oleh

Gadjah Puteh : Alam Peudeng Simbol Kejayaan Aceh

PENANEGERI, Aceh Tamiang – Bendera “Alam Peudeung” yang telah mendunia sejak ratusan tahun lalu merupakan simbol Aceh yang sebenarnya. Bendera yang berwarna merah dengan gambar bulan bintang dan pedang tersebut, telah lama menjadi simbol bagi “Bangsa Aceh”, terutama pada masa kejayaan kesultanan Aceh dibawah pimpinan Sultan Iskandar Muda. Jadi, sudah selayaknya kalangan DPR Aceh untuk segera menetapkan kembali bendera “Alam Peudeung” itu sebagai bendera Aceh.

“Sekarang saatnya kita menghentikan semua perdebatan dalam merancang dan menetapkan Qanun bendera Aceh. Kalangan DRPA harus melihat historis Aceh dan tidak sembarangan menetapkan simbol-simbol lain sebagai bendera Aceh, karena bendera Alam Peudeung merupakan bendera Aceh yang sebenarnya,” ujar Direktur Eksekutif Gadjah Puteh, Sayed Zahirsyah Al Mahdaly, Rabu (8/3), menyikapi moment peringatan 334 tahun hubungan Aceh – Haramain (Arab).

Dikatakan Sayed Zahirsyah, polemik yang terjadi selama ini menyangkut  Qanun Bendera Aceh masih belum berujung. Hal ini disebabkan kalangan DPRA terkesan terlalu memaksakan kehendak untuk memasukkan simbol-simbol lain yang akan dijadikan bendera Aceh. Padahal simbol-simbol yang diinginkan oleh kalangan Dewan sebagai bendera Aceh tersebut, sama sekali tidak mewakili keinginan seluruh etnis yang ada di Aceh.

Baca Juga  Alam Peudeng Kembali Berkibar di Tamiang

Dimana setiap daerah di Aceh memiliki ragam budaya masing-masing. Malah banyak suara sumbang yang menolak, pernah muncul dari daerah-daerah di Aceh terkait pembahasan Qanun Bendera Aceh, sebagaimana yang diinginkan kalangan politisi di gedung DPRA.

“Dalam sejarah,  Bendera Aceh yang sebenarnya adalah bergambar Bulan Bintang dan Pedang. Dengan Bendera Aceh yang bernama Bendera Alam Peudeung itu, telah menumbuhkan semangat persatuan serta membawa kejayaan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Aceh pada masa lampau. Jadi bukan gambar-gambar lain yang merupakan ciri simbol-simbol kelompok tertentu sebagaimana dipaksakan oleh DPRA untuk dijadikan bendera Aceh,” tandasnya.

Karena itu Sayed meminta semua pihak untuk segera mengakhiri seluruh perdebatan terkait Bendera Aceh, terutama kalangan anggota legislatif Aceh agar tidak terus menerus memaksakan kehendak politik mereka yang bersifat semu.

“Lebih baik kita tetapkan saja bendera Alam Peudeung sebagai bendera yang sah di Aceh. Karena dengan bendera Alam Peudeung itu diharapkan akan menularkan semangat persatuan dan kesejahteraan rakyat, sebagaimana yang telah terjadi pada 334 tahun lalu saat Sultan Iskandar Muda memimpin Aceh,” pungkas Sayed.

Komentar

Berita Terbaru