oleh

Harga Anjlok, Petani Karet Mengeluh

PENANEGERI, Aceh Tamiang –  Selama empat tahun terakhir harga getah (karet) semakin anjlok, yakni sebesar Rp 6000/kg. Hal ini membuat petani karet di Kabupaten Aceh Tamiang mengeluhkan harga getah basah ditingkat agen pengepul.

Abdul Majid, salah seorang petani karet Desa Paya Tampah, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, kepada Penanegeri.com dilokasi penjualan getah, Senin (9/10) siang mengatakan, turunnya harga getah membuat kondisi kaum petani karet semakin terpuruk untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Tiga minggu yang lalu harga getah masih Rp 7000-Rp 8000/kg, tapi belakangan ini turun lagi hingga Rp 6000/kg,”  ujarnya.

Saat ditemui, Abdul Majid bersama petani lainnya sedang menunggu agen dan bersiap untuk menimbang hasil sadapan selama sepekan. Meski akan menjual hasil bumi, ekspresi wajahnya terlihat tak bahagia disebabkan harga getah yang belum bersahabat dengan petani.

“Sekarang, hasil penjualan getah hanya pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Petani semakin menjerit, selama empat tahun harga getah tidak pernah naik,” terang Abdul Majid.

Ironisnya, sambung Abdul Majid, selain harga murah, setiap penimbangan getah basah para petani wajib kena potongan sebesar 10 persen oleh agen, karena getah banyak mengandung air. Kendati harga karet kering lebih mahal, sambung Abdul Majid, namun mereka lebih memilih menjual getah basah, karena proses kerjanya lebih simpel.

Petani lain, Ajis turut menyampaikan hal senada, harga karet di Aceh Tamiang mengalami keterpurukan selama empat tahun terakhir, bahkan pernah merosot tajam Rp 5000/kg. Sampai akhirnya banyak petani karet memilih tidak mau mengurusi kebunnya dan banting setir mencari pekerjaan lain.

“Harga getah paling tinggi Rp 7000/kg, kami tidak pernah merasakan lagi harga diatas Rp 10 ribu/kg. Kecuali pada masa Presiden BJ Habibie harga getah pernah tembus Rp 20 ribu/kg,” paparnya.

Lebih lanjut Ajis menjelaskan, para petani karet berharap di masa mendatang dibawah kepemimpinan Bupati yang sudah terpilih, Mursil dapat memperjuangkan harga komoditas pertanian dan perkebunan terutama getah karet, sehingga bisa kembali normal minimal Rp 10 ribu/kg.

“Harapan kami harga getah naik, setidaknya Rp 10 ribu/kg kami rasa baru cukup untuk kesejahteraan petani. Sesuai janji pak Mursil dalam kampanyenya akan menaikkan harga getah, suara pak Mursil pun menang telak disini,” tuturnya penuh harap.

Petani Karet

Sementara itu, petani karwt lainnya, Misdi menambahkan, jika produksi meningkat penghasilannya dari kebun karet seluas 1 hektare mencapai 100 kg/pekan. Namun dengan harga yang murah, uang dari penjualan getah tidak pernah bisa ditabung. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya dia terpaksa cari pekrjaan sampingan seperti menjadi kuli bangunan. Misdi baru memegang uang sekitar Rp 500 ribu waktu tiba timbang getah di Desa Paya Tampah dalam seminggu hanya dua kali, yakni setiap hari Senin dan Kamis.

“Dulu waktu harga mahal ya cukup, sekarang tidak lagi, apalagi banyak anak yang sekolah perlu biaya besar, ini sangat berat kami rasakan,” keluhnya.

Terkait anjloknya harga getah karet di Aceh Tamiang hingga Rp 6000/kg, Direktur Kualasimpang Development Aid (KDA), Saggaf turut memberikan tanggapannya, ada tiga hal yang membuat harga getah secara nasional terus menurun, yang pertama dari bibit karet yang ditanam petani harus benar-benar bibit berkualitas tinggi yang bersertifikat agar mendapatkan jumlah produksi yang maksimal. Petani khusus karet juga wajib di didik mengikuti pelatihan sesering mungkin terkait masalah penanganan karet.

“Pemerintah daerah mestinya lebih proaktif karena harus ada kemauan dan upaya dari pemerintah lokal yang membantu. Caranya dengan memborong hasil komoditas pertanian dan perkebunan dari petani untuk mencari harga yang bagus diluar daerah seperti di Medan,” sarannya.

Komentar

Berita Terbaru