oleh

Curhat Guru Kepada Menkeu Sri Mulyani soal Tunjangan Guru

PENANEGERI, Jakarta – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mengadakan acara bertajuk Dialog Publik mengenai Cetak Biru Pengembangan SDM Indonesia dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0 dengan topik “Efektivitas Anggaran Pendidikan untuk Pendidikan Bermutu”.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hadir memberikan sambutan pada acara Dialog Publik dan Halal bi Halal yang digelar oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tersebut, hari Selasa (10/7).

Acara dibuka oleh Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi yang menyampaikan aspirasinya kepada Sri Mulyani.

“Kami mau menyuarakan aspirasi para guru, tenaga kerja pendidikan di Indonesia ini. Bu mengapa kami berbeda dengan tenaga pendidik dari Kemenristekdikti dan guru di Kementerian Agama? Mereka tunjangan profesinya dibayar lengkap sedangkan kami tidak. Mohon arahan dari ibu, ini suara hati kami,” kata Unifah di Gedung Guru, Jakarta, Selasa (10/7).

Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi menyampaikan untuk membentuk masa depan Indonesia yang baik dibutuhkan sumber daya yang berkualitas serta dukungan dari pemerintah.

“Kami juga apresiasi upaya luar biasa ibu Menteri Keuangan dalam pengelolaan tata anggaran untuk pendidikan,” ujar Unifah.

Baca Juga  Pemanfaataan Dana Desa harus Dilakukan Secara Swa Kelola Masyarakat

Menkeu Sri Mulyani yang hadir dalam Dialog Pendidikan Nasional di gedung PGRI, Jakarta Pusat, Selasa (10/7) menyampaikan bahwa anggaran pendidikan setiap tahun selalu naik.

Kenaikan sesuai amanat Undang-Undang dimana anggaran untuk pendidikan dialokasikan 20 persen dari APBN, dan setiap tahun pendapatan dan belanja negara juga selalu naik.

Sri Mulyani menyampaikan pada 2009 anggaran pendidikan di APBN tercatat Rp 153 triliun, kemudian pada 2013 naik menjadi Rp 419 triliun dan tahun ini menjadi Rp 444 triliun.

“Setiap tahun anggaran ini naik, karena memang pendapatan dan belanjanya juga naik,” ujarnya.

Selain itu, Sri Mulyani juga berpesan supaya PGRI tidak hanya fokus memastikan kesejahteraan tenaga pendidik, melainkan juga kualitas hasil belajar-mengajar. (*)

Komentar

Berita Terbaru