oleh

Anak ‘OCD’ Sulit Berkonsentrasi Saat Belajar, Ini Sebabnya

PENANEGERI, Sosial – Orang tua jangan langsung menyalahkan anak kurang serius dalam belajar ketika mendapati nilainya yang kurang bagus di raport, kenapa tidak mencari penyebab yang membuat nilai buruk pada anak.

Misalkan apa kegiatan yang dilakukan setelah jam pulang sekolah, jika masih terlihat normal dan tidak terlalu membuat lelah, kenapa anak kesulitan berkonsentrasi saat belajar.

Ada gangguan yang terjadi pada anak-anak hingga remaja, Obsessive-compulsive disorder (OCD). Ini merupakan penyakit yang membuat seseorang mengalami kesulitan untuk mengingat memori jangka panjang dan berkonsentrasi dalam belajar.

Masalah ini banyak terjadi, bukan hanya anak-anak di Indonesia saja, hal tersebut yang memicu kesulitan untuk berkembang secara maksimal di sekolah.

Bukan hanya di sekolah saja, namun juga di rumah karena hampir 90 persen pasiennya bukan hanya mengalami kesulitan berkonsentrasi di sekolah, namun juga kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Hal yang terlihat jelas bagi penderita OCD adalah tidak bisa melakukan hal seperti halnya usia sebaya.

Misalkan anak lain sudah bisa naik sepeda tanpa bantuan, mulai mengenal bahasa asing yang bukan bahasa sehari hari. Bahkan juga sering kali takut berinteraksi dengan lingkungan sekitar, bahkan sering kali gemetar jika bertemu dengan orang baru.

Inilah yang harus diwaspadai oleh orang tua, karena OCD masih bisa disembuhkan dengan penanganan tepat di awal mulai terjadi.

Faktor Penyebab OCD yang Terjadi pada Anak

Biologis

Ini jadi hal pertama yang banyak ditanyakan oleh dokter saat melakukan pemeriksaan, bagaimana orang tua dan saudara terdekatnya. Karena pasien OCD mengalami kekurangan serotonin, yaitu sengaya kimi dalam otak yang berfungsi menghantar pada sel-sel saraf.

Adanya kekurangan membuat setiap sel otak tidak bisa berkomunikasi dengan baik, sehingga lambat dalam menghadapi rangsang.

Dimana OCD bisa diturunkan secara genetika, bahkan tidak secara langsung dari orang tua. Inilah yang harus diketahui terlebih dahulu dan tidak menyalahkan pasangan, dimana setiap masalah akan mendapatkan solusi setelah diketahui seperti apa aslinya.

Infeksi Bakteri

Bukan hanya dari faktor genetika saja, anak bisa mengalami OCD. Pasalnya terdapat bakteri seperti streptococcal yang bisa menyerang sistem saraf otak dan mengganggu proses pengolahan setiap informasi yang masuk.

Ini membuat anak sering kali mengalami ketakutan terdapat hal baru secara berlebihan, bahkan tidak jarang melakukan tindakan ekstrem seperti berteriak.

Lingkungan

Membesarkan anak di lingkungan bagus tentu akan membuat perkembangan baik fisik dan psikologisnya menjadi lebih baik, itulah kenapa banyak dokter tidak menyarankan pasangan muda menerapkan aturan yang terlalu berlebihan, seperti terlalu menjaga kebersihan, mengatur jadwal sehari hari.

Ini memang bagus untuk kedisiplinan, namun saat anak mengalami hal yang tidak sesuai dengan jadwalnya maka terjadi benturan dan tidak tahu harus melakukan apa untuk selanjutnya. Perencanaan yang baik, harus memiliki beberapa alternatif solusi lain saat terjadinya masalah, inilah yang bisa membentuk OCD dari anak-anak.

Psikologis

Jangan abaikan perubahan emosional pada anak, misalkan sikap awalnya ceria berubah menjadi murung dan pendiam. Orang tua harus tahu apa yang penyebabkan hal tersebut dan mencari solusinya, apalagi jika terjadi hal besar yang berkaitan dengan orang tua.

Misalkan kematian dari orang terdekat yang disayanginya, perceraian orang tua hingga adanya trauma dari masa kecil, ini akan memicu terjadi OCD pada anak.

Masalah OCD pada anak memang banyak diabaikan karena memang tidak terlihat pengaruhnya, namun ini akan terlihat saat menjelang remaja.

Dimana kesulitan untuk berkonsentrasi membuat remaja ingin meninggalkan studinya, hal tersebut bukan hanya terjadi pada satu dua kasus saja namun banyak penyebab, dimana persoalan keluarga menjadi memicu utamanya.

Komentar

Berita Terbaru