oleh

Konflik di Sudan Selatan Telah Menelan Kerugian dengan ‘Proporsi yang Epik’

PENANEGERI, Internasional- Konflik di Sudan Selatan telah menelan kerugian yang dialami orang di kawasan itu dengan ‘proporsi yang epik’.

Istilah ‘Proporsi yang Epik’ ini menunjukkan tingkat luasnya kerugian manusia (human cost) akibat konflik di Sudan Selatan, demikian kepala badan pengungsi PBB memperingatkan.

Kerugian manusia akibat konflik Sudan Selatan yang telah berlangsung lama telah mencapai “proporsi yang epik” dengan jumlah pengungsi diperkirakan meningkat melebihi tiga juta orang pengungsi pada akhir tahun ini, yang berpotensi menjadikannya sebagai krisis pengungsi terbesar di Afrika sejak pertengahan  tahun 1990an, demikian papar  kepala badan pengungsi PBB, Kamis (1/2), seperti diberitakan oleh situs resmi PBB.

Filippo Grandi, selaku UN High Commissioner for Refugees (Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi), bersama dengan Mark Lowcock selaku UN Emergency Relief Coordinator (Koordinator Bantuan Darurat PBB),  meluncurkan sebuah permohonan dana bantuan senilai 3,2 miliar dolar untuk membantu para pengungsi yang terpaksa meninggalkan rumah mereka, karena pertempuran terus berlanjut di negara yang ‘termuda di dunia’ tersebut.

Baca Juga  PBB Berikan Layanan Pengobatan HIV/AIDS di Sudan Selatan

Mereka mengajukan permohonan sebesar $ 1,5 miliar untuk membantu pengungsi yang telah melarikan diri melintasi perbatasan ke enam negara tetangga, termasuk Uganda, Kenya, Sudan, Ethiopia, Republik Demokratik Kongo (Democratic Republic of the Congo-DRC) dan Republik Afrika Tengah (Central African Republic-CAR).

Diperlukan dana bantuan sebesar $ 1,7 miliar lebih lanjut untuk membantu orang-orang yang kehilangan tempat tinggal akibat pertempuran tersebut, yang telah memicu kondisi kelaparan, dan krisis kemanusiaan sejak konflik terjadi antara kekuatan yang setia kepada Presiden dan Wakil Presiden di negara tersebut, pada tahun 2013.

Grandi mengatakan bahwa kekerasan tersebut telah “membersihkan Sudan Selatan dari orang-orang yang seharusnya menjadi sumber daya terbesar bagi sebuah bangsa muda.”

“Mereka seharusnya membangun negara, tidak melarikan diri,” tambahnya.

Grandi dan Lowcock, yang juga merupakan UN Under-Secretary-General for Humanitarian Affairs (Bawahan Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan), telah mengunjungi pengungsi baru dari negara tersebut, di kamp pengungsi Kakuma UNHCR, di Kenya utara.

Lowcock mengatakan bahwa konflik tersebut telah menimbulkan “korban yang brutal dan mematikan”, maka bantuan itu adalah untuk kepentingan setiap orang (pengungsi),  dan guna terus memberikan bantuan yang tulus dan terus menerus kepada para pengungsi.

Baca Juga  300 Tentara Anak Dibebaskan di Sudan Selatan

Ada hampir 2,5 juta orang Sudan Selatan yang telah melarikan diri dari negara tersebut, dan sekitar tujuh juta jiwa membutuhkan bantuan kemanusiaan. (*)

Komentar

Berita Terbaru