oleh

Pacuan Kuda Tradisional di Gayo Lues Warisan Leluhur

PENANEGERI, Gayo Lues – Bupati Gayo Lues (Galus) H. Muhammad Amru mengungkapkan, pacuan kuda tradisional yang sudah menjadi agenda tahunan di Tiga Kabupaten serumpun di Provinsi Aceh, yakni, Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues, sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda, sehingga pelestariannya wajib dilakukan sampai generasi berikutnya.

“Dengan sejarah yang begitu panjang, maka Pacuan Kuda Tradisional yang merupakan warisan leluhur ini, wajib dijaga dan dilestarikan sampai ke anak cucu maupun generasi berikutnya,” tutur H Amru, saat menutup lomba Pacuan Kuda Tradisional di Stadion Buntul Nege Blangsere, Kecamatan Kutapanjang, Gayo Lues, Minggu (21/10).

Amru juga mengapresiasi pihak panitia penyelenggara yang sudah bekerja keras menyukseskan perlombaan warisan nenek moyang ini,

“Iven pacuan kuda tradisional tahun ini terlaksana dengan baik dan memuaskan,” ucapnya, seraya menambahkan, kegiatan ini diharapkan bisa menjadi pemacu semangat para pecinta kuda untuk memperkokoh jalinan silaturrahmi, keakraban serta keharmonisan sesama pecinta kuda yang ada di Tiga Kabupaten serumpun.

Selain itu, kegiatan ini juga dimaksudkan bisa menarik wisatawan nasional dan mancanegara hadir ke Galus, untuk menyaksikan pacuan kuda tradisional yang memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri.

“Terlebih, kabupaten julukan Negeri Seribu Bukit ini, juga memiliki panorama alam yang indah,” pungkasnya.

Komentar

Berita Terbaru