oleh

Mengharap Prestasi Atlet Bireuen dengan Dana Minim dan TC Terlambat

(PENANEGERI, Bireuen – Perhelatan olahraga akbar tingkat Aceh, Pekan Olahraga Aceh (Pora) ke-13 Tahun 2018 yang berlangsung, di Kabupaten Aceh Besar hanya menyisakan satu bulan lagi, yakni November depan.

Lalu bagaimana dengan kesiapan 163 atlet Kabupaten Bireuen menuju Pora di Aceh Besar dengan kondisi dana yang sangat minim serta traning center (TC) yang terlambat dan tidak sesuai dengan harapan.

Berbicara dana olahraga, kondisi Bireuen saat ini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Selain tak ada program pembinaan yang matang dari KONI setempat, dana pembinaan pun tak banyak bisa bicara, dibandingkan dengan daerah-dearah lain di Aceh.

Kondisi dunia olahraga di Bireuen belum juga banyak berubah. Bila berharap dengan kepengurusan baru KONI saat yang notabene dinakhodai pengusaha hebat di Bireuen, ternyata masih juga jalan ditempat.

Namun segelintir pengurus tetap mengagung -agungkan kehadirannya ketua Umum KONI Bireuen, karena dianggap mampu, apa lagi bila dikait-kaitkan dengan orang nomor satu di Kabupaten Bireuen.

Tapi apa lacur, dana untuk kesiapan TC jalan atlet PORA Bireuen masih saja harus menunggu pencairan dana dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen, dan tak ada yang mampu menanggulangi sementara waktu.

Baca Juga  Atlet Bireuen Targetkan 15 Medali Emas di PORA Aceh Besar

Sejatinya para atlet yang lolos ke ajang Pora itu sudah mulai mempersiapkan diri lebih sejak awal bulan lalu, sebut saja TC jalan, sehingga atlet mampu meraih prestasi di ajang 4 tahun di Aceh itu.

Sementara itu, di Kabupaten Bireuen sendiri hingga saat ini belum terlihat tanda-tanda adanya gebrakan pemusatan latihan bagi atlet yang dinyatakan telah lolos ke Pora Aceh Besar.

“Insya Allah, Selasa (2/10) ini akan dilakukan pembukaan Pelatda dan kita harpkan dapat dimaklumi, karena belum cairnya dana  APBK untuk uang saku atlet Pelatda yang lolos Pora,” kata Ketua Harian KONI Bireuen, Drs Murdani melalui WhatsAppnya, Sabtu (29/9) sore kemarin.

Menurut Murdani, bila sudah ada pencairan dana TC itu, maka dana TC yang diperuntukan untuk atet dan pelatih sebesar Rp 75 ribu perharinya, selama 25 hari dan ini khusus bagi atlet yang dinyatakan lolos Pora.

Dengan kondisi dana yang sangat memprihatinkan ini, tentu sebuah dilema terhadap dunia olahraga, artinya masih tetap dipandang sebelah mata. Lalu apa yang harus kita banggakan.

Baca Juga  Atlet Bireuen Targetkan 15 Medali Emas di PORA Aceh Besar

Berhasil tidaknya pembinaan olahraga di daerah merupakan tolok ukur peran pengurus KONI Bireuen periode 2018-2022, dalam mengembangkan olahraga di kabupten kedepan.

Tentu ini tanggung jawab besar kepengurusan yang nakhodai Muklis, pengusaha ternama di Bireuen dalam mengembangkan olahraga, pasca dilantik dan dikukuhkan oleh Ketua Umum KONI Aceh, Muzakir Manaf, Selasa (3/7) lalu.

Namun sayanngnya, orang yang menapak di teras utama kepengurusan KONI Bireuen kali ini, sebagian bukan orang-orang yang memiliki jiwa olahraga, tapi lebih ke arah mencari nama, meski mereka tidak mampu sama sekali. Alhasil hanya mampu menunggu arahan.

Tak hanya persoalan dana, belakangan sejumlah Pengcab juga mengeluh dengan kondisi peralatan olahraga yang selama ini digunakan untuk latihan, sebab rata-rata sudah kadaluarsa, bahkan sebagian besar peralatan peninggalan Pora di Aceh Timur serta bantuan Dispora tahun 2016 lalu.

Bila ajang Pora akhir 2018 ini, Kabupaten Bireuen tak mampu mengubah peringkatnya dari ajang yang sama di Pora Aceh Timur 2014 lalu, artinya KONI Bireuen hanya mampu mengurus para pengurusnya, bukan mengurus atlet.

Baca Juga  Atlet Bireuen Targetkan 15 Medali Emas di PORA Aceh Besar

“Seharusnya pengurus teras KONI memiliki komitmen memajukan olahraga, bukan hanya duduk sebagai pelangkap penderitaan atlet setiap tahunnya,” tukas Jhoni pelatih tinju Bireuen.

Komentar

Berita Terbaru