oleh

Konvoi Bantuan Kemanusiaan PBB kembali Memasuki Ghouta Timur

PENANEGERI, Internasional- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan para mitranya pada hari Jumat (9/3) mencapai kota Douma di wilayah Ghouta Timur, Suriah untuk menyelesaikan pengiriman distribusi bantuan pangan.

Hal ini setelah terjadi peristiwa penembakan yang intens, yang sempat mengentikan pengiriman ke daerah kantong yang dilanda perang awal pekan ini.

“Perserikatan Bangsa-Bangsa dan mitra kami dapat kembali ke Douma hari ini untuk memberikan bantuan pangan yang masih tersisa,” kata Marwa Awad, Petugas Komunikasi Program Pangan Dunia atau World Food Programme (WFP), dari ibukota negara Suriah yang dilanda konflik, Damaskus, seperti dirilis oleh situs resmi PBB, Jumat (9/3).

Bantuan tersebut terdiri dari makanan dan tepung terigu yang disiapkan oleh WFP dan Komite Palang Merah Internasional atau International Committee of the Red Cross (ICRC).

WFP dan mitranya, yaitu ICRC dan Bulan Sabit Merah Arab Suriah (Syrian Arab Red Crescent), “berharap dapat kembali masuk untuk terus memberikan bantuan kemanusiaan dan makanan yang sangat dibutuhkan kepada orang-orang di Ghouta Timur,” tambahnya, menyeru pada semua pihak dalam konflik untuk memberikan akses aman bagi kemanusiaan untuk memberikan makanan dan bantuan lainnya yang sangat dibutuhkan.

Sementara itu di Markas Besar PBB di New York, Juru Bicara Stéphane Dujarric mengatakan kepada wartawan bahwa saat konvoi sedang berlangsung, baku tembak terjadi di dekat operasi, meski mendapat jaminan keamanan dari semua pihak sebelumnya.

Meskipun memiliki risiko semacam itu, pengiriman hari ini menyelesaikan bantuan makanan yang direncanakan untuk 27.500 orang, bersamaan dengan item kesehatan dan gizi. PBB sedang menunggu otorisasi akses untuk mencakup semua 70.000 orang di Douma yang pada awalnya disetujui oleh pemerintah Suriah.

Di Jenewa, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) memperingatkan bahwa telah terjadi peningkatan yang nyata dalam serangan kekerasan terhadap perawatan kesehatan di Suriah.

“Setiap serangan terhadap kesehatan merupakan kerugian yang menghancurkan keluarga dan masyarakat dan riak-riak melalui sistem kesehatan. Petugas kesehatan dan fasilitas kesehatan bukan target. Ini harus dihentikan, ” kata Christian Lindmeier, petugas komunikasi WHO ( World Health Organization), mengatakan kepada wartawan.

Menurut laporan bulanan dari kelompok kesehatan yang berbasis di Gaziantep, Turki, 43 insiden kekerasan terhadap fasilitas perawatan kesehatan, layanan dan pekerja dilaporkan pada bulan Februari, 39 diverifikasi oleh pemantau eksternal dan empat masih diverifikasi.

Itu dibandingkan dengan 31 insiden bulan lalu, dimana 28 diverifikasi.

Secara keseluruhan, 67 serangan yang diverifikasi terhadap fasilitas kesehatan dan pekerja dalam dua bulan pertama tahun ini berjumlah lebih dari 50 persen serangan terverifikasi di tahun 2017, yang berjumlah 112.

Insiden bulan Februari yang diverifikasi, 28 berada di Ghouta timur, 10 di Idleb dan satu di Homs. Serangan tersebut menargetkan 20 rumah sakit, 16 fasilitas kesehatan, dua stasiun ambulans dan satu gudang perlengkapan medis.

Serangan yang tidak dapat diterima ini mengakibatkan kematian 19 orang, di antaranya empat petugas kesehatan. Serangan tersebut juga menewaskan 28 orang, tujuh di antaranya menjadi staf medis, katanya. (*)

Komentar

Berita Terbaru