oleh

Luar Biasa..!!! Mahasiswa Unsyiah Ini Temukan Penjernih Air

-Aceh-685 views

PENANEGERI, Langsa – Penemuan luar biasa yang dilakukan Kelompok Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) penelitian mahasiswa kimia Universitas Syiahkuala (Unsyiah) Banda Aceh, dimana mereka berhasil mengolah kulit udang dan pasir besi menjadi bahan penjernih air dengan nama Nanokomposit Kitosan Magnetik.

Ketua kelompok PKM mahasiswa kimia Unsyiah, Ismaturrahmi kepada Penanegeri.com, Jumat (13/7) di Kota Langsa menuturkan, pengolahan kulit udang dan pasir besi menjadi senyawa penjernih air merupakan hasil pengembangan dari penelitian sebelumnya. Penelitian ini sendiri sangat penting dilakukan sebagai pengembangan keilmuan yang telah ada atau yang akan datang.

“Nanokomposit kitosan magnetik ini adalah adsorben (media penyerap) yang diolah atau dibuat dari kombinasi kulit udang dan pasir besi yang ada di pantai Syiah Kuala, Aceh Besar. Tujuan penciptaan senyawa ini untuk menyerap limbah zat warna khususnya metilen biru dalam air,sehingga dapat menghilangkan pencemaran zat warna yang berbahaya bagi hewan air dan manusia,” sebut Ismaturrahmi.

Ia menjelaskan, pemanfaatan pasir sebagai penjernih air telah lama digunakan oleh para leluhur hingga kini. Pasir dan komponen lain sebagai pembentuk penyaring air tradisional dipercaya dapat menjernihkan air yang keruh karena air telah melewati komponen penyusun saringan secara bertahap.

Baca Juga  Gadjah Puteh : Pemerintah Pusat Harus Tegas Dalam Penetapan Regulasi di Aceh

Lanjutnya, dalam penelitian ini sekelompok mahasiswa PKM Unsyiah melakukan pengembangan dalam pembuatan media penjernih air dengan penggabungan pasir besi dan kulit udang yang disebut sebagai nanokomposit. Nanokomposit yang dibuat ini mampu menyerap zat warna yang bersifat kationik, seperti zat warna metilen biru.

“Kemampuan nanokomposit menyerap zat warna dalam air dikarenakan memiliki sisi aktif berupa gugus amina dan hidroksil dari kulit udang yang dapat menarik zat warna melalui interaksi secara kimia. Adapun peran pasir besi sebagai komponen nanokomposit adalah memberi sifat magnetik sehingga memudahkan pemisahan nanokomposit dari media air,” sebut Ismaturrahmi.

Sambungnya lagi, Methylene Blue merupakan zat warna berbahaya yang digunakan oleh industri tekstil yang dapat menyebabkan iritasi saluran pencernaan, sianosis dan iritasi kulit. Senyawa ini cukup stabil sehingga sulit untuk terdegradasi di alam dan berbahaya bagi lingkungan.

Karenanya, penanganan lanjut untuk limbah zat warna sebelum dibuang ke tempat limbah sangat diperlukan. Solusi  permasalahan ini dapat diatasi dengan metode adsorpsi, yaitu metode penyerapan limbah.

Baca Juga  Pemkab Bireuen Gelar Pemantapan Ideologi dan Bela Negara

“Alhamdulillah dengan adanya Program Kreativitas Mahasiswa yang diadakan setiap tahun oleh KEMENRESDIKTI ini, kita bisa melakukan pengembangan keilmuan seperti ini,” pungkasnya.

Komentar

Berita Terbaru