oleh

PBB: Ada Laporan Kekerasan Seksual ‘Mengerikan’ yang Dialami Rohingya di Myanmar

PENANEGERI, Desk Internasional – Kepala badan migrasi PBB yakni International Organization for Migration’s (IOM) menyatakan “terkejut dan khawatir” tentang adanya laporan kekerasan seksual yang dialami Rohingya saat mendengar laporan itu dari para pengungsi Rohingya yang baru tiba dari Myanmar.

Direktur Jenderal International Organization for Migration’s (IOM), Organisasi Migrasi Internasional, William Lacy Swing pada hari Rabu (27/9) mengatakan hal itu saat dia mendengar pengakuan para pengungsi Rohingya yang lolos dari tindakan militer di Myanmar.

Para pengungsi Rohingya menuduh tentara Myanmar memperkosa perempuan dan anak perempuan.

Pemerintah Myanmar telah membantah tudingan tersebut, namun juga menolak mengizinkan pengamat internasional untuk menyelidikinya.

IOM telah mengkoordinasikan respon tanggap kemanusiaan di tengah tragedi eksodus sekitar 480.000 orang Rohingya yang telah membanjiri kawasan Cox’s Bazar, Bangladesh sejak 25 Agustus 2017.

Sebuah pernyataan IOM pada hari Rabu (27/9) mengatakan bahwa dokter dari lembaga IOM telah merawat puluhan wanita yang menyatakan telah mengalami “kekerasan seksual sejak Agustus 2017, namun mengatakan bahwa jumlah tersebut kemungkinan hanya mewakili” sebagian kecil “dari kasus-kasus yang telah terjadi.

Baca Juga  Jumlah Pengungsi Rohingya makin Bertambah, Sudah Tembus Angka 536.000 Jiwa

Swing dari IOM mengatakan “kekerasan dan pelecehan mengerikan semacam itu tidak dilaporkan” bahkan dalam situasi yang lebih stabil.

“Terutama perempuan dan anak perempuan, tapi juga laki-laki dan anak laki-laki, telah ditargetkan dan berisiko melakukan eksploitasi, kekerasan dan pelecehan lebih lanjut hanya karena jenis kelamin, usia dan status mereka di masyarakat,” kata Swing.

Dalam bahasa Inggris Swing menyatakan bahwa : “IOM is supporting survivors but I cannot emphasize enough that attempting to understand the scale of gender-based violence through known case numbers alone is impossible.”

Bila diterjemahkan adalah :

“IOM membantu korban selamat, tapi saya tidak dapat cukup menekankan bahwa mencoba memahami skala kekerasan berbasis gender melalui angka kasus yang diketahui sendiri, tidak mungkin dilakukan,” ujarnya

Diperkirakan sekitar 160.000 perempuan Rohingya dan gadis-gadis muda telah tiba di Bangladesh pada bulan lalu.

Dua saudara perempuan yang berbicara kepada Kantor Berita Al Jazeera mengatakan bahwa mereka diperkosa oleh tentara Myanmar.

“Militer menyiksa kami,” kata Minara yang berusia 25 tahun, yang hanya memberi satu nama. “Mereka membunuh orang tua kita, membawa kita ke hutan, mendorong kita ke tanah,” paparnya.

Baca Juga  26 April Peringatan Hari Kekayaan Intelektual Dunia

Adiknya Aziza, 22, mengatakan bahwa dia diperkosa oleh dua pria hingga pingsan.

Dua saudara perempuan itu diselamatkan oleh pengungsi lain yang membantu mereka menyeberangi sungai untuk melarikan diri ke wilayah Bangladesh.  (*)

Komentar

Berita Terbaru