oleh

Menelusuri Perkembangan Islam di “Negeri Spaghetti” Italia

PENANEGERI, Italia – Milan merupakan ibu kota wilayah Lombardia dan pusat ekonomi serta keuangan Italia. Kota ini terkenal akan perusahaan adi busana dan Galleria Vittorio Emanuele di Piazza Duomo.

Milan juga salah satu pusat belanja tertua seperti New York dan Paris. Selain itu, Milan juga terkenal dengan sepakbolanya, yakni Inter Milan dan AC Milan.

Ketika Penanegeri.com berada di “negeri Spaghetti”, Minggu (28/10) lalu, sepanjang jalan yang dilewati di kawasan City Tour Milan, sering melihat dan menemui warga yang beragama Islam hingga perempuan berhijab.

Menurut sejarah, Islam masuk di Italia sejak abad ke 8 di bawah pemerintahan Dinasti Aglabiah dan menjadikan Palermo sebagai ibu kota Arab di pulau itu.

Di negara yang juga berjuluk negeri pizza ini, Islam berkembang pesat dari waktu ke waktu. Bukan hanya populasi muslim yang semakin bertambah, tetapi bukti sejarah Islam yang belum terjamah juga perlahan terkuak.

Pada awal abad ke-11, umat muslim menjadi setengah populasi di kawasan Sicilia dengan bangsa Arab mendominasi utara pulau di sekitar Palermo. Perkembangan Islam dalam sejarah Italia mengalami pasang surut. Namun, di akhir abad ke-20 Islam mengalami perkembangan pesat. Pada tahun 2005 jumlah muslim di Italia diperkirakan antara 960.000 hingga 1.030.000 jiwa. Sehingga membuat media Italia mulai memberi perhatian pada populasi muslim.

Di bawah kepemimpinan muslim, sektor agrikultural maju pesat dan berorientasi ekspor. Seni dan kerajinan berkembang di kota-kota. Palermo sebagai ibu kota kaum Muslim saat itu memiliki 300 ribu penduduk. Jumlah tersebut melebihi jumlah seluruh penduduk di Jerman.

Mereka diharuskan membayar jizyah atau pajak pendapatan dan kharaj atau pajak tanah. Mereka tidak harus membayar zakat. Jizyah dibayarkan sebagai tanda tunduk pada kekuasaan Islam. Sebagai gantinya, penduduk dilindungi dari agresi asing dan internal.

Keberadaan umat muslim saat ini 1,4 persen dari populasi Italia sekaligus menjadi agama kedua setelah agama Katolik. Hanya dalam beberapa tahun saja jumlah pemeluk Islam di Italia meningkat. Sebagian besar dari mereka adalah imigran asal Afrika utara, Albania, Bosnia, Turki, Arab dan dari negara Islam lainnya. Kebanyakan tinggal di pulau Sicilia, Roma, Milan, Turin dan kota-kota besar lainnya.

Masjid di Italia
(Penanegeri/Tri Syahputra) : Moschea di Segrate atau Masjid Ar-Rahman yang belokasi di Milan, Italia, Minggu (28/10).

Bahkan Gelombang imigran muslim pun terus bertambah dan mereka berbaur dengan masyarakat setempat. Masjid tumbuh seirama bertambahnya populasi Muslim. Organisasi Islam bermunculan dengan sekolahnya, dan toko makanan halal mulai banyak berdiri. Jumlah Masjid bertambah dari 16 menjadi 400 buah lebih hanya dalam jangka waktu 16 tahun.

Salah satunya Masjid yang sempat dikunjungi Penanegeri.com di wilayah Milan. Masjid Segrate (Italia : Moschea di Segrate) ini juga dikenal sebagai Masjid Ar-Rahmān atau Masjid Penyayang yang terletak di perbatasan pinggiran Milano Due .

Masjid ini merupakan Masjid pertama dengan kubah dan menara yang akan dibangun di Italia setelah pembongkaran terakhir di Lucera pada tahun 1300 silam. Masjid ini dibuka pada 28 Mei 1988, dan sejak itu menjadi Masjid terpenting di Milan dan menjadikannya Masjid paling penting di Italia setelah Masjid Roma .

Masjid ini juga menjadi “Pusat Muslim untuk Milan dan Lombardy”, yang menerbitkan salah satu majalah Muslim paling penting di Italia, “Il messaggero dell’Islam” (The Messenger of Islam).

Masjid Italia
(Penanegeri/Tri Syahputra) : Bangunan luar Masjid Ar-Rahman sisi Timur, Milan, Italia, Minggu (28/10).

Disela-sela menunggu masuknya waktu shalat Zhuhur pada pukul 13.30 waktu Italia, Penanegeri.com bertemu seorang tour leader asal Indonesia, Andi (43), ia mangaku telah 3 kali membawa tamu dari Indonesia untuk melaksanakan shalat di Masjid Segrate ini yang imam besarnya berasal dari Mesir.

“Di sekitar Masjid ini ada restauran Ristorante Kebab Doner yang sering di jadikan tempat makan siang untuk membawa tamu tour dari Indonesia selama di Milan, ujarnya.

Usai menunaikan shalat Zhuhur, Penanegeri.com sempat bersalaman dengan Al Hilal (40) salah seorang pedagang makanan di areal Masjid setempat. Wajah berjambang khas Maroko dan Timur Tengah dibalut dengan gamis panjang, menjadi ciri khas berpakaian mereka.

“Islam di Milan sekarang tumbuh pesat, sebagian besar menganut ajaran Sunni, tetapi dalam beberapa tahun terakhir pemerintah Milan sempat membatasi dan sulit memeberi izin untuk acara keagamaan yang dilakukan umat muslim di Milan,” ungkap Al Hilal berbicara menggunakan bahasa inggris bercampur arab yang sedikit sulit dipahami.

“Sekarang dan setiap hari kita mulai melakukan pengajian atau belajar membaca Al Quran untuk para mualaf di Milan yang ingin belajar membaca alAl Quran,” terangnya.

Wisata di Italia
(Penanegeri/Tri Syahputra) : Makam (kuburan) umat muslim disisi belakang Masjid Ar-Rahman, Milan, Italia, Minggu (28/10).

Disebelah utara Masjid, sambung Al Hilal, tedapat pemakaman umat muslim Milan, disisi belakang Masjid juga terdapat halaman cukup luas yang digunakan untuk merayakan hari-hari besar keagamaan.

“Seperti shalat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha,” tandasnya sembari berjalan keluar dari Masjid.

Bagi wisatawan Indonesia yang ingin berkunjung ke Masjid Segrate bisa menggunakan pesawat via Kuala Lumpur atau Singapura menuju Malpensa Airport. Berhubung maskapai plat merah indonesia tidak melayani rute Jakarta ke Italia, setelah tiba di Malpensa Airport, selanjutnya bisa menggunakan bus menuju Centrale Milano, dari Centrale Milano mengambil jalur Metro nomor 2 dari dengan tujuan Lambrate Stasiun dan transfer dengan menggunakan bus nomor 965 tujuan segrate. Hanya Berjalan sekitar 600 meter dari stasiun bus segrate, maka akan langsung terlihat menara Masjid Segrate yang menjulang tinggi.

Komentar

Berita Terbaru