oleh

Idul Fitri 1438H, Gencatan Senjata di Marawi

PENANEGERI, Desk Internasional- Angkatan bersenjata Filipina (Armed Forces of the Philippines-AFP) mengumumkan sebuah gencatan senjata selama delapan jam pada hari Minggu (25/6) di tengah serangan yang sedang berlangsung terhadap milisi bersenjata yang menduduki sebagian kota Marawi yang dilanda perang untuk memungkinkan warga merayakan Idul Fitri sebagai akhir bulan Ramadhan.

Panglima militer Jenderal Eduardo Ano mengatakan pasukannya akan menerapkan “jeda kemanusiaan” selama liburan Lebaran di Marawi, sebuah kota wilayah Muslim di Filipina yang mayoritas Katolik.

“Kami menyatakan jeda dalam operasi kami saat ini di kota pada hari itu sebagai manifestasi rasa hormat kami yang tinggi terhadap kepercayaan Islam,” kata Ano dalam sebuah pernyataan.

Gencatan senjata (ceasefire) di Kota Marawi, Lanao del Sur ini juga untuk memungkinkan penduduk mengungsi dari pertempuran, untuk merayakan akhir bulan puasa Ramadhan.

Jurubicara militer Brigadir Jenderal Restituto Padilla mengatakan “jeda kemanusiaan” ini akan mulai berlaku mulai pada pukul 6 pagi Minggu, 25 Juni di Kota Marawi, namun akan segera dicabut jika milisi Marawi melepaskan tembakan atau mengancam tentara dan warga sipil.

Baca Juga  Pria Asal Indonesia Ditangkap di Marawi

“Jika musuh mulai menembak … siapapun bisa menggunakan hak mereka untuk membela diri,” kata Padilla dalam sebuah pernyataan

Sementara, Jenderal  Ano  menggambarkan langkah tersebut sebagai “sebuah komitmen solid Angkatan Bersenjata Filipina untuk memberi kesempatan kepada saudara Muslim, terutama di kota Marawi, sebuah kesempatan untuk peristiwa meriah ini (idul fitri).”

Pada bulan Mei, Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengumumkan darurat militer di seluruh Mindanao untuk menumpas apa yang dia katakan sebagai sebuah pemberontakan di daerah tersebut.

Pertempuran sengit telah mengubah petak besar kota bertabur masjid ini menjadi zona perang yang membara.

Dihadapkan oleh krisis terburuknya, Presiden Rodrigo Duterte menanggapi dengan mengumumkan darurat militer di Mindanao, Filipina Selatan dan memerintahkan serangan besar-besaran.

Pertempuran di Marawai  telah memaksa lebih dari 300.000 orang untuk meninggalkan rumah mereka di Marawi dan kota-kota terpencil dan melarikan diri ke pusat-pusat evakuasi, yang dengan cepat menjadi padat, sehingga menyulitkan mereka untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri 1438H.

Sebagian besar kota tepi danau sekarang hancur berantakan sementara sebagian besar dari 300.000 penduduknya telah melarikan diri ke pusat evakuasi atau ke rumah kerabat akibat pertempuran yang membara. (*)

Komentar

Berita Terbaru