oleh

Halangi Wartawan Memotret, Mantan Ketua DPD PAN Dipolisikan

PENANEGERI, Aceh Tamiang – Mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah Partai Amanat Nasional (DPD-PAN) Aceh Tamiang periode 2004-2009, H Umran dilaporkan ke Polres Aceh Tamiang oleh wartawan senior, Muhammad Hanafiah alias Agam Fawirsa karena telah menghalangi tugas jurnalis saat mengambil foto pada suatu acara di daerah setempat.

M Hanafiah kepada Penanegeri.com di ruang SPKT Mapolres Aceh Tamiang, Senin (27/3) lalu, menyesalkan perisitiwa tersebut. Untuk apa dan dasar apa mantan Ketua DPD PAN Aceh Tamiang, H Umran dan laki-laki berambut pendek itu melarang memotret dan meliput berita.

“Sekedar dia tau, aku ada surat tugas meliput bukan hanya di Aceh Tamiang tapi di Indonesia yang ditandatangani oleh Ketua Dewan Pers Bagir Manan. Aku penulis yang jelas bukan penulis ilegal,” sesalnya sebelum membuat laporan polisi.

Pria berambut silver metalic ini menceritakan, ia dihalang-halangi oleh dua orang sekaligus yakni, H Umran dan seorang laki-laki paruh baya berambut cepak yang tidak dikenalnya, tapi ikut menarik tangan sang wartawan. Saat itu Agam hendak mengambil foto Wakil Ketua II DPRK, Nora Idah Nita, SE yang akan mempeusijuk Bupati/Wakil Bupati terpilih paslon Bermutu dalam acara syukuran di Darwis Futsal, Desa Benua Raja, Kecamatan Rantau, beberapa waktu lalu.

Baca Juga  Polsek Seruway Terima Senpi Hasil Temuan Warga

“Bang Agam mau ambil foto Bu Nora, tiba-tiba dilarang dengan cara menarik tangan bang Agam sampai bergetar tangan mereka, sepertinya geram kali,” jelasnya.

“Untuk apa kau foto-foto disini, semua berita yang kau tulis itu berbau fitnah, seperti yang kau beritakan untuk anakku waktu itu,” ujar Agam menirukan perkataan dua orang yang sempat tarik menarik dengannya.

Walau demikian Agam tidak terpancing emosi. Wartawan senior ini memilih diam sambil memasukkan kembali kamera DLSR kedalam tas ranselnya dan tidak jadi memotret. Saat insiden itu berlangsung, menurut Agam banyak saksi mata yang melihat termasuk Ketua DPRK Atam, Fadlon dan sejumlah anggota dewan lainnya. Dirinya tidak menyangka Haji Umran yang juga tokoh masyarakat Desa Paya Bedi itu bisa bertindak demikian, karena selama ini mereka berteman baik.

“Saya sudah dipermalukan didepan umum tepat dibarisan meja bundar Ketua DPRK Fadlon, duduk. Semua mata menatap ke arah saya mungkin dengan pandangan heran, karena selama 15 tahun lebih saya bertugas menjadi jurnalis tidak pernah ada larangan seperti ini, apalagi kita meliput karena diundang,” tambahnya dengan nada kecewa.

Baca Juga  Karyawan PT Seumadam Bermalam di Gedung DPRK Hingga Tuntutannya Dipenuhi

Laporan Muhammad Hanafiah diterima oleh Brigadir M Heri yang tertuang dalam Nomor: LP/B/28/III/2017/SPKT Resor Aceh Tamiang dengan dugaan Pasal 18, ayat 1 jo Pasal 4, ayat 2 dan 3 UU RI Nomor 40/1999 tentang Pers Nasional dengan uraian; melarang anggota pers untuk mencari, memperoleh berita dan menyebarluaskan gagasan dan informasi atau termasuk tindakan perbuatan tidak menyenangkan.

Sementara, meski sudah memegang Surat Keterangan Tanda Bukti Lapor Nomor: STBL/28/III/2017/SPKT yang telah berjalan tiga hari, Agam belum juga dipanggil guna menjalani BAP.

“Bang Agam belum di BAP masih nunggu surat panggilan dari Polres,” ujarnya Kamis (30/3).

Kapolres Aceh Tamiang AKBP Yoga Prasetyo, SIK melalui Kasat Reskrim Iptu Ferdian Chandra, S.Sos membenarkan pihaknya sudah menerima laporan Muhammad Hanafiah alias Agam. Kasat juga menyatakan segera memproses dan menindaklanjuti laporan tersebut.

“Pelapor belum di BAP, surat panggilan akan langsung diarahkan ke Unit Reskrim. Saat ini sedang dilakukan peyelidikan untuk kepentingan gelar perkara baru melakukan penyidikan dengan memanggil terlapor,” tandasnya.

Komentar

Berita Terbaru