oleh

Meski Jadi Pusat Mode Dunia, Paris Tak Terlepas dari Peradaban Islam

PENANEGERI, Perancis – Paris merupakan salah satu kota yang menjadi impian banyak orang untuk mengunjunginya. Kota yang menjadi pusat mode dunia ini menjadi kiblat para penikmat belanja. Meski demikian, glamornya kehidupan di Paris tidak terlepas dari peradaban Islam.

Saat berada di Kota Paris, Senin (25/6), Penanegeri.com berkesempatan mengunjungi Masjid Raya Paris atau Grande Mosquée de Paris, sebuah Masjid terbesar di eropa yang terletak di Arondisemen V. Masjid ini didirikan setelah Perang Dunia I sebagai tanda terima kasih Perancis kepada umat Muslim yang turut berperang melawan pasukan Jerman. Masjid ini dibangun mengikuti gaya Spanyol dan Maroko yang memiliki menara setinggi 33 meter.

Masjid ini diresmikan oleh Presiden Gaston Doumergue pada tanggal 15 Juli tahun 1926 silam. Ahmad al-Alawi menjadi Imam shalat pertama dalam peresmian Masjid. Kini, Masjid Raya Paris ini dipimpin oleh Mufti Dalil Boubakeur selaku Presiden Dewan Muslim Perancis yang dibentuk tahun 2002 lalu.

Masjid Paris ini tak hanya cantik dan menawan, namun juga terasa teduh ketika memasukinya. Kumandang Azan terdengar meskipun hanya menggema di dalam area Masjid namun panggilan shalat itu bisa membuat kalbu terharu saat berada di negeri orang. Masjid ini, merupakan Masjid terbesar di negara ini, namun bukan yang tertua di Perancis.

Berkat seorang jurnalis Perancis yaitu Paul Boudaire, yang bekerja di surat kabar yang banyak menyinggung masalah penjajahan negara Perancis terhadap negara jajahannya. Paul mengusulkan untuk membangun sebuah Masjid yang layak bagi kaum muslimin. Sehingga Paul Boudaire dianggap sebagai Bapak dari proyek berdirinya Masjid Paris yang hingga kini berdiri dengan kokoh.

Paul Boudaire justru bukan pemeluk Islam. Ia dengan antusias mengusulkan dan mendorong agar proyek pendirian Masjid Paris ini terlaksana. Pada masa Perang Dunia I, banyak penduduk di negara jajahan Perancis seperti Maroko, Aljazair dan negara Afrika Utara lainnya yg merelakan nyawanya justru demi membela negara Perancis.

Maka, usai Perang Dunia I tepatnya tahun 1922, peletakan batu pertama dilakukan di daerah jardin des Plantes, Paris, yang menjadi lokasi berdirinya masjid sebagai penghormatan kepada 70.000 umat Muslim yang dianggap sebagai pahlawan Perancis.

Empat tahun kemudian tepatnya tanggal 16 Juli tahun 1926, rumah ibadah dengan insipirasi dari Masjid El-Qaraouiyyin di Maroko yang merupakan salah satu Masjid tertua di dunia, resmi didirikan. Presiden Perancis Gaston Doumergue dan Sultan Maroko Moulay Youssef meresmikan Masjid terbesar pertama di Paris.

Amatan Penanegeri.com, Grande Mosquée de Paris juga memiliki madrasah, ruang admistrasi, ruang pertemuan hingga perpustakaan.

Di bagian kedua masjid, pilar-pilar berbaris sepanjang lorong dengan lantai keramik dan di tengahnya terdapat teras besar (balkon) terbuka. Di bagian kedua inilah ruang ibadah dengan dekorasi dari berbagai dunia Islam menyatu. Masjid Paris tersebut terlihat bersih dan rapi.

Di areal Masjid Paris ini, tak hanya menjadi tempat ibadah saja, namun juga institut pendidikan. Juga banyak turis yang mengunjungi Masjid ini. Kabarnya, justru tempat ini yang paling menarik turis dan penduduk setempat untuk mendatanginya.

Muffti Dalil Boubakeur selaku Presiden Dewan Muslim Perancis dan pengurus Masjid Raya Paris kepada Penanegeri.com, Senin (25/6) menjelaskan, meskipun Islam menjadi minoritas di Paris, tapi Masjid ini selalu ramai dikunjungi wisatawan non muslim meski sekedar untuk mengabadikan foto di areal Masjid ini.

“Kami, pengurus Masjid juga menyediakan kain untuk menutup aurat, jika ada wisatawan non muslim yang pakaiannya tidak menutup aurat,” terangnya.

Di bagian luar Masjid juga terdapat restoran, suasananya bagaikan di Maroko. Dekorasi hingga jenis makanan yang ditawarkan serasa di Maroko. Bagian depan restoran dipakai untuk salon teh, dan teh mint yang dituangkan ala Maroko. Couscous menjadi pilihan utama.

Rasa dan harga, boleh dibilang cocok dangan Kota Paris. Tapi yang paling menyenangkan di restoran ini justru tempat ngetehnya yang berada di bawah pohon ditemani kue manis ala Maroko.

Salah seorang wisatawan asal Maroko, Ammar Ahmed (34) usai melakukan shalat Ashar kepada Penanegeri.com, Senin (25/6) di Masjid Raya Paris menuturkan, sangat senang berada di Grande Mosquée de Paris karena suasananya asri dan sejuk.

“Di bagian utama Masjid tepat di tengahnya terdapat taman dengan bunga yang cantik dan pohon palem. Dan terlihat air mancur yang mengalir kebeberapa penjuru di tamannya,” tuturnya mengagumi.

Bagi wisatwan asal Indonesia yang ingin berkunjung ke Masjid terbesar di Paris ini bisa langsung terbang dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Banyak maskapai international yang melayani rute penerbangan Jakarta – Paris, salah satunya Air France.

Setibanya di Airport Charles de Gaulle bisa menggunakan metro RER B (sejenis KRL) line 7 (jalur 7) dan berhenti di Palace Morge. Setelah turun dari metro, wisatawan melanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 350 meter melalui exit nomor 1 menuju Boulevard De Hospital. Sambil berjalaan, terlihat menara Masjid Raya Paris setinggi 33 meter dan tembok putih mengelilingi seluruh area Masjid.

Komentar

Berita Terbaru