oleh

Christopher Farrel pelajar SMAN 8 Yogya Diundang Google ke Amerika

PENANEGERI, Techno – Christopher Farrel Millenio Kusuma, pelajar SMAN 8 Yogyakarta diundang oleh Google di Amerika untuk mempresentasikan penelitiannya tentang “Data Compression using EG and Neural Network Algorithm for Lossless Data”.

Hal itu merupakan sebuah prestasi yang membanggakan bagi Christopher Farrel Millenio Kusuma yang masih berusia 17 tahun ini. Betapa tidak, pelajar  pelajar SMAN 8 Yogyakarta ini  merupakan pelajar Indonesia yang mendapat undangan berkunjung ke kantor perusahaan teknologi kelas dunia, Google.

Christopher Farrel Millenio Kusuma yang masih berusia 17 tahun itu diundang berkunjung ke kantor Google Mountain View, California usai penelitiannya berjudul “Data Compression using EG and Neural Network Algorithm for Lossless Data” lolos dalam kompetisi yang digelar Google.

Peristiwa ini bersejarah, karena Farrel merupakan satu-satunya siswa SMA di Indonesia yang proposal karyanya lolos dan diundang oleh Google.

Sebelumnya, sejak tahun 2016 Farrel telah mengajukan penelitiannya dengan judul yang sama sebanyak 11 kali di berbagai ajang kompetisi di Indonesia. Namun judul penelitian tersebut ditolak.

Farrel kemudian iseng-iseng untuk mengajukan judul yang ditolak di Indonesia tersebut ke Google.

Dirangkum dari berbagai sumber, Farrel mengaku ide awal penelitian ini muncul saat dirinya ingin mengunduh sebuah game.

Namun sayang, kuota data yang dimilikinya terbatas. Padahal, Farrel sangat menginginkan memainkan game tersebut. Lalu terlintas lah ide bagaimana cara mengecilkan game tersebut untuk bisa ia mainkan. Ia kemudian mencari di internet cara mengecilkan data. Dari pencariannya itu, Farrel menemukan data compression atau pemampatan data.

Ia kemudian meriset hal tersebut, dan ternyata proses pemampatan data belum begitu berkembang, terutama di Indonesia. Lantas munculah sebuah ide untuk meneliti hal tersebut, setelah melihat dampak untuk ke depannya.
Farrel mulai serius menekuni penelitiannya sejak kelas 1 SMA.

Sejak tahun 2016, proposal penelitian miliknya terhitung sudah 11 kali ditolak. Namun Farrel ini ternyata tidak gampang menyerah.

“Pantang menyerah adalah anugerah terindah dalan hidup,” kata dia.

Ia pun mengaku mendapatkan pengalaman luar biasa selama di markas Google di California.

Di luar negeri, tuturnya, orang saling bertukar ide dan mereka tidak takut jika ide mereka diambil.

“Untuk apa memiliki ilmu yang banyak tapi saat kita mati tidak berguna untuk dunia ini. Lebih baik ilmunya diberikan kepada orang lain,” tuturnya menirukan pesan pada saat diskusi di California.

“Maka saya ingin berbagi ilmu yang saya dapatkan akan saya bagikan ke orang lain,” Imbuhnya. (*)

Komentar

Berita Terbaru