oleh

Dalam 2 hari, 3000 Pengungsi Baru Rohingya Lari dari Myanmar Menuju Bangladesh

PENANEGERI, Desk Internasional – Lebih dari 3.000 (tiga ribu) orang pengungsi baru Rohingya yang putus asa, lelah dan lapar telah menyeberang ke Bangladesh setelah melarikan diri dari Myanmar selama dua hari terakhir, Jumat (3/11).

Atas ribuan arus pengungsi baru dalam dua hari belakangan ini, badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan para mitranya  telah bekerja sepanjang waktu untuk memberikan bantuan dan perlindungan guna menyelamatkan jiwa para pengungsi.

“Kebanyakan orang yang saya ajak bicara mengatakan bahwa mereka berjalan selama delapan sampai sepuluh hari untuk sampai ke perbatasan,” kata Olivia Headon, seorang petugas pers untuk Organisasi Internasional untuk Migrasi (International Organization for Migration-IOM), hari Jumat (3/11).

“Mereka tidak makan atau minum setelah beberapa hari pertama,” tambah Olivia Headon, seperti dirilis dalam situs berita resmi PBB, Jumat (3/11).

Para Pengungsi Rohingya ini terpaksa melarikan diri dari kekerasan yang telah membuat komunitas mereka terkepung di negara bagian Rakhine Utara Myanmar sejak akhir Agustus 2017, para pendatang terakhir ini, setelah menunggu air surut di sawah dekat perbatasan, kemudian mereka bergabung dengan sekitar 820.000 (delapan ratus dua puluh ribu) orang pengungsi Rohingya yang ditampung kamp pengungsi  di Cox’s Bazar Bangladesh, di mana lebih dari 607.320 (enam ratus tujuh ribu tiga ratus dua puluh orang) telah tiba sejak 25 Agustus 2017 setelah lari dari Myanmar menuju Bangladesh.

Baca Juga  PBB Berupaya Bangun Jalan untuk Akses Kamp pengungsi Rohingya

Olivia Headon mengatakan bahwa para pengungsi pendatang baru tersebut menyatakan keinginan mereka untuk menemukan anggota keluarga yang telah menyeberang ke Bangladesh.

Beberapa pengungsi Rohingya  menjelaskan bahwa mereka berharap untuk segera meninggalkan Myanmar, namun harus menunggu untuk panen dan menjual gabahnya untuk mengumpulkan dana untuk perjalanan mereka.

“Seorang pria mengatakan kepada saya bahwa dia harus membayar seseorang untuk membawa ibunya yang sudah lanjut usia,” kata Olivia Headon dalam rilis berita oleh situs resmi PBB.

Sementara itu, Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi atau UN High Commissioner for Refugees (UNHCR), dan UN Children’s Fund (UNICEF), bersama para mitra telah membagikan token, pasokan makanan langsung, dan menawarkan perawatan medis untuk para pengungsi yang menyeberang di persimpangan Anjumanpara.

Area penerima di Balukhali di kota Cox’s Bazar di Bangladesh, yang dikelola oleh IOM (International Organization for Migration), menyediakan bantuan darurat dan peralatan mandiri untuk para pengungsi pendatang baru ini.

UNHCR juga meningkatkan upaya bantuan kemanusiaan untuk berusaha mengatasi masuknya pengungsi baru-baru ini ke sekitar kamp Kutupalong dekat Cox’s Bazar, Bangladesh.

Baca Juga  Solidaritas untuk Rohingya dari Bekasi

“Lebih dari 2.000 di antaranya telah pindah ke pusat transit UNHCR di dekat kamp Kutupalong, termasuk beberapa pengungsi rentan yang dibawa dengan bus,” kata Babar Baloch, juru bicara UNHCR kepada wartawan pada konferensi pers reguler di Jenewa.

Dia menambahkan bahwa ini “datang saat staf kami baru saja memindahkan lebih dari 400 pendatang baru ke perpanjangan baru ke kamp Kutupalong.”

Dalam berita terkait, data pendahuluan dari penilaian nutrisi yang dilakukan minggu lalu di kamp pengungsi Kutupalong di Cox’s Bazar menunjukkan prevalensi 7% berat yang mengancam jiwa dengan gizi buruk akut tingkat ganda yang terlihat diantara pengungsi anak Rohingya pada Mei 2017, kata UNICEF.

“Anak-anak Rohingya di kamp tersebut yang selamat dari kengerian di negara bagian Rakhine di Myanmar utara dan sebuah perjalanan yang berbahaya di sini harus terjebak dalam sebuah malapetaka,” kata Perwakilan UNICEF Bangladesh Edouard Beigbeder.

“Mereka yang kekurangan gizi parah sekarang berisiko meninggal akibat penyebab yang bisa dicegah dan bisa diobati,” tambahnya.

Baca Juga  400.000 Kaum Rohingya Masih Menderita di Myanmar

UNICEF dan mitranya kini merawat lebih dari 2.000 anak-anak dengan gizi buruk di 15 pusat perawatan pengungsian Rohingya di Bangladesh, dengan enam pusat perawatan tambahan saat ini didirikan.

UNICEF juga bekerja sama dengan mitra kesehatan untuk mengidentifikasi dan mengobati penyakit diare dan pneumonia, dan akan melakukan kegiatan vaksinasi massal dan skrining gizi bulan ini.

“Komunitas kemanusiaan harus bisa berbuat lebih banyak untuk merawat dan melindungi anak-anak yang sangat rentan ini,” kata Beigbeder.

“Untuk itu kita perlu lebih memperhatikan krisis, dan masih banyak sumber untuk melakukan respon (tanggapan). Anak-anak ini butuh pertolongan sekarang juga.” pungkasnya (*)

Komentar

Berita Terbaru