oleh

Media dan Stasiun TV Al Jazeera Ungkapkan Kekecewaan terhadap Blokade

PENANEGERI, Desk Internasional- Jaringan media Al-Jazeera yang berbasis di Doha Qatar menyatakan tanggapannya atas krisis blokade dari sejumlah negara-negara di kawasan teluk Arab yang menuntut untuk menutup operasi media global Al jazeera.

Dalam surat terbukanya yang ditujukan pada semua pemerhati media massa Al jazeera di seluruh dunia, pada hari Selasa (27/6), pihak media massa Al Jazeera menyatakan kekecewaannya terhadap tuntutan sejumlah negara Arab untuk menutup media massa Al-Jazeera.

Pihak media massa Al Jazeera menyatakan bahwa “Lebih dari dua dekade yang lalu, atau 20 tahun yang lalu Al Jazeera Arabic terbit dan diluncurkan pada 1 November 1996 dengan misi sederhana, yaitu : memberikan informasi yang dapat dipercaya kepada pemirsa di seluruh dunia Arab.

Sepuluh tahun kemudian, pada tahun 2006, Al Jazeera berbahasa Inggris mulai menyiarkan secara global dengan misi yang sama – untuk memberi orang-orang di seluruh dunia tentang informasi yang akurat, seimbang dan tidak memihak.
Al Jazeera English telah mengudara di lebih dari 130 negara di seluruh dunia, dan dilihat oleh puluhan juta orang sebagai pemirsa global yang setia pada Al Jazeera,” demikian tulis Al Jazeera.

Baca Juga  Al Jazeera Menolak Ditutup di Yerusalem

Dalam surat terbukanya pada pemerhati media massa Al-Jazeera di seluruh Dunia, Selasa (27/6), media pemberitaan global Al Jazeera yang berbasis di Doha, Qatar menyatakan :

“Kami di Al Jazeera percaya pada misi kami: Bahwa manusia memiliki hak untuk diberitahu. Manusia memiliki hak untuk mendapatkan berita yang tidak dikendalikan oleh narasi pihak berwenang.

Manusia memiliki hak untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia mereka. Sama halnya, manusia memiliki hak untuk memiliki suara. Agar cerita mereka diceritakan saat mereka pantas dan perlu didengar.

Kebebasan berbicara – dan kebebasan bagi wartawan untuk melaksanakan tanggung jawab mereka – dapat menjadi norma yang berlaku di banyak bagian dunia, namun ini adalah hak, yang sering ditantang untuk memperoleh politik di beberapa bagian dunia Arab.

Hak untuk mendapatkan informasi yang terpercaya adalah salah satu fondasi masyarakat yang sehat.”

Demikian surat terbuka Al-Jazeera bagi para pemerhatinya dis eluruh dunia seperri dirilis dalam situs resminya (27/6).

Sebelumnya telah dikeluarkan ke-13 butir daftar tuntutan dari rombongan negara-negara Arab, terutama negara terdekat Qatar -yang memblokade Qatar-, menyatakan pada butir ke (6) adalah “Tutup Al Jazeera dan stasiun afiliasinya”.

Baca Juga  Al Jazeera Menolak Ditutup di Yerusalem

Bereaksi terhadap tuntutan untuk penutupan media massa Al Jazeera ini, maka media massa ‘The Guardian’ dari Inggris juga bersuara menolak penutupan Al Jazeera, seperti tertuang dalam editoralnya, ‘The Guardian’ menulis : “The attack on Al Jazeera is part of an assault on free speech to subvert the impact of old and new media in the Arab world. It should be condemned and resisted,” atau terjemahannya adalah :“Serangan terhadap Al Jazeera adalah bagian dari serangan terhadap kebebasan berbicara untuk menumbangkan dampak media lama dan baru di dunia Arab. Itu harus dikutuk dan ditolak,” tulis editorial yang diterbitkan oleh The Guardian pada hari Jumat (23/6).

Sedangkan Organisasi Jurnalis Dunia Internasional yakni ‘Reporter Without Borders’ juga telah menolak Tuntutan Penutupan kantor berita dan Stasiun Televisi Al jazeera.

Reporter Without Borders, sebuah organisasi nirlaba yang mempromosikan kebebasan pers, telah mengecam tuntutan Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya yang ingin menutup jaringan Al Jazeera dan media lainnya di Qatar.

Baca Juga  Al Jazeera Menolak Ditutup di Yerusalem

Tuntutan dari Negara-negara tetangga Qatar ini juga mendapat perhatian serius dari Menteri Luar Negeri AS (Secretary of State) Rex Tillerson.

Atas ke-13 butir tuntutan dari negara-negara tetangga Qatar terhadap negara kecil Qatar, Menlu Amerika Serikat, Rex Tillerson mengakui sebagian dari 13 tuntutan yang diajukan empat negara Arab kepada Qatar sebagai syarat pencabutan sanksi, sulit dipenuhi.

Namun dikatakan oleh Tillerson bahwa tuntutan tersebut bisa digunakan sebagai dasar dialog guna mencari pemecahan krisis.

Tillerson juga mengatakan bahwa Qatar sedang mempelajari 13 tuntutan dan menekankan bahwa terdapat “ruang-ruang penting yang menjadi dasar bagi dialog yang terus diadakan untuk mewujudkan pemecahan (solusi)”.

Tillerson terutama juga menyerukan kepada negara-negara yang terlibat untuk duduk bersama guna menghentikan terorisme dan memerangi ekstremisme.

“Menahan retorika juga akan membantu mendinginkan ketegangan,” kata Tillerson.(*)

Komentar

Berita Terbaru