oleh

Pasca Ditabrak Tersangka Narkoba, BNN RI Belum Ganti Rugi Sepenuhnya Kerusakan RM “Nagana”

PENANEGERI, Aceh Tamiang – Hingga kini, pihak BNN RI (Badan Narkotika Nasional Republik Indoneaia) ternyata belum mengganti rugi sepenuhnya terhadap kerusakan sebuah rumah makan (RM) “Nagana” yang hancur ditabrak mobil tersangka Narkoba jenis sabu-sabu seberat 30 kg yang terjadi pada tanggal 5 November 2017 lalu.

Saat itu, satu unit mobil Honda Jazz BK 1200 GO melaju dengan kecepatan tinggi dikejar oleh Tim BNN RI, kemudian menghantam bagian depan rumah makan Nagana yang berada dipinggir jalan lintas Medan-Banda Aceh, Desa Seunebok Baru, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang. Akibatnya, kondisi rumah makan legendaris yang terkenal dengan menu kari kambingnya itu hancur dibagian depan berikut sejumlah meja, kursi dan Stelingnya.

Dampak dari peristiwa itu turut membuat pemilik usaha rumah makan terpaksa libur panjang tidak bisa berjualan sehingga membuatnya tidak berpenghasilan.

Ditambah lagi rasa trauma psikologis yang dirasakan oleh keluarga korban masih melekat hingga sekarang. Demikian diungkapkan Azhar (45) pemilik RM Nagana kepada Penanegeri.com, Sabtu (18/11).

Baca Juga  Budi Waseso : Dua dari Seratus Pelajar dan Mahasiswa Menyalahgunakan Narkoba

Dijelaskan, pasca kejadian itu BNN RI baru memberi uang kepadanya sejumlah Rp 5 juta. Dan hingga saat ini belum ada ditransfer lagi seperti yang dijanjikan.

“Uang Rp 5 juta itu sebagai santunan untuk memperbaiki rumah saya, tapi jelas tidak sebanding dengan kerusakan yang kami alami,” tambahnya.

Kerusakan RM Nagana
Foto : Anjas/Penanegeri
Kondisi RM Nagana Setelah Diperbaiki

Sebelumnya, kata Azhar, pihak BNN menyatakan, segala kerusakan yang ditimbulkan dari serangkaian penangkapan terhadap jaringan bandar sabu internasional di rumah makan Nagana akan ditang­gung total oleh BNN RI.

“Se­mua barang yang ada di depan hancur. Awalnya semua rincian kerusakan sudah saya serahkan pak datok penghulu (ka­des). BNN juga telah datang kesini menyatakan bahwa, semua kerugian itu akan ditanggung BNN. Setelah saya tunggu-tunggu sampai sekarang belum dibantu juga,” keluhnya.

Menurut Azhar, jika ditotal keru­gian secara materil dari rumah ma­kan yang ditabrak tersebut mencapai Rp 70 juta. Akibat ke­jadian itu, pihaknya terpaksa tidak bisa berjualan selama se­minggu ke depan, sebab, dia harus menempa steling nasi dan memperbaiki warung­nya.

Baca Juga  Budi Waseso : Dua dari Seratus Pelajar dan Mahasiswa Menyalahgunakan Narkoba

Sementara, dana Rp 5 juta yang dibantu oleh BNN sudah dipergunakannya untuk merehap warung dan membeli steling kaca.

“Saya ada sms dengan pihak BNN, namun disarankan untuk berkoordinasi dengan pengacara si penabrak bandar sabu tersebut. Sedangkan saya tidak kenal dengan mereka. Kata orang BNN mereka hanya bisa membantu Rp 5 juta itu saja sebagai santunan atas kerusakan di rumah saya,” ujarnya.

Terkait hal tersebut, Direktur Eksekutif LSM Gadjah Puteh, Sayed Zahirayah Al Mahdaly juga angkat bicara. Pasalnya, dalam pemberitaan disejumlah media massa petugas BNN telah berjanji mau mengganti segala kerugian yang ditim­bulkan dari upaya pengeja­ran dua orang bandar sabu-sabu yang salah satunya berhasil ditangkap oleh BNN.

“Jangan sampai prestasi  BNN diasumsikan sebagai pembohongan publik. Disatu sisi ini prestasi, BNN RI telah menangkap jaringan gembong narkoba, namun dibagian lain ada warga Aceh yang terzolimi dari insiden tersebut,” tandasnya.

Dari penelusuran LSM Gadjah Puteh, sebelumnya tiga petugas BNN telah mendatangi rumah Azhar mengendarai mobil Toyota Harrier B 9863 VTR mengantar sejumlah uang untuk perbaikan sementara. BNN juga meminta nomor rekening korban untuk pengiriman uang selanjutnya setelah BNN kembali ke Jakarta. Setelah di data jumlah kerugian Azhar selaku korban tabrakan tunggal dari bandar sabu yang diburuh BNN mencapai Rp 50 juta.

Baca Juga  Budi Waseso : Dua dari Seratus Pelajar dan Mahasiswa Menyalahgunakan Narkoba

“Dalam konteks ini BNN Pusat harus bersikap arif dan bijaksana dengan menanggung segala kerugian pemilik RM Nagana yang menjadi titik akhir pelarian pelaku bandar sabu tersebut,” kata Sayed Zahirayah yang juga Relawan Anti Narkoba di Aceh sembari menyarankan, seyogiyanya BNN Kota Langsa dapat berkoordinasi dengan BNN RI untuk menanggung segala kerugian pemilik RM Nagana minimal separuh dari kerugian materil yang telah didata.

Sementara itu Kepala BNN Kota Langsa, AKBP Navry yang dikonfirmasi wartawan, Selasa (21/11) mengaku tidak punya kewenangan terkait ganti rugi tersebut.

“Saya tidak berhak menjawab, dan itu urusan korban dengan pihak BNN RI, karena mereka yang membuat janji,” ujar Navry melalui telepon seluler.

Komentar

Berita Terbaru