oleh

MPU Atam : Vaksin Bersumber Babi Tetap Haram Menurut Islam

PENANEGERI, Aceh Tamiang – Maraknya informasi obat jenis vaksin bersumber babi beredar di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kebupaten Aceh Tamiang merasa kaget dan kecolongan. Bahkan, lembaga ahli hukum agama Islam ini menyatakan bisa melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di rumah sakit Pemda tersebut.

Baca : Vaksin Mengandung Babi, Keluarga Pasien Mengetahui Setelah 3 Hari di Suntikkan

“Jika obat mengandung babi itu terbukti beredar di rumah sakit, kita bersama BPOM bisa melakukan sidak di tempat itu. Namun sebelumnya tim MPU harus melakukan survey kelapangan untuk lengkapi bukti, baru kemudian meyurati bupati sebagai bentuk teguran baik secara lisan maupun tertulis agar bupati dapat menegur instansi terkait atau bawahannya,” demikian ungkap Ketua MPU Aceh Tamiang, Ustadz Drs H M Ilyas Mustawa melalui Wakil Ketua MPU I Tgk Jailani, MJ, kepada wartawan di ruang kerjanya pekan lalu.

Dijelaskan, pihak MPU juga akan menemui siapa korbannya, dari mana obat tersebut didapat. Kalau ada unsur babi, apa pertimbagannya obat tersebut harus diberikan kepada pasien, sehingga pusat informasinya jelas.

“Jadi informasi dari masyarakat harus kita perjelas dan dapat dibuktikan termasuk informasi kutipan dari berita di media  Setelah itu baru kami menghubungi BPOM untuk mengambil tindakan,” terangnya.

Baca Juga  Seng "Kanopi" MPU Aceh Tamiang Roboh

Menurutnya, belakangan ini tidak hanya obat-obatan ditemukan mengandung unsur babi, makanan dan kosmetik juga ada yang bersumber dari babi. Jika obat itu digunakan untuk kepentingan para medis harus diberitahukan dulu kepada pasien sebelum digunakan karena kalau tidak bisa menyebabkan dosa besar.

“Bila ada obat yang mengandung babi, dokter wajib kasih tahu. Jika ada unsur kesengajaan dia yang bertanggung jawab. Kalau pasien sama sekali tidak tahu tidak dosa. Jika pasien tahu maka hukumnya tetap haram,” terang Jailani.

MPU menyarankan, setiap pengadaan obat di rumah sakit harus di seleksi ketat dan diawasi oleh BPOM karena disetiap rumah sakit berpotensi ada dipasok obat haram tersebut. Disamping itu, untuk setiap rumah sakit pemerintah tidak boleh dipasok oleh non-pemerintah.

Apapun dalilnya tidak boleh umat Islam mengonsumsi obat haram. Karena ada cara lain dan ada obat lain untuk penyakit yang diderita setiap orang. “Biar mati asal dalam keadaan Islam tidak minum obat haram. Seandainya sudah diberi obat mengandung babi tapi nyawanya tidak dapat tertolong maka dia termasuk mati dalam keadaan kafir, karena sudah mengetahui itu haram,” tandasnya.

Masih kata Tgk Jailani, obat-obatan termasuk barang yang harus diawasi dengan ketat peredarannya termasuk di rumah sakit. Setiap ada pelanggaran dan ada temuan yang terbuki, MPU Aceh Tamiang segera membuat surat teguran secara tertulis kepada Bupati untuk diindahkan.

Baca Juga  Seng "Kanopi" MPU Aceh Tamiang Roboh

Kendati demikian, kewenangan MPU hanya sebatas teguran kepada pemerintah tidak ada hak mengeluarkan fatwa. Kedudukan MPU di daerah sebagai mitra kerja forum komunikasi pimpinan daerah  (Forkopimda).

“Fungsi kami untuk mengawasi jalannya roda pemerintahan, termasuk terlibat dalam setiap pembuatan kebijakan daerah baik dalam pembangunan fisik maupun non fisik harus sesuai dengan aturan syariat Islam, berdasarkan bunyi Pasal 5 Qanun Nomor 4/2009,” serunya.

Direktur RSUD Aceh Tamiang, Ibnu Azis yang dihubungi awak media, Sabtu (8/4) tidak membantah adanya vaksin bersumber babi beredar di rumah sakit. Dijelaskan, vaksin (Retoksinase) dari babi tersebut dianggap lebih efektif dari vaksin lain, karena sistem kerja vaksin tersebut lebih mujarab dalam mengobati bintik-bintik hitam pada jantung manusia.

Menurutnya, BPJS juga menyediakan vaksin dari lemak babi teresebut dengan harga  mencapai Rp 1,2 juta.

“Dari segi agama pun dibenarkan. Maka vaksin tersebut masih digunakan sampai saat ini,” sebutnya dengan nada enteng.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Ibnu Azis, juga menyatakan, bahwa vaksin injeksi yang diberi kepada pasien sudah mendapat izin kedokteran dan MUI. Dalihnya, jika kondisinya mendesak dan mendadak untuk keselamatan si pasien harus diberi injeksi tersebut. Karena vaksin babi efeknya lebih bagus dibandingkan vaksin sapi.

Baca Juga  Seng "Kanopi" MPU Aceh Tamiang Roboh

Pihaknya juga mengaku, dokter sudah menjalankan tugas sesuai dengan aturan. Sebelum obat bersumber babi diinjeksikan ke pasien terlebih dulu dikonsultasikan. Kalau pasien setuju baru diberikan.

Sang Direktur RSUD ini juga menantang, jika ada pihak yang mau mempermasalahkan obat babi tersebut dipersilahkan, tanyakan langsung sama dokternya. Dia mengaku juga pernah bertanya langsung kepada dokter spesialis jantung soal obat bersumber babi tersebut, namun hal itu memang dibolehkan dan menjadi tanggungjawab dokter.

Sebelumnya, LSM DPP Gadjah Puteh, pernah mendapat laporan dari mayarakat yang pernah berobat di RSUD Aceh Tamiang. Keluarga pasien mengeluhkan bahwa obat injeksi Lovenox 6000 anti-Xa IU/06ml Enoxaparin sodium yang pernah disuntikan kepada ibunya “Bersumber Babi”.

Pada saat itu, keluarga protes kepada perawat setelah diberitahukan oleh asisten apoteker RSUD Atam kalau obat tersebut mengandung babi dan keluarga pasien menolak untuk disuntik pada saat itu.

Keluarga pasien yakin obat mengandung babi itu masih beredar di RSUD Aceh Tamiang. Sebab, belum lama ini dia kembali membawa ibunya berobat jantung di RSUD, tapi masih diberi obat yang sama.

Komentar

Berita Terbaru