oleh

Hamdani Raden: Himbauan Standarisasi, Kesan Warkop di Bireuen Sudah Sangat Parah 

PENANEGERI, Bireuen – Menanggapi selebaran imbauan tentang standarisasi warung kopi/cafe dan restoran sesuai syariat Islam yang diterbitkan Bupati Bireuen, H. Saifannur, baru-baru ini terkesan kurang tepat.

Hal itu dikatakan salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Bireuen, Drs. H. Hamdani Raden kepada wartawan, Jumat (7/9) terkait selebaran himbauan yang kini dibicarakan masyarakat dan menjadi isu nasional.

Menurut mantan penjabat (Pj) Bupati Bireuen itu, dirinya merasa malu dengan keberadaan selebaran imbauan itu. Alasannya, dengan adanya standarisasi ini terkesan dan seakan-akan warung kopi atau kafe dan restoran di Kabupaten Bireuen, sudah sangat parah pelanggaran syariat Islam.

“Dengan kesan seperti ini, sehingga harus diterbitkan selebaran standarisasi untuk mengaturnya yang sesuai dengan syariat Islam. Sebenarnya banyak hal lain yang lebih urgent dan membutuhkan penanganannya,” katanya.

Belakangan ini, kata Hamdani Raden kalau duduk-duduk di warung kopi di kawasan Banda Aceh, kami dari Bireuen sering diledek sama rekan-rekan dari daerah lain. Bahkan mereka menanyakan, apakah sudah sangat parah pelanggaran syariat Islam di Bireuen, sehingga harus dikeluarkan himbauan itu.

Sepengetahuannya yang sering pulang ke Bireuen dan juga kerap ngopi bersama warga setempat di warung-warung kopi, tidak demikian adanya.

“Selama ini aktivitas di warung-warung kopi atau cafe di Bireuen, masih dalam batas-batas kewajaran. Sama halnya seperti di tempat lain di Aceh yang juga berlaku syariat Islam,” terangnya.

Dalam hal ini Hamdani Raden juga menegaskan, pernyataannya ini jangan disalahtafsirkan, apa lagi dipertentangkan dengan syariat Islam yang berlaku di Aceh.

Ia mengaku, setuju dan mendukung sepenuhnya terhadap imbauan standarisasi warung kopi/cafe dan restoran sesuai syariat Islam. Tapi ada poin-poin yang tidak perlu diatur sedemikian rupa dan terkesan dipaksakan.

Contoh pada poin terakhir nomor urut 14 yang menyebutkan, pelayanan cafe dan restoran dibuka pukul 06.00 WIB dan ditutup pukul 24.00 WIB.

“Kalau ditutup lewat pukul tersebut dan juga warung-warung yang buka 24 jam, apakah itu sudah melanggar syariat Islam,” sebutnya.

Dengan kondisi ini, tentu dapat mematikan perekonomian masyarakat. Bahkan tidak sejalan dan bertentangan dengan visi misi Bupati Saifannur yang ingin menjadikan Bireuen sebagai kota perdagangan, persinggahan dan pusat kuliner.

“Lalu bagaimana bisa diwujudkan, bila aktivitas di warung-warung dibatasi hanya boleh dibuka hingga pukul 24.00 WIB,” tanya Hamdani Raden yang gagal paham dengan imbauan standarisasi yang telah beredar di masyarakat.

Komentar

Berita Terbaru