oleh

Empat Negara Lulus dari Daftar Negara Kurang Berkembang

PENANEGERI, Internasional- Empat negara berada di posisi untuk lulus dari daftar PBB untuk negara-negara terbelakang atau kurang berkembang (least developed countries/LDC)

Empat negara akan dapat segera “lulus” dari jajaran negara-negara termiskin dan paling rentan di dunia.

Hal ini dinyatakan oleh sebuah komite ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan pada hari Kamis, (15/3).

Keempat negara yang segera mentas dari sebutan ‘least developed countries’ atau Negara terbelakang/ kurang berkembang adalah : Bhutan, Kiribati, Sao Tome Principe dan Kepulauan Solomon.

Keempat Negara itu telah meningkatkan pendapatan nasional dan memperbaiki akses terhadap perawatan kesehatan dan pendidikan, membuat mereka memenuhi syarat untuk keluar dari kelompok negara-negara terbelakang atau istilahnya : Least Developed Countries (LDC).

“Ini adalah peristiwa bersejarah,” kata Jose Antonio Ocampo, ketua Komite Kebijakan Pembangunan atau Committee for Development Policy (CDP), mencatat bahwa hanya lima negara yang lulus sejak PBB membentuk kategori LDC pada tahun 1971.

LDC (Least Developed Countries), dinilai dengan tiga kriteria: target kesehatan dan pendidikan; kerentanan ekonomi dan pendapatan nasional bruto per kapita.

Negara harus memenuhi dua dari tiga kriteria tersebut dalam dua ulasan tiga tahunan berturut-turut dari CDP (Committee for Development Policy) yang akan dipertimbangkan untuk mentas atau lulus.

Komite akan mengirimkan rekomendasinya ke Dewan Ekonomi dan Sosial PBB atau UN Economic and Social Council (ECOSOC) untuk pengesahan, yang kemudian akan merujuk keputusannya ke Majelis Umum PBB ( UN General Assembly).

Menurut anggota CDP Diane Elson, seorang profesor di University of Essex di Inggris, pengumuman Kamis (15/3) ini adalah kabar baik bagi jutaan wanita di daerah pedesaan.

Dia menunjukkan bahwa sesi terakhir Komisi PBB untuk Status Perempuan atau Commission on the Status of Women (CSW), yang saat ini sedang berjalan di New York, membahas tantangan yang dihadapi populasi ini.

“Keberhasilan negara-negara yang lulus mencerminkan hal-hal seperti peningkatan kesehatan dan pendidikan masyarakat, yang meluas ke perempuan pedesaan, dan peningkatan pendapatan di negara ini, yang meluas ke perempuan pedesaan,” katanya.

Namun, Elson menekankan bahwa negara-negara tersebut memerlukan dukungan internasional yang terus berlanjut karena mereka tetap rentan terhadap guncangan eksternal, termasuk dampak perubahan iklim.

Jose Antonio Ocampo mengatakan kerentanan ini sangat terlihat di negara-negara Kepulauan Pasifik seperti Kiribati.

Secara global, ada 47 negara LDC (Least Developed Countries), menurut Kantor Perwakilan Tinggi PBB untuk Negara-negara kurang berkembang, Negara-negara berkembang yang terbatasi, dan Negara-negara Berkembang kepulauan Kecil (UN Office of the High Representative for the Least Developed Countries, Landlocked Developing Countries and Small Island Developing States).

Mayoritas, 33 negara LDC berada di Afrika, sementara 13 LDC dapat ditemukan di wilayah Asia Pasifik, dan satu di Amerika Latin.

Dalam 47 tahun keberadaan kategori LDC, hanya lima negara yang lulus (Botswana, Cabo Verde, Guinea Khatulistiwa/ Equatorial Guinea, dan Maldives/ Maladewa dan Samoa).

CDP mengatakan dua negara lagi, Vanuatu dan Angola, dijadwalkan untuk lulus selama tiga tahun ke depan.

Nepal dan Timor-Leste juga memenuhi kriteria namun tidak direkomendasikan untuk lulus dari LDC saat ini, karena tantangan ekonomi dan politik.

Keputusan tersebut akan ditangguhkan pada tinjauan ulang triwulanan CDP berikutnya pada tahun 2021, menurut Ocampo.

Bangladesh, Republik Demokratik Rakyat Laos (Lao People’s Democratic Republic) dan Myanmar memenuhi kriteria kelulusan dari daftar LDC (Least Developed Countries) untuk pertama kalinya namun harus melakukannya untuk kedua kalinya agar memenuhi syarat untuk dipertimbangkan.(*)

Komentar

Berita Terbaru