oleh

AS Desak China Berbuat lebih Banyak untuk Kendalikan Korea Utara

PENANEGERI, Desk Internasional- Pembahasan serius tentang Korea Utara adalah puncak agenda Dialog Diplomatik dan Keamanan yang baru-baru ini dilaksanakan dan menyertakan delegasi tingkat tinggi AS- China, hari Rabu (21/6).

Dialog Diplomatik antara AS dan China ini dihadiri oleh Menlu AS Rex Tillerson dan Menhan AS James Mattis. Sedangkan dari pihak China dihadiri oleh Penasihat Negara China, Yang Jiechi dan Jenderal Fang Fenghui, kepala staf gabungan militer China.

Amerika Serikat juga mendesak China untuk memberikan tekanan ekonomi dan diplomatik lebih besar kepada Korea Utara untuk membantu mengendalikan program nuklir dan misilnya selama putaran pembicaraan tingkat tinggi di Washington.

Menteri Luar Negeri (Secretary of State) AS Rex Tillerson mengatakan bahwa Amerika Serikat “menegaskan kembali kepada China bahwa mereka (China/Tiongkok) memiliki tanggung jawab diplomatik untuk memberikan tekanan ekonomi dan diplomatik yang jauh lebih besar pada rezim tersebut (Korut) jika mereka ingin mencegah eskalasi lebih lanjut di wilayah ini.”

Para pejabat A.S juga mendesak China untuk lebih keras menghadapi Korea Utara, hal ini ditegaskan AS dalam pertemuan tingkat tinggi di Washington pada hari Rabu yang juga dihadiri Menlu AS (Secretary of State) Rex Tillerson dan Menteri Pertahanan AS James Mattis.

Baca Juga  Korea Utara Tingkatkan Ancaman untuk Menguji Bom Hidrogen di Pasifik

Menyoroti bahaya yang ditimbulkan oleh Korea Utara, yang menurut Tillerson adalah “ancaman paling akut di wilayah ini saat ini.”

Apalagi setelah kematian mahasiswa AS, Otto Warmbier berusia 22 tahun, yang dilepaskan minggu lalu setelah lebih dari satu tahun dipenjara di Korea Utara. Warmbier kembali ke A.S. dalam keadaan koma, dan selang 6 minggu kemudian meninggal di AS setelah dikembalikan oleh Pemerintah Korut.

Presiden Trump mencetuskan rasa frustrasinya pada hari Selasa via Twitter bahwa China tidak berbuat lebih banyak untuk mengendalikan Korea Utara, dengan menyatakan: “Meskipun saya sangat menghargai upaya Presiden Xi & China untuk membantu Korea Utara, namun hal tersebut tidak berjalan baik. Setidaknya aku tahu China telah mencoba! ” ujar Presiden Trump.

Ditanya tentang pernyataan Twitter tersebut, Mattis mengatakan Trump mewakili “frustrasi orang-orang Amerika terhadap rezim yang memprovokasi, memprovokasi, dan memprovokasi, dan pada dasarnya bermain di luar peraturan, bermain cepat dan lepas dengan kebenaran.”

Menteri Pertahanan AS James Mattis juga menyatakan keprihatinan mendalam atas meninggalnya mahasiswa AS Otto Warmbier setelah dilepas pihak Korut.

Baca Juga  Antisipasi Hari jadi Militer Korea Utara ke-85, Amerika siagakan Kapal Selam Nuklir

“Pada dasarnya,kami melihat seorang pemuda pergi ke sana dengan sehat dan dengan tindakan nakal kecil, kemudian pulang ke rumah, dan meninggal, ” kata Mattis. “Ini melampaui pemahaman hukum dan ketertiban, kemanusiaan, tanggung jawab terhadap manusia mana pun,” ujar Mattis dalam sebuah pernyataan kepada media.

Sedangkan Menlu Tillerson mengatakan bahwa Amerika Serikat dan China telah menyerukan “denuklirisasi yang lengkap, dapat diverifikasi dan tidak dapat diubah” dari Korea Utara.

Dia juga mengatakan kedua negara memiliki “pertukaran pandangan jujur” terhadap gerakan militer China di Laut China Selatan. Dimana China telah membangun pulau-pulau buatan di perairan untuk mengusahakan klaim teritorial di daerah tersebut.

“Menteri Pertahanan Mattis dan saya jelas menyatakan bahwa posisi A.S. tetap tidak berubah. Kami menentang perubahan status quo masa lalu melalui militerisasi pos terdepan di Laut China Selatan dan klaim maritim yang berlebihan yang tidak didukung oleh hukum internasional, ” kata Tillerson.

Dia menambahkan bahwa China berkomitmen untuk menyelesaikan perselisihan dengan damai dan sesuai dengan hukum internasional.

Baca Juga  Rudal Jarak Jauh dipamerkan dalam Parade di Korea Utara

Kedua negara juga membahas upaya bilateral untuk memerangi ISIS/ISIL.

“Kami memutuskan untuk mengadopsi koordinasi yang lebih besar untuk menghadapi ancaman global yang ditimbulkan oleh terorisme,” kata Tillerson. “Kami akan meminta China untuk membantu pemerintah Irak dengan cara yang spesifik dan bermakna untuk memastikan stabilitas jangka panjang dan pertumbuhan ekonomi negara tersebut saat melawan ISIS dan memulai proses pembangunan kembali yang panjang,” ujarnya. (*)

Komentar

Berita Terbaru