oleh

Kemenhan RI Gelar Seminar Penanganan Konflik Sosial di Provinsi Aceh

PENANEGERI, Aceh Besar – Kemenhan RI menggelar seminar peningkatan kemampuan penyelenggaraan pertahanan negara tentang penanganan konflik sosial, di Ruang Cut Mutia lantai II Gedung B Kantor PKP2A IV LAN RI, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Rabu (27/4).

Kepala Perwakilan Pelaksana Tugas Pokok Kementerian Pertahanan Marsma TNI Eris Widodo dalam sambutannya mengatakan, konflik kerusuhan yang terjadi di timbulkan dari berbagai macam sebab sehingga sulit menggambarkan secara jelas dan rinci.

Pada umumnya, Sambung Eris, penyebab munculnya konflik adalah perbedaan pendapat, salah paham, perbedaan latar belakang, perbedaan kepentingan. Sebab-sebab perbedaan itu dipicu oleh beberapa permasalahan seperti sengketa lahan/perbatasan, pendirian rumah ibadah/agama, sumber daya maupun tentang kebijakan pemerintah.

“Kerusuhan yang telah terjadi sangat banyak merugikan nyawa, harta benda, serta psikologis yang berkepanjangan” terangnya.

Pakar multicultural studies dan kebijakan sosial, Prof Dr Irwan Abdullah saat mengisi materi menyampaikan “multikulturalisme merupakan paham yang memperkuat keimanan seseorang berdasarkan keunikan dan karakteristik keyakinan yang dianutnya” paparnya.

Iwan Abdullah menjelaskan, Ide multikulturalisme sesuai dijalankan di indonesia. Mengingat makna kebaikan dan nilai keadilan selama proses pembangunan lebih di dasarkan pada satu entitas etnis yg mendominasi. Makna kebaikan dalam kebudayaan ini lalu disebarkan ke berbagai ranah budaya dan etnisitas yang berlainan.

Baca Juga  Biksu Myanmar Ancam Aceh, Gadjah Puteh Serukan Jihad

Lebih lanjut ia menerangkan, realitas budaya Aceh yang khas tidak menghalangi penerimaan masyarakat Aceh terhadap pancasila yang merupakan pedoman hidup nasionalisme yang tetap mempertahankan religiusitas dan monoteisme.

“Nafas dan nyawa masyarakat Aceh sama dengan struktur dan kultur seluruh Bangsa Indonesia dalam bingkai Pancasila.” tutur Iwan Abdullah.

Amatan Penanegeri.com, dalam kegiatan seminar yang dihadiri sekitar 50 orang itu, terlihat hadir sejumlah tokoh yakni, Kabinda Aceh Brigjen TNI Ruruh, Pakar kajian Budaya dan Agama Dr Zainuddin H Prasojo, MA, serta Dosen Syariah Fakultas UIN-Ar Raniry Dr Kamaruzaman B.A. [PN 0007].

Komentar

Berita Terbaru