oleh

Gadjah Puteh : Alam Peudeung Harus Dilestarikan

PENANEGERI, Langsa – Setelah kabar penurunan bendera Alam Peudeung yang ditemukan berkibar di Aceh Tamiang dan  Kota Langsa, Sabtu (5/8) dan Minggu (6/8) pagi, hal tersebut mendapat tanggapan beragam oleh sejumlah elemen masyarakat di wilayah setempat.

Baca : 3 Bendera Alam Peudeung Berkibar di Tamiang

Seperti yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif Gadjah Puteh, Sayed Zahirsyah Almahdaly, bahwa pengibaran bendera tersebut tak perlu dibesar-besarkan yang seolah hal itu menyalahi aturan.

“Alam Peudeung itu bendera dan lambang sejarah kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam dan bukan bendera separatis,” tegasnya.

Bendera merah berlambang pedang raja, bulan sabit dan bintang yang  berkibar di Kabupaten Aceh Tamiang, itu bisa saja sebagai bentuk suka cita masyarakat yang paham akan sejarah dan kejayaan budaya masa indatu.

“Seperti ada kerinduan kebesaran sejarah kejayaan Aceh yang terselip dibalik pengibaran itu, dan jika kita berpijak pada aturan yang ada maka hal itu bukanlah sebuah pelanggaran,” terang Sayed.

Hal itu dengan tegas diterangkan dalam peraturan pemerintah (PP) nomor 77 tahun 2007 yang menegaskan bahwa Alam Peudeung tidak termasuk dalam kategori bendera separatis.

Baca Juga  Terima Aspal Tambal Sulam, Gadjah Puteh Kecam Komisi D DPRK Aceh Tamiang

Dikatakannya, maka sangat jelas landasannya bahwa bendera itu bukan ingin menandingi sang Merah Putih, namun bagai sebuah harapan masyarakat Aceh.

“Agar kiranya bendera itu dapat dijadikan sebagai simbol atau bendera daerah Aceh yang punya histori sangat erat  dari sejarah silam.,” pungkas aktivis asal Langsa itu.

Komentar

Berita Terbaru