oleh

AJI : Polisi Pelaku Kekerasan Terbanyak Terhadap Jurnalis

PENANEGERI, Jakarta – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mencatat bahwa oknum Polisi masih menempati urutan pertama oknum pelaku tindak kekerasan terhadap jurnalis.

Hasil tersebut terlihat dari laporan Bidang Advokasi AJI yang menyebutkan dalam kurun waktu Mei 2017 hingga awal Mei 2018, masih terdapat adanya oknum Polisi yang melakukan tindak kekerasan terhadap jurnalis sebanyak 24 kasus.

Bidang Advokasi AJI Indonesia melaporkan pelaku kekerasan terhadap jurnalis paling banyak dilakukan oleh polisi dengan 24 kasus, disusul pejabat pemerintah atau eksekutif 16 kasus, ormas delapan kasus, warga delapan kasus, TNI enam kasus, Satpol PP lima kasus, dan orang tidak dikenal tiga kasus.

“Polisi masih mendominasi kekerasan 24 kasus, pejabat pemerintahan 16 kasus, ormas dan warga sebanyak 8 kasus. Sudah bertahun-tahun polisi masih menjadi pelaku terbanyak kekerasan terhadap jurnalis,” kata Katua Umum AJI Indonesia, Abdul Manan dalam diskusi ‘Musuh Kebebaskan Pers’ di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (3/5).

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat ada 75 kasus kekerasan terhadap jurnalis terjadi di berbagai daerah di Indonesia selama Mei 2017 hingga Mei 2018.

Baca Juga  Polisi Terus Usut Kasus PT Hannien Tour

Pelakunya beragam mulai dari polisi disusul pejabat pemerintahan, ormas dan warga.

“AJI mencatat baik dari laporan AJI Kota dan pemberitaan media massa, terdapat 75 kasus kekerasan terhadap jurnalis selama Mei 2017 hingga awal Mei 2018,” kata Ketua AJI Indonesia, Abdul Manan saat memaparkan laporan ‘Musuh Kebebasan Pers’ dalam rangka Hari Kebebesan Pers Sedunia di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (3/5).

Kasus kekerasan terhadap jurnalis tersebut terjadi di 56 kota dan kabupaten dalam 25 provinsi. Kasus paling banyak terjadi di kawasan Indonesia bagian timur.

“Seperti di NTT, Sulawesi Selatan, Papua dan NTB,” terangnya.

Manan menyebutkan bahwa kekerasan dialami jurnalis adalah mayoritas kekerasan fisik seperti pengeroyokan, dan pemukulan.

Menyoroti banyaknya kasus kekerasan anggota polisi terhadap jurnalis, AJI Indonesia menyarankan agar adanya pendidikan terkait kekerasan terhadap wartawan adalah bentuk melanggar Undang-undang pers.

Selain itu, bentuk peringatan dan sangsi kepada pelaku kekerasan bisa menjadi contoh upaya meminimalisir tindak kekerasan terdapa jurnalis.

“Entah mengeluarkan edaran atau memberikan pemasukan materi tentang pentingnya pers atau materi UU Pers dalam pembejalaran institusi kepolisian,” ujar Abdul Manan.

Baca Juga  Polisi Tangkap Orang yang Mengancam akan Meledakkan Mapolda Riau

“Kasus kekerasan kedua terbanyak adalah pengusiran. Pengusiran dilakukan baik oleh aparatur negara ataupun anggota security atau satpam,” ujarnya.

Manan menuturkan masih tingginya angka kekerasan terhadap jurnalis mengancam kemerdekaan pers di Indonesia. (*)

Komentar

Berita Terbaru