oleh

Deplu AS akan Perketat Pemeriksaan Pemohon Visa termasuk Akun Media Sosial

PENANEGERI, Desk Internasional- Departemen Luar Negeri A.S. (U.S. Department of State) akan  Perketat Pemeriksaan Visa termasuk Pemeriksaan Media Sosial bagi para pemohon Visa untuk masuk ke negara Amerika Serikat.

Departemen Luar Negeri AS telah mengajukan daftar pertanyaan yang lebih ketat untuk pemohon visa yang diyakini memerlukan pemeriksaan ekstra.

Hal ini menurut sebuah dokumen yang diterbitkan Deplu AS pada hari Kamis, seperti dikutip oleh Kantor Berita Reuters.

Upaya pemeriksaan lebih ketat bagi para pemohon visa ini demi menuju “pemeriksaan ekstrim” atau “extreme vetting”, dimana telah dikatakan Presiden Donald Trump diperlukan untuk mencegah serangan teroris.

Pertanyaan tentang akun media sosial akan menjadi bagian dari kriteria peningkatan, yang akan berlaku untuk 65.000 orang per tahun, atau sekitar 0,5 persen pemohon visa A.S. di seluruh dunia, menurut perkiraan Departemen Luar Negeri AS. Pemeriksaan ketat ini tidak menargetkan warga negara dari negara tertentu manapun.

Satu set pertanyaan baru akan berlaku untuk pemohon visa.

Pelamar visa tersebut diharuskan menyediakan semua nomor paspor sebelumnya, semua akun media sosialnya selama lima tahun terakhir, alamat email dan nomor telepon, serta informasi biografi 15 tahun, saat mengajukan permohonan visa A.S.

Baca Juga  Facebook Akui Pindai Pesan di Messenger

Petugas konsuler tidak akan meminta kata sandi pengguna untuk akun media sosial, kata dokumen tersebut.

Kriteria baru tersebut akan menandai langkah konkret pertama menuju pemeriksaan yang lebih ketat, dimana Presiden Trump telah meminta agen federal untuk mengajukan permohonan pemeriksaan lebih ketat kepada para wisatawan dari negara-negara tertentu, yang dianggapnya merupakan ancaman bagi Amerika Serikat, dalam sebuah perintah eksekutif (executive order) Kepresidenan AS yang dikeluarkan pada bulan Januari dan direvisi pada bulan Maret 2017 lalu.

“Mengumpulkan informasi tambahan dari pemohon visa yang keadaannya menyarankan agar pemeriksaan lebih lanjut akan memperkuat proses kami untuk memeriksa pelamar visa ini dan mengkonfirmasikan identitas mereka,” kata seorang pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

Pemohon visa juga kemungkinan akan diminta memberikan informasi tambahan soal tanggal-tanggal perjalanan jika petugas konsuler mengetahui bahwa pemohon berasal  dari wilayah  tertentu yang diawasi karena masalah terorisme.

Seperti diketahui ada Perintah eksekutif (executive order)  kedua Presiden Donald Trump tentang imigrasi yang melarang (travel ban) dari sejumlah negara diantaranya  : Syria, Iran, Somalia, Libya, Sudan dan Yaman, memasuki Amerika Serikat, yang dikeluarkan pada bulan Maret 2017 lalu. (*)

Komentar

Berita Terbaru