oleh

Krisis di Suriah dan Kebuntuan pada Dewan Keamanan PBB

PENANEGERI, Internasional – Di tengah risiko situasi di Suriah yang bisa menjalar “di luar kendali,”  maka Sekjen PBB telah mengajukan permohonan kepada lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB untuk memecahkan kebuntuan  yang ada pada saat ini terhadap penggunaan senjata kimia yang dilaporkan terjadi di negara  Suriah yang tengah dilanda perang itu.

“Saya juga telah mengikuti perkembangan di Dewan Keamanan dan menyesal bahwa Dewan sejauh ini tidak dapat mencapai kesepakatan tentang masalah ini,” kata Sekretaris Jenderal António Guterres dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkanhari Rabu malam 12 April 2018, seperti dirilis oleh situs resmi PBB.

“Jangan sampai kita lupa bahwa, pada akhirnya, upaya kita adalah harus mengakhiri penderitaan yang mengerikan dari rakyat Suriah,” imbuh Sekretaris Jenderal António Guterres.

Sekjen PBB António  Guterres juga mengatakan bahwa dia memanggil para duta dari lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB yakni : Cina, Perancis, Rusia, Inggris dan Amerika Serikat – pada hari Rabu (12/4) untuk mengulangi “keprihatinan mendalamnya tentang risiko kebuntuan saat ini” dan menekankan perlunya untuk “menghindari situasi yang terjadi di luar kendali.”

Baca Juga  Serangan Udara terus Gempur Kota Raqqa

Pada hari Selasa (11/4) lalu, DK PBB yang beranggotakan 15 negara tersebut  telah memberikan suara pada tiga rancangan resolusi terpisah dalam menanggapi tuduhan baru-baru ini tentang serangan senjata kimia di kota Suriah Douma.

Namun tak satu pun dari teks-teks rancangan resolusi itu mengumpulkan dukungan yang cukup.

Rancangan resolusi pertama yang dipertimbangkan hari ini – ditulis oleh Amerika Serikat – yang akan menetapkan mekanisme investigasi baru selama satu tahun, serta mengidentifikasi mereka yang bertanggung jawab atas penggunaan senjata kimia, ditolak karena suara negatif – atau veto – oleh Rusia.

Demikian pula, sebuah rancangan resolusi yang bersaing – ditulis oleh Rusia – yang akan menetapkan mekanisme untuk satu tahun juga tetapi akan memberi Dewan Keamanan tanggung jawab untuk menetapkan pertanggungjawaban atas penggunaan senjata kimia di Suriah, juga tidak diadopsi.

Dewan Keamanan PBB kemudian juga menolak teks ketiga – juga diusulkan oleh Rusia – yang berkaitan dengan pekerjaan misi pencari fakta Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia atau Organization for the Prohibition of Chemical Weapons  (OPCW), badan pelaksana Konvensi Senjata Kimia atau Chemical Weapons Convention (CWC).

Baca Juga  Dewan Keamanan PBB Bahas 'Eskalasi tak terkendali' di Suriah

Meskipun saat ini terajdi kebuntuan di Dewan Keamanan PBB, namun OPCW telah mengatakan bahwa  akan segera mengirim tim ke Suriah untuk “menetapkan fakta” seputar insiden tersebut.

Pada hari Rabu (11/4), Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) juga mengatakan bahwa mereka telah menerima laporan bahwa sekitar 500 pasien di fasilitas kesehatan Suriah telah menunjukkan tanda dan gejala yang konsisten dengan paparan bahan kimia beracun, setelah penembakan pinggiran Damaskus selama akhir pekan.

WHO telah menuntut segera untuk adanya akses tanpa hambatan ke area tersebut guna memberikan perawatan kepada mereka yang terkena dampak, untuk menilai dampak kesehatan, dan untuk menyampaikan respon kesehatan masyarakat yang komprehensif. (*)

Komentar

Berita Terbaru