oleh

Kejaksaan Agung menahan Tersangka JJ mantan Pegawai Ditjen Pajak

PENANEGERI, Jakarta- Pihak Kejaksaan Agung menahan mantan Pegawai Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Madya Jakarta, bernama Jajun Jaenuddin atau diinisial sebagai JJ.

Tersangka JJ dibawa ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Salemba cabang Rutan Kejaksaan Agung, Kamis (4/5/2917) malam pukul 19. 15 WIB.

“Tersangka JJ ditahan di Rumah Tahanan Negara Salemba Cabang Kejagung selama 20 hari terhitung dari 4 Mei sampai 23 Mei, berdasarkan surat perintah penahanan Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Print-17/F.2/Fd.1/05/2017 tanggal 4 Mei 2017,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, M Rum di Jakarta, Kamis (4/5) malam.

JJ merupakan tersangka kasus dugaan korupsi penerimaan suap atas penjualan faktur fiktif dari sejumlah perusahaan, sebesar Rp 14, 162 miliar selama kurun waktu 2007 sampai 2013,

Tersangka yang mengenakan rompi tahanan lebih memilih bungkam dan langsung memasuki mobil tahanan Kejaksaan Agung.  “Ditahan untuk kepentingan penyidikan selama 20 hari kedepan,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapus Penkum), Moh Rum di Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (4/5).

Baca Juga  Hakim Kusno Gugurkan Praperadilan Setya Novanto

Dia menjelaskan penahanan dilakukan karena penyidik karena ada kekhawatiran tersangka melarikan diri,mempengaruhi saksi-saksi, menghilangkan barang bukti.  “Ini bisa mempersulit pemeriksaan penyidikan dan menghambat penyidikan,” jelasnya.

Kapus Penkum Moh Rum menyatakan bahwa tersangka JJ diduga menerima suap atau gratifikasi dalam penjualan faktur pajak dari beberapa perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan perantara pihak lain, yakni memanfaatkan security perumahan, OB KPP Madya, tukang jahit, serta keluarganya.

“Gratifikasi dari berbagai pihak diterima melalui rekening yang bersangkutan Bank Mandiri, BNI, BCA dengan total Rp 14,162 miliar, ” tegasnya.

Dana hasil korupsi itu, oleh tersangka JJ  dibelikan berbagai ‎aset oleh yangbersangkutan mulai dari kendaraan mobil,  logam mulia dan property.

“Tersangka dijerat pasal 12a,12b pasal 11 UU no 31 tahun 1999 sebagaiman‎aa diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang pemberantasan Tipikor,” tutupnya.

Gratifikasi dari berbagai pihak diterima melalui rekening yangbersangkutan Bank Mandiri, BNI, BCA dengan total Rp 14,162 miliar.

Uang haram itu diduga telah dibelikan berbagai ‎aset oleh yang bersangkutan mulai dari kendaraan roda empat, logam mulia dan property.

Baca Juga  Patrialis Akbar dituntut Hukuman 12,6 tahun Penjara

Tersangka dijerat pasal 12a,12b pasal 11 UU no 31 tahun 1999 sebagaiman‎aa diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dengan ancaman hukuman penjara selama 20.tahun. (*)

Komentar

Berita Terbaru