oleh

Forum PBB Koordinasikan Upaya Global untuk Mengatasi Kekurangan Air Bersih

PENANEGERI, Internasional- Dengan cuaca ekstrim yang merugikan ratusan miliar per tahun. Dikhawatirkan bahwa suatu saat nanti pada tahun 2050, ada kekhawatiran bahwa satu dari empat orang akan tinggal di negara yang terkena dampak kekurangan air bersih yang parah.

Maka konferensi global yang sedang berlangsung pada hari Senin 7 Mei 2018 yang diselenggarakan oleh badan meteorologi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), membahas untuk mengelola sumber daya yang berharga, dan lebih berkelanjutan.

Masalahnya semakin dipersulit oleh kurangnya data pasokan air yang komprehensif dan sistem pemantauan yang membuat lebih sulit untuk menanggapi krisis yang sedang berkembang.

“Kami tidak dapat mengelola apa yang tidak kami ukur,” kata Harry Lins, Presiden Komisi Meteorologi Organisasi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) untuk Hidrologi.

“Namun sistem dan pengumpulan data yang mendukung layanan penting ini kepada masyarakat berada di bawah tekanan nyata,” tambahnya, menggarisbawahi bahwa pengambilan keputusan berdasarkan informasi harus didasarkan pada fakta dan angka yang komprehensif.

Konferensi ini merangkum tantangan utama yang mendasari HydroConference milik lembaga, yang berlangsung di Jenewa dari 7-9 Mei 2018,  dan guna mencari cara untuk berusaha mengatasinya.

Juga konferensi ini menyatukan keseluruhan penuh dari apa yang disebut “stakeholder air” – pengambil keputusan, layanan meteorologi dan hidrologi; sektor swasta dan akademik; organisasi non-pemerintah, dan entitas PBB – di sekitar meja yang sama untuk mengkoordinasikan upaya serta memanfaatkan pengetahuan individu dan keahlian kolektif untuk efek maksimum.

Sekretaris Jenderal WMO (World Meteorological Organization) Petteri Taalas mengatakan penting bagi semua pihak pelaku untuk mengatasi skala tantangan yang ada di depan, dengan menyebut dua kekeringan ekstrem dan banjir.

“Kebijakan banjir dan kekeringan yang efektif dapat diimplementasikan hanya dengan data dan model untuk menilai frekuensi dan besarnya kejadian ekstrim,” katanya, menambahkan bahwa hal yang sama juga berlaku untuk tujuan lain yang berkaitan dengan air dan penggunaannya yang efisien; termasuk yang ada dalam ‘2030 Agenda for Sustainable Development’  atau  Agenda untuk Pembangunan Berkelanjutan tahun 2030.

Tujuan-tujuan Pembangunan Berkelanjutan 6  atau Sustainable Development Goal 6 (SDG 6) secara eksplisit menyerukan pengelolaan air dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua.

Air juga merupakan komponen kunci untuk tujuan lainnya termasuk yang menghilangkan kemiskinan ekstrim (SDG 1); sepereti halnya Tujuan 2, untuk memberantas kelaparan dan kekurangan gizi, serta Tujuan 13 tentang mitigasi perubahan iklim. (*)

Komentar

Berita Terbaru