oleh

Badan Cuaca PBB : Iklim Arktik Berubah Cepat Menghangat

PENANEGERI, Internasional – Kawasan Arktik, Kutub Utara pada tahun 2017 terus menghangat ketika temperatur global naik, menghasilkan suhu udara yang lebih hangat, temperatur laut di atas rata-rata, hilangnya es, yang berimbas pada laut dan ekosistem, demikian menurut badan cuaca Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Arktik tidak menunjukkan tanda untuk dapat kembali ke wilayah yang beku seperti beberapa dekade yang lalu,” kata Kartu Laporan Arktik, sebuah studi peer-review yang menyatukan karya dari 85 ilmuwan dari 12 bangsa.

Organisasi Meteorologi Dunia PBB (UN World Meteorological Organization – WMO) mengatakan pada hari Selasa (19/12) bahwa Kartu Laporan Arktik (the Arctic Report Card) menunjukkan bahwa tren pemanasan terus mendorong transformasi dramatis di wilayah Arktik.

Administrasi Oseanik dan Atmosfer Nasional AS (The US National Oceanic and Atmospheric Administration – NOAA) mengatakan bahwa 11 bulan pertama tahun ini merupakan rekor terpanas ketiga, setelah tahun 2016 dan 2015, dengan kondisi yang jauh lebih hangat dari rata-rata yang melanda sebagian besar daratan dan permukaan laut dunia.

Ini berarti bahwa suhu darat dan laut global 2017 kemungkinan akan berakhir di antara tiga tahun terpanas dalam catatan, dan diperkirakan akan menjadi tahun terhebat tanpa El Niño yang memanas.

“Apa yang lebih penting daripada peringkat satu tahun adalah tren pemanasan global yang menyeluruh sejak akhir 1970-an, dan terutama abad ini,” kata ilmuwan senior WMO Omar Baddour, seperti dirilis oleh situs resmi PBB, Rabu (20/12)

“Seiring dengan meningkatnya suhu, kita melihat cuaca yang lebih ekstrem dengan dampak sosial ekonomi yang sangat besar,” katanya.

Sebuah laporan terpisah, yang diterbitkan dalam Bulletin of the American Meteorological Society (BAMS), mengatakan bahwa suhu rata-rata suhu global tahun lalu, panas yang ekstrim di Asia, dan perairan hangat di Laut Bering tidak mungkin terjadi tanpa perubahan iklim yang disebabkan manusia.

“Laporan ini menandai perubahan mendasar,” kata Jeff Rosenfeld, pemimpin redaksi BAMS. “Selama bertahun-tahun para ilmuwan telah mengetahui bahwa manusia mengubah risiko dari beberapa ekstrem. Tapi menemukan beberapa kejadian ekstrem yang bahkan tidak mungkin tanpa pengaruh manusia membuat jelas bahwa kita sedang mengalami cuaca baru, karena kita telah menciptakan iklim baru. ” (*)

Komentar

Berita Terbaru