oleh

Militer Filipina Serang Kelompok Maute yang terkait ISIS, Ribuan Orang Mengungsi 

PENANEGERI, Internasional- Lebih dari 2.000 keluarga mengungsi dari kota-kota di dekat Marawi yang terkena dampak pertempuran terbaru antara militer Filipina melawan para milisi Maute di Lanao del Sur, Filipina.

Lebih dari 11.000 orang penduduk dari provinsi Lanao del Sur di Filipina selatan terpaksa meninggalkan rumah mereka menyusul pertempuran baru antara militer dan kelompok bersenjata Maute yang terkait ISIL/ISIS.

Lembaga penanggulangan bencana provinsi dikutip kantor berita Aljazeera pada hari Rabu (20/6) mengatakan bahwa 2.234 keluarga telah terkena dampak di tujuh kota di selatan kota Marawi, yang diduduki oleh milisi kelompok Maute dan Abu Sayyaf selama lima bulan pada tahun 2017.

Setidaknya lima petempur milisi tewas sejak kekerasan terakhir meletus pada hari Minggu, ketika pasukan pemerintah melancarkan operasi di daerah yang diyakini sebagai tempat perlindungan pemimpin baru kelompok itu, Abu Dar.

Abu Dar dan puluhan pejuang Maute, diyakini terlibat dalam pengepungan Marawi tahun lalu, telah melarikan diri dari kota untuk mendirikan sebuah kamp baru di kota tetangga Tubaran.

Baca Juga  Kelompok Bersenjata BIFF Duduki Sekolah di Pigcawayan, Mindanao

Kamp itu dilaporkan telah direbut dan dikuasai oleh pasukan pemerintah Filipina, menurut pernyataan militer pada hari Rabu (20/6).

Abu Dar diyakini menjadi mantan letnan dari komandan tertinggi Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon, yang dilaporkan telah tewas pada bulan Oktober 2017 di Marawi.

Kelompok bersenjata Maute adalah sekelompok milisi petempur yang didirikan sekitar tahun 2012 oleh , Omar dan Abdullah Maute.

Anggota kelompok berasal dari berbagai latar belakang, termasuk mantan anggota Front Pembebasan Islam Moro atau Moro Islamic Liberation Front (MILF).

Dikabarkan, kelompok ini membentuk aliansi dengan Abu Sayyaf dan keduanya terkait ISIL/ISIS, ketika kelompok internasional itu mulai berkembang di Irak dan Suriah pada tahun 2015. Kedua saudara Maute dilaporkan tewas pada tahun 2017 selama pengepungan di Marawi.

Kehadiran Abu Dar di pedalaman Tubaran, di mana ia memiliki banyak kerabat, dikonfirmasi bulan lalu ketika anak buahnya dilaporkan membunuh seorang pemimpin desa yang menolak rencana mereka untuk pergi ke kota.

Para kerabat pemimpin desa memberi tahu militer tentang kehadiran Abu Dar dan membantu pasukan militer memburu para milisi petempur, demikian perwakilan regional Zia Adiong sebelumnya mengatakan kepada kantor berita AP.

Baca Juga  Pria Asal Indonesia Ditangkap di Marawi

Ketika dia melarikan diri dari Marawi, Abu Dar dilaporkan membawa lebih dari sejumlah $ 577.000 uang tunai yang dijarah, dimana pejabat pemerintah mengatakan bisa digunakan untuk perekrutan dan membangun kembali organisasi yang telah terpukul akibat pertempuran lalu.

Pengepungan Marawi, yang dimulai pada 23 Mei tahun lalu, menewaskan lebih dari 1.100 orang, sebagian besar pejuang bersenjata, dan menelantarkan sekitar 600.000 penduduk di kota dan kota-kota tetangga.

Sejak pertempuran berakhir pada bulan Oktober 2017, diperkirakan 70 persen dari penduduk Marawi yang terlantar kembali ke kota, meskipun sebagian besar kota tetap dalam  kondisi kehancuran.

Pertempuran itu mendorong Presiden Rodrigo Duterte untuk mengumumkan darurat militer di seluruh pulau Mindanao hingga akhir 2018.

Serangan militer sporadis berlanjut terhadap kelompok bersenjata di provinsi selatan lainnya. (*)

Komentar

Berita Terbaru