oleh

Belajar Mengendalikan Kemarahan

PENANEGERI, Kesehatan Mental – Beberapa kali Penanegeri.com merilis berita tentang fenomena yang kian marak akhir akhir ini yaitu, Kemarahan Jalanan, atau Perkelahian Jalanan (street fighting). Namun mereka yang berkelahi bukanlah anak jalanan (anjal), tapi justru para pengguna jalan, para warga yang selama ini dikira dalam kondisi yang santun-normal dalam mengemudi.

Namun justru perkelahian jalanan warga biasa ini makin marak saja.

Terhitung akhir-akhir ini yang viral adalah kemarahan jalanan ketika di klakson, kemarahan jalanan berujung perkelahian jalanan antara anak muda pengemudi mobil dan seorang anggota TNI, gara-gara anak muda itu membuang sampah sembarangan di jalan dan mengenai istri anggota TNI AL tersebut, dan kini adalah perkelahian jalanan di tol karena tak terima disalip.

Seperti pada pagi hari ini, Selasa (31/10), entah bagaimana awal mula kejadiannya, dua pengendara mobil terlibat pertikaian di tol dalam kota yang diperkirakan berada di daerah Smesco, Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Menurut foto yang diunggah oleh seorang netizen, pengendara Honda HR-V terlibat pertengkaran yang berujung pada street fighting atau perkelahian jalanan dengan pengemudi lainnya yang mengendarai Avanza akibat tidak terima kendaraannya disalip.

Baca Juga  Memahami Penyakit Jiwa Bipolar
Mengendalikan
perkelahian Jalanan pengguna jalan tol, Selasa (31/10)

“Pagi ini di depan smesco.. ndak mau disalip.. Untung 2 vs 2.. Hitung-hitung olahraga pagi. At Smesco Gatot Subroto”, tulis netizen ber-anonym ‘Andreamagis’ dalam unggahannya

Kejadian ini sungguh memilukan, viral lagi.

Ada Hubungan dengan Kesehatan Mental

Saudara Pembaca Penanegeri.com, di jalan akhir-akhir ini memang sudah jarang sekali rasa tenggang rasa, tepa selira, atau saling santun dan hormat-menghormati, saling menghargai antara sesama pengguna jalan.

Coba kita lihat di Jabodetabek saja, wuihh… hampir setiap orang merasa bahwa sesama pengguna jalan adalah bukan manusia saudaranya, melainkan layaknya sudah para potensial musuhnya saja. Saling serobot, saling klakson berebut jalan, saling lempar caci maki.

Ini sungguh situasi yang memicu ketidaksehatan mental yang dimulai dari jalanan.

Katanya kita semua sebangsa ini sedang : Nation and Character Buliding/Membangun Mental Karakter Bangsa?

Kemarahan yang kronis dan meledak memiliki konsekuensi serius bagi hubungan, kesehatan, dan keadaan pikiran Anda. Sebaiknya paham apa itu Anger Management (memenej kemarahan) atau menahan diri dari kemarahan sesaat yang menyesatkan.

Baca Juga  Bahaya Terpaan Pornografi bagi Kesehatan Mental

Sejatinya Emosi kemarahan tidak baik atau buruk. Seperti emosi apapun, kemarahan menyampaikan sebuah pesan, mengatakan bahwa situasinya menjengkelkan, atau tidak adil, atau mengancam.

Meski normal jika merasa marah saat Anda dianiaya namun bisa menjadi masalah saat Anda mengungkapkannya dengan cara yang merugikan diri sendiri atau orang lain.

Jika Anda memiliki kecenderungan ‘sumbu pendek’, maka Anda harus bisa belajar mengekspresikan emosi tanpa menyakiti orang lain.

Mitos dan fakta tentang kemarahan

Mitos: Saya seharusnya tidak “menahan” kemarahan saya. Ini sehat untuk dicurahkan dan dilepaskan.

Fakta: Meskipun benar bahwa menekan dan mengabaikan kemarahan tidak sehat, ventilasi/ saluran ini tidak lebih baik. Kemarahan bukanlah sesuatu yang harus Anda “keluarkan” dengan cara yang agresif agar tidak meledak. Sebenarnya, ledakan dan omelan hanya membakar api dan memperkuat masalah kemarahan Anda.

Mitos: Kemarahan, agresi, dan intimidasi membantu saya mendapatkan rasa hormat dan mendapatkan apa yang saya inginkan.

Fakta: Menghormati tidak datang dari intimidasi orang lain. Orang mungkin takut pada Anda, tapi mereka tidak akan menghormati Anda jika Anda tidak bisa mengendalikan diri atau menangani sudut pandang yang berlawanan. Orang lain akan lebih bersedia untuk mendengarkan Anda dan mengakomodasi kebutuhan Anda jika Anda berkomunikasi dengan cara yang hormat.

Baca Juga  Bersikap Terbuka dan Berubah untuk Lebih Bahagia

Mitos: Saya tidak bisa menahan diri. Kemarahan bukanlah sesuatu yang bisa Anda kendalikan.

Fakta: Anda tidak bisa selalu mengendalikan situasi Anda atau bagaimana hal itu membuat Anda merasa, tapi Anda bisa mengendalikan bagaimana Anda mengekspresikan kemarahan Anda. Dan Anda bisa mengekspresikan kemarahan Anda tanpa dilecehkan secara verbal atau fisik. Bahkan jika seseorang memprovokasi Anda, Anda selalu punya pilihan tentang bagaimana cara meresponsnya.

Anda mungkin berpikir bahwa melampiaskan kemarahan Anda sehat, bahwa orang-orang di sekitar Anda terlalu sensitif, bahwa kemarahan Anda dibenarkan, atau Anda perlu menunjukkan kemarahan Anda untuk mendapatkan rasa hormat.

Tapi sebenarnya kemarahan itu jauh lebih mungkin untuk merusak hubungan Anda, mengganggu penilaian Anda, menghalangi kesuksesan, dan memiliki dampak negatif pada cara orang melihat Anda. Di situlah manajemen kemarahan (Anger Management) berguna. Belajarlah mengendalikan diri, hargai orang lain seperti Anda menghargai diri Anda sendiri. (*)

Komentar

Berita Terbaru