Muslim  pada hari Kamis (1/6) mengatakan telah mencatat sebanyak 218.665 orang terpaksa mengungsi akibat pertempuran tersebut pada 31 Mei 2017.

Hanya 30.645 orang atau 6.129 keluarga yang berlindung di pusat evakuasi di kota-kota terdekat seperti Iligan dan Cagayan de Oro dan sejauh Davao City. Mayoritas pengungsi telah mencari perlindungan di rumah-rumah kerabat.

ICRC mengatakan bahwa banyak pengungsi telah melarikan diri ke kota Saguiaran, sekitar 10 kilometer dari Marawi, dan Balo-i di Lanao del Norte, sekitar 21 km dari kota yang dikepung tersebut.

Presiden Rodrigo Duterte menempatkan Mindanao di bawah darurat militer setelah pasukan pemerintah bentrok dengan para milisi di Marawi.

Bentrokan tersebut meletus pada 23 Maret saat pasukan pemerintah berusaha untuk menangkap pemimpin tertinggi Abu Sayyaf di Marawi ,Isnilon Hapilon. (*)

Komentar

Berita Terbaru