oleh

IKAT Adakan Seminar Akbar Muslimah

PENANEGERI, Banda Aceh – Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) menggelar seminar Akbar Muslimah dengan tema Muslimah di Era Globalisasi, Tantangan dan Solusi Penyakit Sosial, LGBT dan Free Sex. Acara yang dihadiri ratusan peserta seminar tersebut dihelat di Aula Balai Kota, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (26/8) sekitar pukul 08.00 WIB.

Salah seorang Alumni Timur Tengah, Founder Indonesia Street Dakwah, Rafiqah Ahmad, Lc. MA, dalam sambutannya menyampaikan, bahwa tipe transgender serta penyebabnya dan tinjauan menurut Islam dibagi menjadi tiga.

“Pertama, biogenik, kelainan bawaan (genetik). Ini tidak berdosa selama kelainan hanya sebatas ekspresi dan prilaku. Kedua, psikogenetik, yaitu salah pola asuh dan trauma masa lalu, menurut pandangan Islam merupakan perbuatan haram, dimana pada psikogenetik, pelaku dalam kehidupannya menyerupai laki-laki atau sebaliknya (perempuan),” ujar Rafiqah.

Selanjutnya, sosiogenetik, dampak sosial budaya menurut pandangan Islam juga Haram.

“Karena pelaku juga menyerupai laki-laki atau perempuan,” tambahnya.

Dikatakan, sejarah perkembangan Homoseksual dimulai dari zaman pra Islam yakni pada kaum Nabi Luth AS, dilanjutkan pada era Islam dimana dilaksanakan eksekusi terhadap pelaku Homoseksual berdasarkan Ijtihad para sahabat Nabi Muhammad SAW, dan di era modern sekarang marak pernikahan sejenis dikalangan masyarakat muslim.

Baca Juga  Kemenhan RI Gelar Seminar Penanganan Konflik Sosial di Provinsi Aceh

“Subjek free sex dan homoseksual mayoritas berasal dari kalangan pelajar atau mahasiswa serta pasangan yang sudah menikah dan penganguran. Dalam Islam, para pelaku free sex dan homoseksual akan dikenakan hukuman 100 kali cambuk serta hukuman mati dengan cara di rajam,” terangnya.

Rafiqah melanjutkan, solusi preventif dalam Islam terhadap masalah LGBT dan Zina dapat dilakukan melalui dua faktor yakni faktor internal dan eksternal.

“Faktor internal, meliputi pemilihan jodoh yang tepat. Husnul Tarbiyah, Imaniyah (iman dan tauhid), Khuluqiyah (akidah atau moral), Jasadiyah dan Muraqabah (monitoring),” paparnya.

“Sedangkan faktor eksternal, meliputi lingkungan, institusi pendidikan serta pemerintah (regulasi dan controling),” lanjutnya.

Ia menambahkan, proteksi Islam terhadap penyimpangan perilaku dan moral, dilakukan dalam dua hal.

“Pertama eetika dalam hubungan suami isteri serta etika pergaulan sesama saudara dan masyarakat,” tandas Rafiqah.

Sementara, pakar Psikotraumatilogi yang juga Ketua IPK Aceh, Yulia Direzkia, S.Psi, M.Si, menjelaskan bahwa kehidupan terbagi dalam delapan rentang, yaitu tahap pra natal, konsepsi (lahir). Infancy dan toddlerhood, lahir sampai dengan usia 3 tahun. Early Childhood, usia 3 hingga 6 tahun. Middle Childhood, usia 6 sampai 12 tahun. Remaja, usia 12 hingga 20 tahun. Young Adulthood, usia 20 sampai 40 tahun, dan Middle Age, usia 40 hingga 65 tahun serta Late Adulthood, diatas 65 tahun.

Baca Juga  Kemenhan RI Gelar Seminar Penanganan Konflik Sosial di Provinsi Aceh

“Pubertas dan remaja ditandai dengan tumbuhnya rambut kemaluan, bentuk badan dan sifat kepribadian dewasa mulai terbentuk. Ini merupakan masa rentang perkembangan ketika individu berubah dari makhluk aseksual menjadi makhluk seksual,” urainya.

Isu dalam perkembangan remaja, lanjut pakar Psikotraumatilogi, dipengaruhi dari orientasi biologis yakni perilaku remaja sebagai refleksi terbukanya proses maturasi dan orientasi budaya.

“Yakni, masalah penyesuaian remaja yang berasal dari budaya,” pungkasnya.

Selain seminar, IKAT juga menyelenggarakan bazzar makanan Timur Tengah dengan tema “One Day With Muslimah IKAT”.

Ketua Panitia, Zakiah Zainun kepada Penanegeri.com, dilokasi bazzar, Sabtu (26/8) menyatakan, tujuan dari penyelenggaraan One Day Bazaar tersebut yakni untuk mengenalkan cita rasa makanan Timur Tengah kepada masyarakat Kota Banda Aceh.

“Ada delapan stand yang menyediakan makanan khas Timur Tengah serta penjualan bermacam pernak pernik sert baju muslim dan muslimah dari Timur Tengah,” pungkasnya.

Komentar

Berita Terbaru