oleh

Gadjah Puteh : Sejarah Aceh Bukan Dimulai Hasan Tiro

PENANEGERI, Langsa – Sejarah Aceh bukan dimulai oleh Hasan Tiro, disaat ia memproklamirkan Gerakan Aceh Merdeka, namun sejarah Aceh telah berlangsung lama, sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Baca : Keturunan raja Aceh masih ada, kenapa wali Nya yang berkuasa . . .

Jangan sekali-kali melupakan sejarah yang panjang ini, perjuangan dan pengorbanan para Indatu patut diapresiasi dan mesti terus dilestarikan sebagai warisan bagi generasi masa kini dan masa yang akan datang, demikian ungkap Direktur Eksekutif DPP LSM Gadjah Puteh menyikapi permasalahan Wali Nanggroe saat ini yang bukan keturunan raja.

“Generasi yang akan datang harus diwarisi dengan kebenaran sejarah, Aceh tidak dimulai oleh perjuangan GAM dibawah kendali Hasan Tiro, Kesalahan ini yang harus diperbaiki dan diluruskan, jika tidak, generasi Aceh mendatang akan membangun sejarahnya sendiri tanpa landasan sejarah yang benar dari para pendahulunya dan pada akhirnya generasi ini tidak pernah belajar, justru hanya mengulang-ulang kesalahan yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulunya“, tegas Sayed kepada Penanegeri.com, Sabtu (28/1).

Baca Juga  Gadjah Puteh Laporkan Kasus Pungli K2 ke Polda Aceh

Sayed menambahkan, agar pemerintahan Aceh dan generasi saat ini untuk berhenti melakukan pembodohan sejarah, karena hal ini dibuktikan dengan adanya Lembaga Wali Nanggroe yang dijabat oleh sosok yang bukan dari garis keturunan Raja Aceh.

Sangat ironi tentunya, padahal keberadaan keturunan raja Aceh masih ada hingga saat ini, namun pemerintah Aceh nyaris menafikannya. Para keturunan Raja Aceh ini masih terdata dan tersebar dibeberapa wilayah Aceh, yaitu sembilan keturunan raja, masing-masing dari Kerajaan Pidie, Raja Nagan, Raja Negeri Daya, Raja Pasee, Raja Peurelak, Raja Aceh, Raja Trumon, Raja Tamiang dan Raja Linge.

Menurutnya, sepahit apapun sejarah harus dikemukakan apa adanya dengan benar. Tidak perlu dibelok-belokkan. Membuka kebenaran sejarah jangan dimaknai sebagai upaya menggetarkan luka lama dan melahirkan dendam, tapi justru harus disikapi secara dewasa agar tidak terjadi kesalahpahaman berkepanjangan.

“Padahal keturunan Raja Aceh masih ada, tapi kenapa Wali yang berkuasa. Wali yang semestiya sebagai pengayom kerukunan seluruh masyarakat Aceh justru menjadi mesin politik golongan tertentu saja, sehingga lembaga yang tidak jelas fungsinya ini pun terus mendapat kecaman dan tudingan miring dari mayoritas masyarakat Aceh”, tutup Sayed mengakhiri tanggapannya.

Komentar

Berita Terbaru