oleh

Bebas dari Teror dan Penindasan KKSB, Masyarakat Tembagapura Gembira dan Bersyukur

PENANEGERI, Papua – Setelah bisa terbebas dari aksi teror dan penindasan dari KKSB (Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata) maka masyarakat Tembagapura melakukan pesta adat syukuran ‘Bakar Batu’.

Pada hari Jumat, Tgl 13 April 2018 bertempat di Banti-2 tepatnya di depan sekolah SD dan SMP Inpres WAA yang dibakar oleh KKSB/OPM pada 23 Maret lalu, warga dari tujuh kampung berkumpul untuk mengucap syukur atas terbebasnya dari teror dan penindasan KKSB yang selama ini menguasai kampung mereka dan menindas serta merampas kebebasan mereka, antara lain kampung Utikini, Longsoran, Kimbely, Banti -1, Banti-2, Takabera dan kampung Opitawak.

Sebagaimana dilaporkan sebelumnya bahwa KKSB menduduki wilayah tersebut telah melakukan pengrusakan terhadap jalan-jalan penghubung menggunakan Eskavator dengan menyandra operatornya.

Titik lokasi yang dirusak adalah jalur dari Utikini ke Tembagapura, dan jalur penghubung antara kampung yang satu dengan kampung lainnya, melakukan pembakaran terhadap fasilitas sosial berupa gedung sekolah, rumah sakit serta rumah warga yang sebagian dibangun atas bantuan pemerintah dan PT Freeport.

Sedikitnya 1000 orang warga hadir pada acara tersebut, sekitar seratusan orang lebih diantaranya adalah anak-anak SD dan SMP Impres WAA yang gedung sekolahnya ludes dibakar oleh KKSB beberapa waktu yang lalu.

Bahkan sejak peristiwa penyanderaan lokasi sekitar 1300 warga bulan November 2017 tahun lalu, anak-anak sekolah tersebut sama sekali tidak ada aktifitas belajar mengajar, karena seluruh guru-guru mereka (warga pendatang korban penyanderaan) telah mengungsi.

Karena musibah pada bulan Maret lalu, gedung sekolah kebanggaan mereka yang dibangun atas program Inpres merupakan gedung sekolah dengan fasilitas modern di tengah-tengah hutan belantara Tembagapura, sekarang hanya tersisa puing-puing setelah habis dibakar oleh KKSB bersama Rumah Sakit WAA Banti.

“Ini adat kami orang Papua, setelah dapat bencana dan sekarang kami bebas kami mengucap syukur kepada Tuhan, maka kami minta kepada Komandan Satgas (Red_Kolonel Inf Frit Pelamonia) supaya kami melaksanakan upacara adat Bakar Batu. Puji Tuhan kami dapat di bantu Babi dari TNI/Polri juga dari PT. Freeport,” kata Johanes Jamang Kepala Desa Banti-1. Setidaknya 15 ekor Babi sumbangan dari TNI/Polri serta PT FI untuk mendukung upacara adat bakar batu tersebut.

Dua ekor diantaranya merupakan hadiah khusus dari Danbrigif 20/IJK selaku Dansatgas Kolonel Inf Frit Pelamonia.

Sambil menunggu proses bakar batu, anak-anak sekolah berkumpul bersukaria, sembari mengibarkan bendera Merah Putih, mereka menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan lagu-lagu Nasional lainnya seperti: Dari Sabang Sampai Marauke, Berkibarlah Benderaku, Sorak-sorak Bergembira, Syukur dan lagu-lagu lainnya yang menggugah semangat. Lagu-lagu Nasional mereka nyanyikan dengan lihai dan penuh semangat

Selain itu beberapa Prajurit TNI memandu mereka dalam permainan Outbond, berbagai permainan dengan unsur lomba mereka ikuti dengan semangat dan gembira, terlintas dari raut wajah mereka anak-anak Papua generasi emas penerus Bangsa, semangat dan keceriaan seakan menutupi luka pilu di dada mereka, betapa selama ini kebebasan dan kemerdekaan mereka dirampas oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Hak untuk mendapatkan pengajaran atau pendidikan yang layak telah diberangus. Berbulan-bulan berada di bawah bayang-bayang ketakutan.

Peristiwa yang paling menyayat hati adalah saat mereka melihat gedung sekolah kebanggaan mereka, tempat menaruh harapan, tempat menggantungkan cita-cita, tempat mereka berkumpul, bermain, bercengkrama, bersenda gurau di depan mata kepala mereka sendiri perlahan-lahan menjadi arang dan abu dilalap si jago merah yang sengaja disulut oleh sekelompok KKSB.

“Kami semua menangis sekolah kami dibakar oleh orang hutan (Red_sebutan warga setempat terhadap KKSB),” papar Elfinus Magal (15) Siswa kelas 8 SMP WAA menuturkan dengan mata berkaca-kaca.

“Kami masyarakat di kampung ini, ada 7 kampung di sini minta kepada Pemerintah supaya bangun kembali sekolah dan Rumah Sakit di sini,” tutur Seprianus Omabak Kepala Kampung Opitawak.

“Harus cepat, tidak boleh ditunda-tunda, rakyat butuh, anak-anak, mama-mama butuh,” imbuh Seprianus menambahkan.

“TNI/Polri harus bangun Pos di kampung ini, TNI/Polri harus tinggal di sini bersama kami, itu wajib, karena mereka (KKSB_red) akan datang lagi, bakar lagi, rakyat menderita” pinta Seprianus didukung oleh tokoh masyarakat dan warga lainnya.

Hadir pada upacara adat bakar batu tersebut yakni, Yohanes Jamang Kepala Desa Banti-1, Seprianus Omabak Kepala Desa Opitawak, Tokoh Masyarakat, Kolinus Beanal, Enis Magal, Derek Alom, Yoni Magal, Kornelis Magal, Soni Waker, Jember Jamang, Anajome Magal, Moap Magai, Yulianus Magai, Simon Omaleng, Tokoh Agama, Pdt. Hengky Magal, Ruben Omaleng, Pdt. Sem Magal, Pdt Opniel Magal, Tokoh Pemuda, Stevi Omabak dan Detenus Natkime. (*)

Komentar

Berita Terbaru