oleh

Hukuman Mati Dijatuhkan pada Penista Agama di Pakistan

PENANEGERI, Desk Internasional, Pakistan- Pengadilan melawan terorisme di Pakistan telah menjatuhkan hukuman mati kepada seorang pria bernama Taimoor Raza yang didakwa melakukan penghujatan/ penistaan Agama (blasphemy) di media sosial, demikian jelas Shafiq Qureshi seorang jaksa penuntut umum pemerintah Pakistan pada hari Senin (12/6),

Kasus ini  menandai pertama kalinya seseorang dikenai hukuman mati karena penistaan Agama di media sosial.

Terpidana yang dijatuhi hukuman mati di Pakistan ini bernama Taimoor Raza, (30).

Penghujatan atau Penistaan Agama (blasphemy) adalah topik yang sangat sensitif di Pakistan yang berpenduduk mayoritas Muslim.

Shafiq Qureshi, jaksa penuntut umum di kota Bahawalpur, sekitar 500km selatan ibukota provinsi Lahore, mengatakan bahwa Taimoor Raza dihukum karena didakwa membuat komentar yang menghina Agama.

“Pengadilan anti terorisme di Bahawalpur telah memberinya hukuman mati,” kata Qureshi kepada kantor berita Reuters (12/6). “Ini adalah hukuman mati pertama dalam kasus yang melibatkan media sosial,” tambahnya.

Sangat jarang sebuah pengadilan kontra-terorisme menghakimi kasus penghujatan/ penistaan terhadap Agama, namun kasus Taimoor Raza termasuk dalam kategori ini, karena lembaran tuduhannya mencakup pelanggaran anti-terorisme yang terkait dengan pidato kebencian (hate speech).

Penghujatan/penistaan Agama (blasphemy) adalah topik yang sangat sensitif di Pakistan yang berpenduduk mayoritas Muslim.

Qureshi mengatakan Raza ditangkap setelah mengunggah materi penghujatan/ penistaan Agama di media sosial melalui teleponnya. Taimoor Raza kemudian ditangkap di sebuah pemberhentian bus di Bahawalpur, di mana seorang petugas kontraterorisme menangkapnya dan menyita teleponnya.

“Sidang dilakukan di penjara Bahawapur dengan keamanan yang ketat,” kata Qureshi.

Beberapa insiden kekerasan lainnya yang terkait dengan tuduhan penghujatan telah membuat kelompok dan aktivis HAM merasa khawatir dalam beberapa bulan terakhir.

Polisi Pakistan saat ini sedang menyelidiki lebih dari 20 siswa dan beberapa anggota fakultas sehubungan dengan pembunuhan Mashal Khan, seorang siswa yang dipukuli sampai mati pada bulan April 2017 lalu, setelah berdebat tentang agama.

Pemukulan hingga mati karena berdebat masalah Agama ini adalah sebuah insiden yang mengejutkan negara tersebut.

Sejak itu, parlemen Pakitan telah membahas penambahan pengamanan terhadap undang-undang atas penghujatan, sebuah langkah yang dipandang sebagai terobosan di Pakistan di mana para pemimpin politik telah terbunuh hanya karena mendiskusikan perubahan.

Karena kasus penghujatan/ penistaan (blasphemy) oleh terpidana Taimoor Raza ini diadili bawah pengadilan kontra terorisme, maka Taimoor Raza akan dapat mengajukan banding atas hukumannya di Pengadilan Tinggi dan kemudian di Mahkamah Agung negara Pakistan. (*)

Komentar

Berita Terbaru