oleh

Forum Pemuda PBB : Dunia Membutuhkan Generasi Pribadi ‘Pahlawan Super’

PENANEGERI, Internasional – Dunia membutuhkan orang-orang muda yang bermimpi besar dan dapat bertahan baik  dalam kegagalan maupun rasa sakit, ujar Pita Taufatofua, seorang atlet idola Olympiade dari Tonga mengatakan pada pertemuan pemuda di PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) pada hari Rabu 30 Mei 2018, seperti dirilis oleh situs resmi PBB.

“Dunia tidak membutuhkan kekerasan, tidak perlu bom, dunia membutuhkan pemuda hari ini untuk menjadi pahlawan super,” kata Pita Taufatofua, atlet Tonga yang menjadi “superhero” sendiri dua tahun lalu ketika dia tanpa memakai kaos dan dengan badan mengkilat karena diminyaki, berbaris membawa bendera negaranya selama upacara pembukaan Olimpiade Musim Panas di Rio tahun 2016.

Di PBB, mengenakan bajunya, dia mengatakan bahwa saudaranya menasihatinya untuk “pakai bajumu dan meninggalkan minyak di rumah”.

Nasihat kedua dari saudaranya adalah, “katakan yang sebenarnya, berikan pada pemuda dengan sesuatu yang dapat mereka gunakan untuk masa depan,” kata Pita Taufatofua.

Suatu hari di masa kecilnya, dia pulang dengan ayahnya, mengharapkan bahwa pakaian superhero sedang menunggunya di rumah. Tapi tidak ada yang menunggunya.

Baca Juga  Forum Pemuda Dunia : “Singsingkan Lengan Bajumu”

“Itu adalah pengalaman pertama saya tentang kekecewaan,” katanya.

Jadi apa yang dilakukan orang ketika mereka kecewa, dia bertanya.

“Mereka meminimalkan harapan mereka sendiri karena itulah cara kita mengurangi rasa sakit,” katanya.

“Sayangnya, dengan meminimalkan harapan pada diri sendiri, kita juga meminimalkan potensi kita untuk mencapai impian dan tujuan kita.” ujarnya.

Formula untuk menjadi ‘superhero’ adalah memiliki kemampuan untuk menangani kegagalan dan rasa sakit dan untuk bermimpi besar, katanya.

Dia bermimpi menjadi seorang Olympian ketika dia berumur 12. Mimpi itu tidak pernah meninggalkannya. Setelah 20 tahun berjuang, mimpinya itu akhirnya menjadi kenyataan di Olimpiade musim panas Rio tahun 2016.

Sekarang berumur 34 tahun, dia adalah salah satu dari banyak pembicara yang diundang ke acara hari ini, yang berjudul Dialog Pemuda, yang diadakan untuk membawa Perserikatan Bangsa-Bangsa lebih dekat kepada orang-orang muda.

Acara satu hari itu berusaha menyoroti gagasan, kebutuhan, dan keprihatinan kaum muda tentang pendidikan dan pekerjaan, serta bagaimana mencegah radikalisasi pemuda.

Baca Juga  Pemuda Ujung Tombak Kemajuan Bangsa

“Mereka masih merasa mereka dikeluarkan, dari keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Mereka tidak diundang ke meja di mana mereka seharusnya berada. Cukup sering, mereka memiliki perasaan bahwa ketika mereka berbicara tidak ada yang mendengarkan,” kata Miroslav Lajčák, Presiden Majelis Umum PBB, menjelaskan bahwa ini adalah mengapa dia menjadi tuan rumah acara tersebut.

Jayathma Wickramanayake, Utusan Sekretaris Jenderal PBB untuk Pemuda, mengatakan bahwa sebagian besar media arus utama (mainstream) tampaknya “dalam sebuah misi” untuk menciptakan citra generasi muda sebagai generasi orang yang ceroboh atau malas, yang, jika tidak dikelola dengan baik, dapat berubah menjadi ancaman atau beban ke suatu negara.

Namun, itu tidak terjadi, ia berpendapat: “Jika kita ingin mencapai Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) secara realistis, generasi kita lah yang akan melakukan ini. Kita adalah generasi SDG. Seluruh dunia dapat mencoba, tetapi mereka tidak dapat, atau tidak akan, membuatnya berhasil tanpa [kita]. ”

Atau dikenal sebagai Global Goals, SDGs (Sustainable Development Goals) adalah panggilan universal untuk bertindak untuk mengakhiri kemiskinan, melindungi planet ini dan memastikan bahwa semua orang menikmati kedamaian dan kemakmuran.

Baca Juga  Kemenpora Beri Penghargaan Tim Pemuda Juara Dunia Sepakbola Robot

Pembicara lain termasuk Sheikha Hind bint Hamad Al-Thani, Wakil Ketua dan Chief Executive Officer Yayasan Qatar untuk Pendidikan, Sains dan Pengembangan Masyarakat (Vice-Chairperson and Chief Executive Officer of Qatar Foundation for Education); Mari Malek, model, disc jockey dan pendiri “Stand For Education” dan penyanyi Emmanuel Kelly. (*)

Komentar

Berita Terbaru