oleh

Darurat Militer diberlakukan di Mindanao, Filipina Selatan

PENANEGERI, Desk Internasional- Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah memberlakukan darurat militer di Mindanao, Filipina Selatan setelah sekitar 100 pejuang Muslim mengepung sebuah kota besar setelah pertempuran senjata mematikan dengan pasukan pemerintah.

Deklarasi darurat segera diberlakukan dan akan berlangsung selama 60 hari, menurut juru bicara kepresidenan Ernesto Abella, yang membuat pengumuman tersebut pada hari Selasa dari Rusia, di mana Duterte berada dalam kunjungan resmi empat hari yang dijadwalkan.

Presiden “telah mengumumkan darurat militer untuk seluruh pulau Mindanao”, kata Abella.

“Hal ini dimungkinkan atas dasar adanya pemberontakan,” tambahnya.

Duterte juga mempersingkat perjalanannya ke Rusia, kata Menteri Luar Negeri Alan Peter Cayetano. “Presiden merasa bahwa dia dibutuhkan di Manila sesegera mungkin.”

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan bahwa darurat militer di pulau Mindanao bisa berlangsung setahun, sementara tentara berperang melawan militan di kawasan Mindanao.

Kekerasan di selatanFilipina telah menyebabkan tiga anggota pasukan keamanan tewas, kata beberapa pejabat.
Duterte sebelumnya mengumumkan darurat militer selama 60 hari di Mindanao, di mana milisi bersenjata berjuang demi otonomi kawasan.

Setelah mengumumkan darurat militer pada hari Selasa, Presiden Duterte, memperingatkan bahwa dia akan bersikap keras dalam menangani terorisme.

Baca Juga  Satu Ring Leader Abu Sayyaf Group (ASG) Tewas oleh Tentara Filipina

“Jika butuh waktu setahun untuk melakukannya, maka kita akan melakukannya. Jika sudah dalam waktu sebulan, maka saya akan senang,” katanya dalam sebuah video yang diposkan oleh pemerintah secara online.

Selama pembicaraannya di Moskow dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, dia juga mengatakan bahwa Filipina membutuhkan lebih banyak senjata modern untuk melawan militan IS dan kelompok militan lainnya.

Konstitusi Filipina mengatakan seorang presiden hanya dapat mendeklarasikan darurat militer selama 60 hari untuk menghentikan invasi atau pemberontakan.

Parlemen dapat mencabut tindakan tersebut dalam waktu 48 jam sementara Mahkamah Agung dapat meninjau kembali legalitasnya.

Ini adalah kedua kalinya darurat militer diberlakukan di Filipina  sejak  tahun 1986  era Presiden Ferdinand Marcos.

Kekerasan di Marawi, sebuah kota berpenduduk sekitar 200.000 orang di Mindanao, meletus pada hari Selasa (23/5) saat tentara tersebut mencari pemimpin kelompok militan yang telah berjanji setia kepada ISIS, kata militer.

Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana mengidentifikasi militan sebagai anggota kelompok Maute. Mereka telah menduduki rumah sakit dan penjara, dan membakar bangunan-bangunan termasuk sebuah gereja, ia menambahkan.
Marawi berjarak sekitar 800km (500 mil) selatan ibukota Manila.

Baca Juga  Satu Ring Leader Abu Sayyaf Group (ASG) Tewas oleh Tentara Filipina

Duterte telah berjanji bahwa mengusahakan kedamaian di kawasan Filipina Selatan akan menjadi prioritas utama pemerintahannya.

Dua tentara dan satu petugas polisi tewas dalam baku tembak di kota Marawi, 816km selatan Manila, sementara 12 tentara pemerintah terluka, kata Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana.

“Seluruh kota Marawi mencekam, tidak ada cahaya dan ada sniper di seluruh kota,” kata Lorenzana dalam sebuah konferensi pers di ibukota Rusia, Moskow.

Pertempuran di Marawi dimulai saat tentara Filipina menggerebek sebuah apartemen di mana para pejuang dilaporkan bertemu, menurut juru bicara militer Letnan Kolonel Jo-ar Herrera.

Orang-orang bersenjata tersebut diduga anggota dua kelompok bersenjata – Abu Sayyaf dan Maute – yang telah berjanji setia kepada Negara Islam Irak dan Levant (ISIL, juga dikenal sebagai ISIS), Herrera mengatakan.

Dalam serangan tersebut, pasukan keamanan menargetkan Isnilon Hapilon, seorang pemimpin Abu Sayyaf.
Lorenzana mengatakan pasukan tambahan akan dikirim ke Marawi pada hari Rabu (24/5).

Panglima militer Jenderal Eduardo Ano mendesak warga Marawi untuk tinggal di dalam rumah saat pertempuran berlanjut.

Baca Juga  Satu Ring Leader Abu Sayyaf Group (ASG) Tewas oleh Tentara Filipina

“Jangan pergi keluar, kunci pintu dan jendela sampai tentara kita membersihkan daerah tersebut,” katanya dalam sebuah wawancara dengan sebuah stasiun radio Manila dari Moskow. “Kami memiliki cukup pasukan di lapangan.”

Abu Sayyaf dan Maute dituding berada dibalik pemboman, serangan terhadap pasukan pemerintah, dan penculikan di Filipina. Mereka juga dikenal tak segan memenggal sandera.

Kelompok Milisi Abu Sayyaf memenggal seorang wanita tua Jerman awal tahun ini dan dua orang Kanada tahun lalu setelah tuntutan tebusan tidak dipenuhi.

Analis keamanan mengatakan Isnilon Hapilon salah satu ring leader kelompok militan Abu Sayyaf telah mencoba untuk menyatukan berbagai kelompok bersenjata yang telah mengaku setia kepada ISIL.

Hapilon dilaporkan telah memilih untuk memimpin sebuah cabang ISIL di Asia Tenggara dan berada di daftar Departemen Kehakiman AS sebagai “teroris yang paling dicari” di seluruh dunia, dengan hadiah sampai US$ 5 juta untuk penangkapannya. (*)

Komentar

Berita Terbaru