oleh

ARSA Umumkan Gencatan Senjata

PENANEGERI- Desk Internasional- Milisi ARSA (Arakan Rohingya Salvation Army ) mengumumkan gencatan senjata di tengah krisis kemanusiaan yang terjadi Rohingya, Minggu (10/9).

Kelompok ARSA juga meminta tentara Myanmar untuk juga meletakkan senjata, agar memungkinkan lembaga bangtuan kemanusiaan menyediakan bantuan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat di Rakhine.

Milisi Rohingya ARSA di Myanmar telah mengumumkan gencatan senjata sepihak selama sebulan dalam perang melawan tentara untuk memungkinkan kelompok-kelompok bantuan menangani krisis kemanusiaan di negara bagian Rakhine.

Gencatan Senjata yang telah diumumkan oleh Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) dijadwalkan akan dimulai pada hari Minggu (10/9).

“ARSA sangat menganjurkan semua aktor kemanusiaan yang peduli untuk melanjutkan bantuan kemanusiaan mereka kepada semua korban krisis kemanusiaan, terlepas dari latar belakang etnis atau agama selama periode gencatan senjata,” kata pernyataan kelompok tersebut yang dikutip oleh sejumlah kantor berita Internasional.

Pernyataan tersebut juga meminta militer Birma (Myanmar) untuk sementara sementara meletakkan senjata.

Hampir 300.000 orang Rohingya telah melarikan diri dari Rakhine ke negara tetangga Bangladesh dan 30.000 warga sipil non-Muslim telah dipindahkan ke dalam wilayah Myanmar setelah militer meluncurkan ARSA di 30 pos polisi dan sebuah pangkalan militer bulan lalu.

Baca Juga  PBB Tangguhkan Bantuan Pangan untuk Warga di Rakhine, Myanmar

Saksi mata mengatakan bahwa desa Rohingya telah terbakar habis sejak operasi pasukan keamanan tersebut, sementara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah memperingatkan risiko pembersihan etnis, meminta otoritas negara tersebut untuk menghentikan kekerasan terhadap Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine.

Dampak deklarasi gencatan senjata ARSA belumlah jelas. Kelompok tersebut tampaknya tidak mengadakan perlawanan yang signifikan terhadap kekuatan militer yang dilepaskan di Rakhine.

Kantor berita Al Jazeera melaporkan dari kota Yangon di Myanmar, bahwa tentara belum menanggapi, namun akan sulit bagi mereka untuk menolak gencatan senjata tersebut.

Joy Singhal, Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), mengatakan kepada kantor berita Al Jazeera dari Yangon bahwa gencatan senjata dari kedua belah pihak sangat penting untuk upaya bantuan kemanusiaan yang akan dilaksanakan di Rakhine.

“Kami meminta akses yang aman ke air, transportasi untuk keluarga ke daerah yang lebih aman,” katanya.

IFRC meningkatkan operasinya di Rakhine setelah PBB harus menangguhkan kegiatan di sana. Pemerintah Myanmar telah mengundang IFRC untuk membantu mereka, menurut Singhal. (*)

Komentar

Berita Terbaru