oleh

Akan Ada Kemungkinan Sanksi Baru untuk Qatar ?

PENANEGERI, Desk Internasional- Negara-negara teluk Arab sedang mempertimbangkan untuk memberikan sanksi baru untuk Qatar.

Omar Ghobash, seorang Duta besar dari Uni Emirat Arab (UEA) untuk Russia menyatakan bahwa negara-negara Teluk sedang mempertimbangkan sanksi baru untuk negara Qatar.

Omar Ghobash mengatakan bahwa negara-negara teluk  dapat melakukan tindakan lebih lanjut terhadap Qatar dengan ‘menerapkan syarat  pada mitra dagang’.

Artinya, bahwa para mitra dagang yang berhubungan bisnis dengan negara-negara teluk yang juga berhubungan bisnis dengan Qatar, nantinya akan dapat diminta untuk membuat pilihan komersial.

“Salah satu kemungkinannya adalah untuk menerapkan kondisi pada mitra dagang kita sendiri dan katakan: Anda ingin bekerja dengan kita maka Anda harus membuat pilihan komersial,” tegas Omar Ghobash, Duta besar UEA untuk Russia, dalam pernyataannya kepada harian The Guardian, Inggris.

Hal ini merupakan tekanan lebih lanjut pada negara kecil Qatar.

Negara-negara teluk pemberi sanksi blokade terhadap Qatar yakni antara lain :Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir, sedang mempertimbangkan sanksi baru terhadap Qatar yang mungkin termasuk meminta mitra dagang untuk membuat pilihan komersial, artinya memilih tetap berdagang dengan negara teluk, atau berdagang dengan Qatar, tanpa bermitra negara-negara teluk lainnya.

Ini merupakan tekanan tersendiri yang akan dipikul oleh Qatar.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar The Guardian, Duta Besar Omar Ghobash mengatakan bahwa pengusiran Qatar dari Gulf Cooperation Council (GCC) “bukan satu-satunya sanksi yang tersedia” yang akan diberikan oleh UEA dan sekutu-sekutunya.

Baca Juga  Tolak Tuntutan untuk Tutup Al Jazeera

Duta Besar UEA menyatakan akan ada  sanksi lebih lanjut terhadap Qatar.

Berbicara di London, Ghobash mengatakan bahwa pengusiran Qatar dari Dewan Kerjasama Teluk (GCC) – yang sering diajukan sebagai sanksi- bukanlah satu-satunya opsi sanksi yang ada.

Dia menambahkan: “Posisi mereka (Qatar)  hari ini tetap tidak konsisten dengan menjadi anggota GCC karena ini adalah organisasi keamanan dan pertahanan yang sama. Ada sanksi ekonomi tertentu yang bisa kita ambil yang sedang dipertimbangkan saat ini,”.

“Salah satu kemungkinannya adalah untuk menerapkan persyarata  pada mitra dagang kita sendiri dan mengatakan bahwa Anda ingin bekerja dengan kita maka Anda harus membuat pilihan komersial.”

“Jika Qatar tidak bersedia menerima tuntutan tersebut, ini adalah kasus ‘Goodbye Qatar’ kami tidak lagi membutuhkan Anda di tenda kami,” tegas Omar Gobash, seperti dilansir harian The Guardian dan juga dilansir pula oleh kantor berita Al-Jazeera, Rabu (28/6).

Sedangkan negara kecil Qatar mengatakan pada hari Rabu (28/6) bahwa penolakan koalisi pimpinan Saudi untuk bernegosiasi tidak dapat diterima.

“Ini bertentangan dengan prinsip-prinsip yang mengatur hubungan internasional karena Anda tidak bisa hanya menyajikan daftar permintaan dan menolak untuk bernegosiasi,” kata menteri luar negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani, dari Washington DC, di mana dia mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri (Secretary of State) AS, Rex Tillerson.

Baca Juga  Qatar Akan Tuntut Kompensasi Ganti Rugi akibat Blokade

Sedangkan Ghobash menegaskan bahwa UEA dengan sekutu-sekutunya berusaha untuk membuka sebuah babak baru di Timur Tengah. “Ya, kami membuat tuntutan pada Qatar, tapi sangat penting untuk menyadari bahwa kita menerapkan standar yang sama pada diri kita sendiri.”

“Jadi jika kita meminta pemantauan transaksi keuangan Qatar tentang pendanaan terorisme, maka kita akan terbuka terhadap gagasan yang sama. Ini bukan bullying. Ini menuntut standar yang lebih tinggi di seluruh wilayah,” ujarnya.

“Kami tidak punya apa-apa untuk disembunyikan sehingga kami bersedia memenuhi standar yang sama dengan yang diminta Qatar. Barat secara tradisional mengeluhkan kurangnya transparansi keuangan di wilayah ini, dan harus ada sejumlah besar yang bisa dilakukan barat untuk memantau apa yang sedang terjadi, ” lanjutnya.

Dia juga memperingatkan: “Kita dapat meningkat dengan lebih banyak informasi, karena kita tidak akan meningkat secara militer. Itu bukan cara kita melihat sesuatu. ”

Ghobash mengatakan bahwa dia mengerti bahwa ada risiko bahwa Qatar dipaksa untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan Iran. “Kami meminta Qatar untuk membuat pilihan dan kami menyadari bahwa mereka dapat memilih untuk mengambil rute ke Iran, dan kami bersedia menerima konsekuensi dari hal tersebut.”

Baca Juga  Prancis Serukan Pencabutan Sanksi Terhadap Warga Qatar

Ketika ditanya apakah penutupan al-Jazeera adalah permintaan yang masuk akal, dia berkata: “Kami tidak mengklaim memiliki kebebasan pers. Kami tidak mempromosikan gagasan kebebasan pers. Apa yang kita bicarakan adalah tanggung jawab dalam berbicara.”

“Kebebasan berbicara memiliki kendala yang berbeda di tempat yang berbeda. Pidato di belahan dunia kita memiliki konteks tertentu, dan konteks itu bisa berubah dari kekerasan menjadi kekerasan dalam waktu singkat hanya karena kata-kata yang diucapkan,” tegas Omar Ghobash.

Pada hari Kamis (22/6), rombongan negara-negara teluk Arab yang dipimpin Arab Saudi, UEA, Bahrain dan Mesir mengeluarkan daftar permintaan Tuntutan 13 Poin dengan resiko akhir tindakan anti-Qatar, serta memberikan batas waktu 10 hari pada Qatar untuk menjawab tuntutan tersebut.

Jelas bahwa tuntutan demi tuntutan terhadap Qatar makin menyulitkan posisi Qatar, dan membuat negara kecil ini makin terhimpit dan terjepit oleh kekuatan-kekuatan besar di sekitarnya.

Beberapa negara seperti Amerika Serikat, Perancis, Kuwait, Turki, Maroko, Iran dan Pakistan telah berulangkali mencoba mendamaikan dan menengahi krisis blokade terhadap Qatar, namun sejauh ini belum ada titik temu yang signifikan. (*)

 

 

Komentar

Berita Terbaru