oleh

31 Mei Hari Tanpa Tembakau Sedunia

PENANEGERI, Kesehatan – Menyebarkan pesan bahwa tembakau menyebabkan penyakit mematikan seperti penyakit jantung dan stroke, maka penyebaran pesan ini telah membantu mencegah kematian yang “tidak perlu”. Hal ini dinyatakan oleh para ahli kesehatan PBB mengatakan pada hari Kamis 31 Mei 2018, seperti dirilis oleh situs resmi PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Bertepatan dengan Hari Tanpa Tembakau Dunia 2018 (World No Tobacco Day 2018), yang diperingati setiap tanggal 31 Mei, Organisasi Kesehatan Dunia / World Health Organization (WHO) memperingatkan bahwa penggunaan tembakau dan paparan asap rokok kedua (orang yang tidak merokok namun terkena paparan asap rokok sebagai perokok pasif) adalah “penyebab utama” penyakit kardiovaskular, yang menyumbang angka kematian tiga juta orang per tahun di seluruh dunia.
Kurangnya kesadaran tentang risiko penggunaan tembakau, paling umum terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, demikian menurut Laporan Global WHO tentang Tren Prevalensi Tembakau Merokok 2000-2025 (WHO’s Global Report on Trends in Prevalence of Tobacco Smoking 2000-2025).

Di Cina, misalnya, lebih dari enam dari sepuluh orang tidak menyadari bahwa merokok dapat menyebabkan serangan jantung.

Di India dan Indonesia, sementara itu, lebih dari setengah dari semua orang dewasa tidak tahu bahwa kebiasaan merokok dapat menyebabkan penyakit stroke.

Dr. Douglas Bettcher, Direktur, Departemen Pencegahan Penyakit Tidak Menular di WHO (Director, Department for the Prevention of Noncommunicable Diseases at WHO), mengatakan kepada para jurnalis di Jenewa bahwa penggunaan tembakau menurun secara global tetapi masih menyebabkan kematian lebih dari tujuh juta orang per tahun.

Kemajuan tidak merata dalam melindungi konsumen dari industri tembakau, Dr. Bettcher menambahkan, menjelaskan bahwa negara-negara berpenghasilan tinggi membuat “kemajuan lebih cepat” daripada rekan mereka yakni negara yang lebih miskin dalam melindungi konsumen, sebagian karena peraturan yang lebih kuat.
Data terbaru dari laporan WHO menunjukkan bahwa ada sekitar 1,1 miliar perokok di dunia saat ini – jumlah yang sama seperti pada pergantian abad.

Meskipun tampaknya tidak ada kemajuan dalam menanggulangi jumlah total perokok, laporan itu menyoroti bahwa hanya satu dari lima orang yang merokok hari ini, dibandingkan dengan lebih dari satu dari empat orang, 18 tahun yang lalu. Penurunan ini tertutupi oleh populasi dunia yang terus bertambah, jelas Dr. Bettcher.
Mengomentari upaya untuk mendorong orang untuk berhenti merokok, ahli kesehatan PBB memperingatkan bahwa hanya sekitar 12 persen negara yang berada di jalur untuk memenuhi target global untuk mengurangi hingga sepertiga jumlah orang yang meninggal akibat penyakit tidak menular pada tahun 2030, sebagai bagian dari agenda Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals agenda).

Dalam upaya untuk mempromosikan kesehatan jantung, WHO menginginkan setiap satu dari 194 Negara Anggota untuk menerapkan serangkaian tindakan pengendalian tembakau yang semakin ketat.

Pengaturan ini termasuk membuat publik dalam ruangan dan tempat kerja bebas asap rokok dan bersikeras bahwa kemasan tembakau harus memuat peringatan yang menunjukkan risiko kesehatan bagi pengguna.

“Kabar baiknya adalah kematian ini dapat dicegah dan kami tahu apa yang harus dilakukan,” kata Dr Bettcher.

Ia menyebut negara Irlandia dan Uruguay sebagai negara yang telah mencapai tingkat pengendalian tembakau tertinggi (achieved the highest level of tobacco control), dan menambahkan keterangan bahwa sejak tahun 2007, jumlah orang di seluruh dunia yang diuntungkan dari langkah-langkah ini telah meningkat lebih dari empat kali lipat, dari satu miliar menjadi lima miliar jiwa. (*)

Komentar

Berita Terbaru