oleh

Asma Dewi Bacakan Pledoi : Merasa Dizalimi

PENANEGERI, Jakarta- Terdakwa Asma Dewi membacakan pembelaannya di sidang kasus dugaan penyebaran ujaran kebencian di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dirinya merasa dizalimi.

Saat membacakan pleidoinya kemarin, wanita ini beberapa kali menangis dan terisak. Dia merasa difitnah dan dizalimi.

“Sebenarnya saya bingung dengan yang saya alami, maaf kalau saya merasa dizalimi dengan politik kejam. Karena dalam proses penangkapan, saya ditangkap oleh kurang lebih 15 orang anggota cyber crime,” kata Asma Dewi saat membacakan pledoi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (20/2).

Asma Dewi juga membantah tuduhan dirinya mentransfer uang Rp 75 juta ke kelompok Saracen.

Dia juga mengaku tidak pernah tahu Saracen dan kegiatan yang dilakukan kelompok itu. Dewi merasa jadi korban perundungan (bullying) akibat tuduhan polisi itu.

Asma Dewi dinilai terbukti melanggar Pasal 28 Ayat 2 juncto Pasal 45 Ayat 2 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Dia dinilai telah menyebarkan informasi yang dapat menimbulkan kebencian.

Terdakwa Asma Dewi dituntut 2 tahun penjara dan membayar denda Rp 300 juta subsider 3 bulan penjara oleh jaksa penuntut umum (JPU).

Asma Dewi dinilai terbukti melanggar Pasal 28 Ayat 2 juncto Pasal 45 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Dia dinilai telah menyebarkan informasi yang dapat menimbulkan kebencian.

Atas tuntutan tersebut, Dewi dan pengacaranya membacakan nota pembelaan atau pleidoi dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Selasa (20/2).

Dalam pleidoinya, dia menceritakan kembali saat polisi menangkapnya pada September 2017.

Dia juga menceritakan tuduhan polisi yang menyebut dirinya mentransfer dana Rp 75 juta ke kelompok Saracen, pengunggah konten berisi ujaran kebencian dan hoaks. Padahal, menurut Dewi, aliran dana itu tak terbukti.

Dia juga mengaku jadi korban perundungan (bullying) akibat tudingan itu.
“Saya di-bully di medsos (media sosial) bukan karena postingan Facebook saya 2016, tetapi karena saya difitnah polisi sebagai Saracen,” ujar Asma Dewi saat membacakan nota pembelaan. (*)

Komentar

Berita Terbaru