oleh

Hingga Tuanku Arifin Wafat, Tak Pernah Ada Penobatan Putra Mahkota

PENANEGERI, Aceh Tamiang – Keluarga Besar Kerajaan Karang Tamiang ke-10 dari garis keturunan Raja Tuanku Tengku Muhammad Arifin, mengatakan, tidak ada yang dinobatkan sebagai Raja Karang setelah kepemimpinan Raja Karang ke-10 yakni, Tuanku Tengku Muhammad Arifin. Karena ketika Raja bertahta pastinya akan mempersiapkan putra mahkota sebagai penerus tahta kerajaan berikutnya. Faktanya, hal itu tidak dilakukan sampai beliau wafat.

Sehingga, jika ada yang mengaku dan dinobatkan sebagai Raja Karang yang baru, tidak dapat kami akui sebagai pewaris kerajaan yang sah. Hal tersebut diungkapkan Tengku Ilham, selaku perwakilan keluarga besar Raja Karang ke-10, Tuanku TM Arifin, saat menggelar konferensi pers di eks Gedung Istana Karang yang kini dijadikan Museum Aceh Tamiang, di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Rabu (1/3).

Jumpa pers tersebut juga mengklarifikasi isu multi tafsir silsilah Kerajaan Karang terkait penobatan atau pengukuhan, Tengku Rahmansyah Fauzi Al Haji Bin Tengku Khaidir sebagai Raja Karang ke-VIII yang dilakukan beberapa waktu lalu.

Baca Juga  Beko Milik UPTD Aceh Tamiang Tenggelam di Areal Tambak

“Kami datang kemari ingin meluruskan silsilah dari keturunan Raja Karang. Keluarga dari Jakarta, Bandung, Medan dan Aceh Tamiang semua mempertanyakan penobatan Raja Karang ke VIII tersebut. Pihak keluarga bukannya ingin mempersoalkan itu. Namun, tindakan yang dilakukan Tengku Fauzi mengklaim sebagai Raja Karang ke-VIII, kami tidak bertanggung jawab atas hal itu,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Hj T Arfah (82) selaku anak kandung dari Raja Karang ke-10 Tuanku TM Arifin juga menyayangkan penobatan Raja Karang secara sepihak tersebut. Seingatnya, setelah wafatnya Raja Tuanku Arifin pada tahun 1962 tidak pernah lagi menunjuk atau menobatkan putra mahkota pengganti sang Raja.

Sedangkan, Raja Karang ke-VIII jika dilihat berdasarkan silsilah Kerajaan Karang sudah tiada yaitu adalah Almarhum moyangnya. Sementara Raja Karang yang terakhir adalah Almarhum TM Arifin sebagai penerus Raja Karang  yang ke-10.

“Selama ayah saya Tuanku Arifin masih hidup hingga wafat, tak ada lagi penobatan Raja, karena beliau tidak pernah berwasiat. Jadi, saat ini tidak ada lagi putra mahkota Raja Karang,” ujarnya.

Baca Juga  Tingkatkan Pengetahuan Masyarakat Tamiang, Kemenpar RI Adakan Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan

TM Haris, selaku juru bicara keluarga besar Kerajaan Karang Tamiang yang juga cucu Raja Tuanku Arifin menyatakan, sepatutnya penobatan dan pengukuhan raja harus melalui musyawarah dewan pertimbangan yang melibatkan keluarga dan keturunan dari 12 anak ahli waris Tuanku Arifin.

“Namun penobatan Raja itu dilakukan secara sepihak dan kami tidak mengakuinya,” ucapnya.

Kendati demikian pihaknya tidak mau mempersoalkan tentang penobatan Raja Karang ke-VIII tersebut, karena bagaimanapun mereka masih memiliki hubungan sedarah dari keturunan Tuanku Arifin.

Cucu Raja Karang lainnya, Amir Hasan Nazri Al Mujahid, SH yang memprakarsai konfrensi pers tersebut menjelaskan, kedatangan keluarga besar Raja Karang ingin mengklarifikasi silsilah terkait penobatan sang Raja yang telah membuat heboh masyarakat Aceh Tamiang. Mereka terdiri, Tgk Sueb dari Tamiang, Tgk Ilham dan Tgk M Haris dari Medan dan Hj T Arfah dari Banda Aceh. Menurutnya, Hj Arfah merupakan putri/anak ke 5 dari 12 bersaudara dan satu-satunya anak Raja Karang ke-10 Tuanku Arifin yang masih hidup hingga saat ini.

Baca Juga  Dinkes Tamiang Sidak Depot Air Minum Isi Ulang

Disampaikan, bahwa pengukuhan Raja Karang ke-VIII tidak akan dibantah, namun terkesan tidak beradat dan beradap, tiba-tiba pulang dari luar negeri menobatkan diri tanpa musyawarah. Padahal berdasarkan silsilah Kerajaan Karang, Raja ke-VIII sudah jauh mundur dibawah Raja Silang ke-9 dan Raja Karang Tuanku Arifin yang ke-10.

“Kami tidak membantah, tapi ingin meluruskan silsilah kepada masyarakat Aceh Tamiang siapa yang sebenarnya berhak dinobatkan sebagai Raja Karang dari keturunan tertua,” jelasnya.

Menurutnya, jikapun ada penerus Raja Karang ke 11 yang berhak dinobatkan adalah Tgk Iskandar Muda yang tinggal di Bandung dan Tgk Lukmansyah yang saat ini tinggal di Jakarta.

“Mereka yang lebih dituakan dalam silsilah,” pungkas Amir.

Namun demikian, keluarga besar Raja Karang ke-10 mengaku sudah melayangkan surat kepada Wali Nangroe, Majelis Adat Aceh (MAA), Bupati dan Sekdakab serta Polres Aceh Tamiang tentang tidak setujunya keluarga besar Raja atas dikukuhkannya Tengku Rahmansya Fauzi sebaga Raja Karang ke-VIII.

Komentar

Berita Terbaru