oleh

Mata Uang Riyal Qatar Sentuh Level Terendah

PENANEGERI, Desk Internasional- Mata uang Riyal Qatar menyentuh poin level terendah, setelah didera krisis diplomatik dan blokade yang semakin berkepanjangan oleh rombongan negara Arab, terutama yang dipelopori oleh tiga negara terdekat Qatar, yakni Uni Emirat Arab, Kerajaan Arab Saudi dan Kerajaan Bahrain.

Riyal Qatar jatuh ke level terendah  terhadap dolar A.S. di pasar spot pada akhir perdagangan pada pekan lalu, karena adanya kekhawatiran tentang dampak ekonomi jangka panjang pada Qatar mengenai keretakan diplomatiknya dengan negara-negara Teluk Arab lainnya.

Dolar menguat di 3.6517 riyal, level tertingginya sejak Juli 2005, menurut data kantor berita Thomson Reuters. Riyal dipatok pada 3,64 dolar oleh bank sentral, yang hanya memungkinkan fluktuasi kecil di sekitar level ini.

Namun Riyal Qatar tetap stabil pada premium 250 poin ke dolar dalam pasar ke depan satu tahun, yang digunakan bank untuk melakukan lindung nilai terhadap pergerakan masa depan dalam tingkat spot.

Seorang pejabat bank sentral Qatar mengatakan kepada kantor berita Reuters  bahwa Qatar memiliki cadangan devisa yang besar yang dapat digunakan untuk mendukung mata uangnya jika diperlukan.

Baca Juga  Turki Bela Qatar

Dengan meningkatnya tekanan diplomatik dan ekonomi dari negara-negara tetangga Arab terhadap negara Qatar, mata uang nasional Qatar, Riyal, telah mencapai nilai tukar terendah terhadap dolar AS sejak 1998.

Bank Sentral Qatar saat ini berusaha mempertahankan riyal Qatar tetap di sekitar 3,64 per dolar, namun aksi boikot dan blokade yang dipimpin kerajaan Arab Saudi, juga oleh negara tetangga tetrdekat seperti Uni Emirat Arab dan kerajaan Bahrain menimbulkan kekhawatiran bahwa regulator harus melemahkan mata uangnya.

“Saya tidak berpikir ada alasan mengapa orang perlu khawatir tentang apa yang terjadi atau spekulasi mengenai riyal Qatar,” kata Menteri Keuangan Qatar, Ali Shareef Al Emadi, dalam sebuah wawancara dengan CNBC awal pekan ini.

Menkeu Qatar menyatakan Doha tidak akan menjadi satu-satunya pihak yang rugi dalam krisis blokade dan boikot yang sedang berlangsung antara Qatar yang kaya minyak dan negara tetangga lainnya.

Menteri Keuangan Qatar Ali Shareef Al Emadi manyatakan ketahanan negaranya terhadap guncangan ekonomi potensial.

“Banyak orang mengira kita satu-satunya yang kalah dalam hal ini … jika kita akan kehilangan satu dolar, mereka juga akan kehilangan satu dolar,” katanya mengacu pada negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC).

Baca Juga  Qatar Tolak Tuntutan Arab Saudi Cs namun Siap untuk Berdialog

Berbicara kepada TV CNBC, Menkeu Qatar menyebut keretakan politik “sangat disayangkan” karena ini membuat semua orang menjadi tidak nyaman. Juga dampak pada keluarga masyarakat sipil yang juga terganggu di negara-negara ini.

“Kami memiliki aset dan keamanan yang kita butuhkan. Aset asing dan investasi asing kita lebih dari 250 persen dari PDB kita. Jadi kita sangat nyaman. Kita tahu kita bisa mempertahankan mata uang atau kita bisa mempertahankan ekonomi, ” tambahnya.

Pada hari Selasa (13/6), Riyal Qatar turun menjadi $ 3,66, terlemah dalam 19 tahun. Mata uang ini telah diperdagangkan di bawah $ 3,64 selama tujuh hari berturut-turut, periode terlama dari melemahnya Riyal terhadap USD sejak 1993.

Tekanan spekulatif “yang belum pernah terjadi sebelumnya” pada riyal dapat berlanjut sampai Doha menyelesaikan perselisihan dengan negara-negara tetangga, menurut analis ING, seperti dikutip kantor berita RT.

Pekan lalu, lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S & P) menurunkan peringkat kredit Qatar setelah arus keluar dari investasi portofolio menyeret riyal ke posisi terendah selama 11 tahun.

Baca Juga  Turki dan Qatar Lakukan Latihan Militer Bersama

Semakin besar kemungkinan krisis boikot dan blokade terhadap Qatar ini akan berlanjut.

Pekan lalu, rombongan negara tetangga Qatar yang dipimpin oleh Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, menuduh negara mendukung kelompok teroris. Qatar telah membantah tuduhan tersebut.

Pasar saham negara Qatar telah anjlok sekitar sembilan persen sejak aksi boikot dan blokade tersebut. (*)

Komentar

Berita Terbaru