oleh

Lezatnya “Martabak Gondrong” Dengan Berbagai Varian dan Rasa

PENANEGERI, Kuliner – Penikmat kuliner di Kota Langsa dan Kualasimpang perlahan kian melirik “Martabak Gondrong”. Martabak mini dengan puluhan varian rasa ini pun harganya cukup terjangkau dan tak sampai merobek dompet. Banyak orang yang penasaran dengan rasa martabak mini, hal itu karena rasa dan porsinya pas menggugah selera.

Dengan merogoh kocek Rp 5000 penikmat kuliner ini sudah bisa menikmati sejumlah ‘apem balik’ (martabak mini) buatan Franky gondrong tersebut.

“Harga martabak mini kita jual dari yang paling murah Rp 1000/potong sampai paling mahal Rp 65 ribu/bungkus,” kata Franky (32) pemilik usaha “Martabak Gondrong” kepada Penanegeri.com, Rabu (29/11) di Karang Baru.

Franky memiliki dua lapak jualan martabak, yakni di Karang Baru, Aceh Tamiang dan Kota Langsa. Namun yang paling laris saat ini martabak yang di jajakan di jalan lintas Medan-Banda Aceh depan Mapolres Kota Langsa. Kuliner ini buka mulai pukul 15.00 – 23.00 WIB setiap hari kecuali Jumat tutup. Pembelinya datang dari segala penjuru baik anak-anak dan orang tua.

Bahkan pelanggan tetap martabak gondrong juga ada dari daerah Peurelak, Aceh Timur.

“Yang paling banyak beli dari anak muda dan mahasiswa. Namun banyak juga pesanan untuk jamuan acara keluarga,” sebutnya.

Tidak Perlu ke Jakarta

Menurut pria gondrong berkaca mata ini, tidak perlu ke Jakarta jika ingin menyantap martabak ‘Makobar’ seperti yang dijual oleh putra sulung Presiden Jokowi yaitu, Gibran Rakabuming Raka. Sebab di Aceh, Franky juga menyediakan martabak ‘Premium’ dengan beragam rasa, lezatnya sama dengan martabak Makobar.

Martabak Gondrong

Franky mengaku, usaha panganan martabak tersebut merupakan warisan turun temurun keluarganya sejak dari Pekanbaru, Riau. Ia mengeluti usaha tersebut mulai tahun 2007 silam bersama orang tuannya merintis jadi penjual martabak menggunakan gerobak motor di jantung Kota Kualasimpang.

Lambat laun usahanya maju pesat dan dia kepikiran untuk membuka usaha martabak sendiri.

“Pada tahun 2015 saya coba improvisasi buka kios martabak modern dengan berbagai rasa. Kita ingin beda dengan yang lain dan sebelumnya. Sampai akhirnya saya buat martabak mini, ternyata disukai semua kalangan dari anak muda, mahasiswa dan masyarakat umum. Tentu penyajiannya beda tapi martabak klasik/biasa tetap ada kita buat agar pelanggan lama tidak lari,” urainya sembari menyebut, berbagai jenis martabak mini dijual mulai dari Rp 1.000-Rp 6.000 untuk satu martabak ukuran berbeda, sedangkan Rp 7.000 untuk satu bungkus martabak biasa.

Bahan baku untuk adonan martabak gondrong kata Franky, didatangkan dari Pekanbaru dan Jakarta berbeda degan penjual martabak yang lain. Sedangkan, wadah untuk memasak menggunakan tempahan berbahan nikel dan kuningan pesanan khusus.

Karyawan martabak gondrong saat ini berjumlah empat orang. Mereka diberi tugas masing-masing, dari memasak, melayani konsumen, belanja keperluan dapur sekaligus antar pesanan. Dia memilih Kota Langsa sebagai basis martabak gondrong karena di kota jasa tersebut marketnya dianggap jelas.

“Di Langsa banyak Kampus dan masyarakatnya sangat hobi menjelajahi kuliner lokal. Makanya, saya pilih Kota Langsa untuk mengembangkan usaha warisan keluarga ini,” ujarnya.

Varian Rasa

Menurut pelaku usaha mikro ini, martabak gondrong menyediakan 30 varian rasa termasuk martabak biasa. Bentuknya mini dan unik, bahkan ada yang mirip ‘Pizza Hut’ dengan permukaan toping aneka rasa.

Martabak Gondrong

“Martabak Pizza kita bandrol Rp 65 ribu/bungkus. Ini martabak yang paling besar dan mahal, banyak dipesan untuk makan bersama keluarga,” pungkasnya.

Dalam semalam ia menyebutkan, mampu menghabiskan rata-rata 20 kg adonan martabak. Penghasilannya pun dikisaran omzet bersih Rp 1 juta-Rp 1,8 juta/hari.

“Rata-rata adonan habis 20 kg, tapi pernah sesekali 30 kg/hari,” terang bapak satu anak tersebut.

Franchise

Setelah dua tahun merasakan manisnya laba martabak mini, Franky berencana membuka jaringan bisnis. Daeler martabak gondrong sudah menyiapkan paket hemat bagi pelaku usaha baru yang ingin bekerjasama. Sebelumnya, pria kelahiran Kualasimpang ini membuka warung martabak mini di Karang Baru yang merupakan pusat Kabupaten Aceh Tamiang. Kemudian Franky bermanuver mengepakan sayap bisnis martabak mini ke Kota Langsa yang saat ini menjadi fokusnya mendulang pundi-pundi rupiah. Kini dia mampu menggaji anggota kerja/karyawan sebesar Rp 1,2 juta/bulan.

Martabak Gondrong

Dikatakan, sejak tiga bulan terakhir pihaknya sudah membuka peluang usaha dengan menyediakan “paket franchise” martabak gondrong seharga Rp 5,5 juta. Bagi yang berminat dan siap menjadi mitranya diberi fasilitas sandang, loyang, cetakan plus 1 kg adonan martabak dan langsung bisa berjualan selama seminggu kedepan. Di mana, dalam 1 kg adonan seharga Rp 28 ribu dapat menghasilkan 10 loyang martabak biasa dan 50-60 potong martabak mini.

“Jadi dengan membeli paket franchise Rp 5,5 juta kita sudah bisa langsung berwirausaha sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Di masa merintis juga akan kami dampingi dengan syarat bahan adonan beli dengan kami dan mereka wajib memakai merek “Martabak Gondrang Mini”, karena kita menggunakan sistem mitra usaha mandiri bersama,” ujarnya.

Sejak dibuka paket hemat tersebut, banyak respons dari calon mitra usaha ingin mendaftar. Namun kebanyakan dari mereka masih terkendala dalam pengelolaan. Kebanyakan yang datang incar paket franchise dari orang yang sudah bekerja. Mereka tidak persoalkan harga, hanya saja terkendala di pengelolaannya kedepan karena harus memakai jasa orang lain lagi.

“Sebenarnya kita berharap paket usaha ini bisa menjaring kawulamuda di Aceh untuk berwirausaha sendiri tanpa sibuk-sibuk mencari lowongan pekerjaan,” harap owner “Martabak Gondrong” seraya mencetuskan, bagi calon mitra yang berminat juga akan dibantu mencarikan tempat/lapak jualan yang strategis.

Meski martabak gondrong mini masih tergolong usaha mikro, namun pria dengan ciri khas pakai topi terbalik ini bertekad ingin menyerap angka pengangguran khususnya di Aceh Tamiang dan Langsa.

“Selain mencukupi kebutuhan keluarga, kita mau ketika usaha yang kita rintis berkembang akan membantu mengurangi pengangguran dan meyerap tenaga kerja lebih banyak lagi,” harapnya optimis.

Franky menyebutkan, modalnya hanya satu, yaitu tetap berkreasi mengikuti perkembangan zaman dengan mengubah panganan biasa menjadi jajanan favorit, salah satunya martabak mini yang sudah ditekuninya selama belasan tahun.

Setiap sore hingga malam, dia mulai “menoping” pesanan martabak mini sesuai selera pembeli. Ada pun rasa martabak mini yang paling digemari konsumen diantaranya, rasa nuttela, tiramisu, green tea, tobleron, keju dan lain-lain. Jika cuaca hujan pihaknya juga melayani pesan antar gratis pada radius kawasan kota.

Martabak manis ini juga bisa dipesan melalui online dan via WhatsApp. Malam minggu dan acara dadakan bagi Franky merupakan waktu paling sibuk melayani serbuan pelanggan.

“Semoga peminat martabak mini semakin ramai,” tutupnya.

Pendapat Pelanggan

Waled (45) salah seorang pembeli martabak mini yang ditemui Penanegeri.com di Kota Langsa, Kamis (30/11) mengatakan, hampir setiap hari keluarganya membeli martabak mini sebagai makanan ringan dirumah sambil menyeruput kopi di sore hari. Menurutnya, martabak mini tidak membuat perut kenyang tapi pas dilidah.

“Makanan ini cocok dinikmati disegala kondisi cuaca, untuk teman ngeteh atau ngopi juga pas kali,” ucapnya.

Konsumen lainnya asal Kualasimpang, M Yandri mengatakan, setiap ke Langsa dia sering singgah di kios martabak gondrong mini yang lokasinya tidak jauh dari Tugu Kota Langsa. Yandri bersama rekannya mengaku sekadar melepas penat minum dan mencicipi martabak mini di lapak jualan tersebut.

“Sehabis pulang kuliah saya dan kawan-kawan  sering kemari, rindu dengan rasa martabak mini,” cetus anak mahasiswa tersebut. (*)

Komentar

Berita Terbaru