oleh

Di Riau, Ini Sebutan Balap Perahu Tradisionalnya

PENANEGERI, Budaya – Di Indonesia terdapat salah satu warisan budaya zaman bahari. Ketika alur perairan menjadi urat nadi perhubungan, masih tersedia pada beberapa daerah seperti pulau Irian, Kalimantan dan Sumatera. Ini hadir dalam bentuk tradisi balap perahu tradisional di Provinsi Riau yang disebut Pacu Jalur.

Dalam masyarakat Kuantan, di Kabupaten Inderagiri Hulu, Provinsi Riau, tradisi perlombaan itu telah berakar pada kehidupan masyarakat.

Balap perahu tradisional yang disebut Pacu Jalur Kuantan Singingi telah menjadi tradisi masyarakat Riau. Tradisi ini  merupakan kebiasaan adat yang teah terjaga selama ratusan tahun.

Apalagi tradisi ini tak kalah uniknya bila dibandingkan festival perahu naga yang menjadi kebiasaan masyarakat Tionghoa.

Perlombaan Balap Perahu Tradisional (Pacu Jalur)

Kegiatan unik bernama Pacu Jalur Kuantan Singingi adalah kegiatan pesta rakyat yang dilakukan turun temurun di masyarakat Kuantan Singing pada Provinsi Riau.

Pesta rakyat ini dilaksanakan tiap tahun oleh masyarakat Kuantan Singing. Dalam pelaksanaan Pacu Jalur di Kuantan Singingi terasa makin meriah karena dilakukan bareng dengan perayaan hari kemerdekaan.

Baca Juga  Perahu Oleng, Telan Korban Jiwa

Jalur untuk perlombaan

Yang dimaksud dengan jalur oleh masyarakat Kuantan yaitu sejenis perahu dari batang kayu utuh, dan tanpa dibelah-belah, di potong ataupun disambung-sambung.

Memiliki panjang antara 25-30 meter dan lebar ruang pada bagian tengah 1-1,25 meter. Ciri adalah kokoh dan kuat, artistik ramping, jadi pada waktu berpacu tak dikhawatirkan akan pecah. Sedangkan jalannya laju juga sedap dipandang. Jalur terdiri dari bagian-bagian, diantaranya :

– Luan (haluan).
– Talingo (telinga depan).
– Panggar (tempat duduk).
– Pornik (lambung).
– Ruang timbo (tempat menimba air).
– Talingo belakang.
– Kamudi (tempat pengemudi).
– Lambai-lambai/selembayung (pegangan tukang onjor).
– Pandaro (bibit jalur).
– Ular-ular (tempat duduk pendayung).
– Selembayung, ujung jalur berukir.
– Pengayak (pendayung).
– Panimbo (gayung air).

Sejarah pacu jalur

Jika kita meruntut sejarah yang diceritakan turun temurun, Pacu Jalur Kuantan ini sudah dilaksanakan sejak abad 17. Saat itu Sungai Kuantan menjadi jalur transportasi penting. Sungai itu menghubungkan warga desa Rantau Kuantan di antara Kecamatan Hulu Kuantan juga Kecamatan Cementi.

Baca Juga  Korban Perahu Tenggelam di Pulau Gosong Ditemukan Tak Bernyawa

Perahu yang oleh masyarakat disebut dengan jalur, adalah alat transportasi utama. Karena kondisi untuk transportasi darat yang tidak memungkinkan. Digunakan sebagai angkutan barang dan manusia.

Makin lama, jalur yang digunakan mulai dihias dengan ukiran indah. Mulai ukiran harimau, buaya, Kepala naga dan lain-lain.

Lokasi dan arena pacu luas sehingga penonton di tepian sungai atau di perahu perlu sarana komunikasi dengan menggunakan dentuman meriam, jika dentuman pertama berbunyi berarti jalur mudik, semua peserta meluncur untuk ancang-ancang.

Dentuman kedua, jalur peserta bersiap menurut daftar urutan. Dentuman yang ketiga, pacuan dimulai dengan peserta nomor urut pertama dan seterusnya.

Jika ingin menonton bisa menyaksikan jalannya perlombaan secara santai di pinggir sungai tanpa biaya. Penentuan pemenang adalah dewan juri atau hakim.

Komentar

Berita Terbaru