oleh

PBB Adakan Imunisasi Kolera untuk Pengungsi Rohingya

PENANEGERI, Kesehatan – Guna mencegah resiko wabah kolera pada para pengungsi Rohingya yang datang selama enam minggu terakhir di Cox’s Bazaar, Bangladesh, maka badan-badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai meluncurkan kampanye imunisasi kolera hari Selasa (10/10).

“Vaksinasi darurat menyelamatkan nyawa. Risiko kolera jelas dan ada, dan (ada) kebutuhan untuk melakukan tindakan yang decisive (pasti), “kata Dr. N Paranietharan, Wakil Organisasi Kesehatan Dunia untuk Bangladesh.

Kampanye yang dipimpin oleh Kementerian Kesehatan dan didukung oleh WHO dan  UNICEF, diadakan di Ukhiya dan Teknaf, di mana lebih dari setengah juta orang Rohingya telah tiba dari Myanmar di seberang perbatasan  sejak Agustus, dimana sejumlah besar pengungsi sudah berada dalam serangkaian permukiman dan kamp.

Sekitar 900.000 dosis vaksin telah dimobilisasi dan dikirim oleh lebih dari 200 tim vaksinasi seluler, sehingga merupakan kampanye vaksinasi imunisasi kolera oral terbesar kedua yang pernah ada, menurut PBB.

“WHO berkomitmen untuk memobilisasi kapasitas teknis dan operasionalnya secara penuh untuk mendukung Kementerian dan mitra kami untuk melindungi, mempromosikan dan menjamin kesehatan populasi yang sangat rentan ini,” tambahnya.

Setelah lebih dari 10.292 kasus diare dilaporkan dan dirawat di seluruh pemukiman dan kamp selama minggu terakhir, WHO memperingatkan adanya potensi wabah kolera.

“Kolera adalah penyakit berbahaya, terutama di kalangan anak-anak yang hidup dalam kondisi sempit dan tidak higienis. Pencegahan sangat penting, ” kata Edouard Beigbeder, Perwakilan UNICEF di Bangladesh.

Petugas Regional Regional Internasional untuk Migran (IOM) untuk Asia dan Pasifik, Patrick Duigan, menyambut baik inisiatif penting tersebut, namun menekankan, “masih ada banyak risiko kesehatan masyarakat yang serius untuk populasi pengungsi ini dan skala besar dari sumber daya dan respon keseluruhan diperlukan untuk mengurangi risiko penyakit yang mengancam jiwa lebih lanjut. ”

Untuk membantu memenuhi kebutuhan air, sanitasi dan kebersihan, UNICEF meningkatkan intervensi dan komunikasi mengenai praktik yang aman, dan memposisikan persediaan medis penting.

Kementerian Kesehatan Bangladesh juga telah mendirikan pusat perawatan diare untuk kesiapsiagaan .

Sedangkan dilaporkan bahwa lebih dari 11.000 pengungsi Rohingya menyeberang melalui jalur darat pada hari Senin (9/10)  ke daerah tenggara Bangladesh melalui beberapa titik, jelas juru bicara Kantor Komisaris Tinggi Pengungsi (UNHCR) Adrian Edwards  kepada wartawan pada hari Selasa (10/10) dalam briefing pers reguler di Jenewa bahwa “UNHCR bekerja dengan pemerintah Bangladesh di sebuah pusat transit untuk masuknya pengungsi potensial dalam beberapa hari mendatang.”

Sumber UNHCR mengatakan bahwa banyak pengungsi baru berasal dari wilayah Buthidaung di negara bagian Rakhine, Myanmar utara. Beberapa orang mengatakan bahwa mereka melarikan diri dari pembakaran dan tindakan kekerasan maut di rumah-rumah kaum Rohingya.

Seorang anak laki-laki Rohinbgya terlihat mengungsi dengan luka besar di lehernya. Para pengungsi Rohingya lainnya mengatakan bahwa mereka merasa takut menghadapi tindak kekerasan yang dialamatkan pada mereka.

Untuk mencapai Bangladesh, para pengungsi Rohingya ini ada yang  berjalan kaki sampai 14 hari.

Banyak yang membawa anak-anak dan keranjang berisi apapun yang bisa mereka kumpulkan dalam waktu singkat.

Mereka nekat mengarungi rawa-rawa sebelum berenang melintasi sungai Naf yang membatasi  negara Myanmar -Bangladesh.

Banyak wanita dan anak-anak tidak bisa berenang dan harus bergantung pada para pengungsi lain yang bisa berenang.

Beberapa pengungsi lainnya nekat menyeberang ke Bangladesh dengan menggunakan kantong plastik yang digelembungkan dan terpal sebagai perangkat pengapungan sementara.

“Pendatang baru sekarang telah dipindahkan dari daerah perbatasan ke dalam kamp dan permukiman yang mapan di daerah Kutupalong dan Balukhali. UNHCR telah membawa truk dengan lembaran plastik dan jerigen untuk air. Kami juga berkoordinasi dengan pemerintah dan mitra untuk menyediakan layanan mendesak – makanan, air dan perawatan kesehatan – kepada para pengungsi baru ini, ” kata  Adrian Edwards dari UNHCR.

Dalam persiapan untuk kedatangan baru para pengungsi Rohingya yang masih terus saja berdatangan, karena melarikan diri dari Myanmar, maka mitra  UNHCR, yakni Refugee Relief and Repatriation Commission (RRRC), akan melakukan kegiatan kesiapsiagaan dengan UNHCR dalam berkoordinasi dengan para mitra, termasuk UNICEF, IOM, WHO dan World Food Program (WFP). (*)

Komentar

Berita Terbaru